alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

Harga Cabai Kian Merosot, Petani Menjerit

WONGSOREJO – Harga cabai rawit hasil panen petani Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, semakin terpuruk pekan ini. Petani menjual cabai hasil panen kepada pengepul dengan harga Rp 5.000 per kilogram (kg).

Sementara itu, harga cabai sebelumnya masih bertengger pada angka Rp 8.000 per kg selama tiga pekan terakhir. Kini, petani cabai rawit Wongsorejo hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.

Hasil pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, tanaman cabai seluas lima hektare mengalami kerusakan di Desa Bangsring. Rusaknya tanaman cabai tersebut diakibatkan intensitas curah hujan yang sangat tinggi. Karena menyerap air terlalu banyak, tanaman cabai menjadi busuk dan mati. ”Harganya turun lagi mulai dua hari yang lalu. Hasil panen cabai rawit juga kurang bagus,” ujar Asmatul, 55, petani cabai asal Desa Bangsring.

Baca Juga :  Menyebar di 14 Kecamatan, Peternak Diimbau Tidak Panik

Selanjutnya, sebagian petani berinisiatif mengganti tanaman cabai yang rusak dengan tanaman jagung. Penggantian tanaman itu terpaksa dilakukan untuk menekan kerugian. Apalagi, lahan yang digunakan merupakan lahan sewa dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Setiap hektare lahan tersebut, petani harus membayar sewa Rp 17 juta per tahun. ”Kalau hasilnya terus-terusan seperti ini, iya rugi. Kalau harganya stabil di kisaran Rp 15.000 masih bisa untung,” ucap Asmatul.

Sementara itu, jagung merupakan alternatif tanaman yang cocok untuk mengganti tanaman cabai di lahan sewaan tersebut. Untuk jagung siap panen dan sudah dipipil bisa di jual dengan harga Rp 5000 per kg. Sedangkan jagung muda bisa dijual kepada pedagang jagung bakar. ”Kalau tanam jagung lebih mudah dan cocok ditanam saat musim penghujan. Harganya juga stabil dan tidak memerlukan banyak pupuk,” tandas Nurwanto, 50, warga Desa Bangsring.

Baca Juga :  Edukasi Petani Tembakau Tentang Cukai

WONGSOREJO – Harga cabai rawit hasil panen petani Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, semakin terpuruk pekan ini. Petani menjual cabai hasil panen kepada pengepul dengan harga Rp 5.000 per kilogram (kg).

Sementara itu, harga cabai sebelumnya masih bertengger pada angka Rp 8.000 per kg selama tiga pekan terakhir. Kini, petani cabai rawit Wongsorejo hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.

Hasil pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, tanaman cabai seluas lima hektare mengalami kerusakan di Desa Bangsring. Rusaknya tanaman cabai tersebut diakibatkan intensitas curah hujan yang sangat tinggi. Karena menyerap air terlalu banyak, tanaman cabai menjadi busuk dan mati. ”Harganya turun lagi mulai dua hari yang lalu. Hasil panen cabai rawit juga kurang bagus,” ujar Asmatul, 55, petani cabai asal Desa Bangsring.

Baca Juga :  Jaran Goyang Bisa untuk Pernikahan

Selanjutnya, sebagian petani berinisiatif mengganti tanaman cabai yang rusak dengan tanaman jagung. Penggantian tanaman itu terpaksa dilakukan untuk menekan kerugian. Apalagi, lahan yang digunakan merupakan lahan sewa dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Setiap hektare lahan tersebut, petani harus membayar sewa Rp 17 juta per tahun. ”Kalau hasilnya terus-terusan seperti ini, iya rugi. Kalau harganya stabil di kisaran Rp 15.000 masih bisa untung,” ucap Asmatul.

Sementara itu, jagung merupakan alternatif tanaman yang cocok untuk mengganti tanaman cabai di lahan sewaan tersebut. Untuk jagung siap panen dan sudah dipipil bisa di jual dengan harga Rp 5000 per kg. Sedangkan jagung muda bisa dijual kepada pedagang jagung bakar. ”Kalau tanam jagung lebih mudah dan cocok ditanam saat musim penghujan. Harganya juga stabil dan tidak memerlukan banyak pupuk,” tandas Nurwanto, 50, warga Desa Bangsring.

Baca Juga :  “Milenial Bersuara”, Ipuk Fiestiandani: Ini Model Musrenbang Anak Muda

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/