alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Agrowisata Tamansuruh Jadi Magnet Baru Pemulihan Ekonomi

GLAGAH – Pengerjaan revitalisasi destinasi wisata Agrowisata Tamansuruh (AWT) terus dikebut. Kini, pembangunan destinasi yang mengusung konsep budaya suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) tersebut telah mencapai 70 persen.

AWT merupakan destinasi seluas 10,5 hektare yang terletak di lereng kaki Gunung Ijen, tepatnya di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah. Destinasi yang menyuguhkan hamparan ragam komoditas pertanian itu, kini ditata lebih menarik dengan dukungan dari pemerintah pusat.

Di lokasi tersebut dibangun jajaran rumah suku Osing yang indah. Berjejer dengan hamparan lahan pertanian, AWT menjadi kental dengan perpaduan nuansa budaya dan pesona alam. Di sana juga dibangun sejumlah fasilitas. Di antaranya area parkir bus, pedestrian, jalan untuk akses kendaraan dan mobil, ticketing kendaraan, ruang tunggu pengemudi, mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP), serta area parkir mobil dan motor.

Selain itu, ada bangunan inti dan kolam, ground water tank, toilet publik, musala, serta tempat pembuangan sampah (TPS), plaza, dan sanggar tari.

Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas kemarin meninjau  pembangunan AWT.  Dia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat yang terus mendukung pengembangan Banyuwangi, termasuk melakukan penataan AWT.

”Semoga destinasi ini bisa menjadi magnet baru untuk memicu pemulihan ekonomi. Selain proses pengerjaannya yang telah menciptakan lapangan kerja, semoga nanti ketika beroperasi bisa menumbuhkan geliat usaha warga di sekitar, yang tentu saja juga membutuhkan tenaga kerja,” kata Ipuk saat meninjau pengerjaan penataan AWT.

Dikatakan Ipuk, AWT sedang dikembangkan menjadi sebuah destinasi yang bisa mendokumentasikan Banyuwangi di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ditampilkan pula perpaduan antara kearifan lokal dan pemanfaatan teknologi di kawasan wisata tersebut.

Secara rutin terjadwal di destinasi ini bakal digelar kegiatan adat dan atraksi budaya. Tanpa menghilangkan identitas aslinya sebagai taman bunga dan etalase komoditas pertanian unggulan Banyuwangi. ”Ini akan menjadi destinasi yang memperlihatkan kekayaan lokal Banyuwangi. Tak hanya menampilkan budaya dan potensi pertanian lokal, AWT juga menawarkan view cantik pegunungan dan Selat Bali. Semoga semuanya lancar dan bisa cepat selesai,” ujar Ipuk.

Di lokasi tersebut, Ipuk berkeliling meninjau langsung pembangunan sejumlah fasilitas. Ipuk memastikan pengerjaannya tetap mengusung kearifan lokal Banyuwangi. Yakni konsep desa wisata (Kampung Osing) yang menampilkan keotentikan budayanya. ”Pengerjaannya sudah mencapai 70 persen. Targetnya selesai pada Agustus mendatang,” kata Ipuk.

Sisa pekerjaan sebesar 30 persen adalah penyelesaian tahap akhir, seperti pembangunan pedestrian, pemasangan dinding rumah Osing, dan penataan lanskap. 

GLAGAH – Pengerjaan revitalisasi destinasi wisata Agrowisata Tamansuruh (AWT) terus dikebut. Kini, pembangunan destinasi yang mengusung konsep budaya suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) tersebut telah mencapai 70 persen.

AWT merupakan destinasi seluas 10,5 hektare yang terletak di lereng kaki Gunung Ijen, tepatnya di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah. Destinasi yang menyuguhkan hamparan ragam komoditas pertanian itu, kini ditata lebih menarik dengan dukungan dari pemerintah pusat.

Di lokasi tersebut dibangun jajaran rumah suku Osing yang indah. Berjejer dengan hamparan lahan pertanian, AWT menjadi kental dengan perpaduan nuansa budaya dan pesona alam. Di sana juga dibangun sejumlah fasilitas. Di antaranya area parkir bus, pedestrian, jalan untuk akses kendaraan dan mobil, ticketing kendaraan, ruang tunggu pengemudi, mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP), serta area parkir mobil dan motor.

Selain itu, ada bangunan inti dan kolam, ground water tank, toilet publik, musala, serta tempat pembuangan sampah (TPS), plaza, dan sanggar tari.

Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas kemarin meninjau  pembangunan AWT.  Dia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat yang terus mendukung pengembangan Banyuwangi, termasuk melakukan penataan AWT.

”Semoga destinasi ini bisa menjadi magnet baru untuk memicu pemulihan ekonomi. Selain proses pengerjaannya yang telah menciptakan lapangan kerja, semoga nanti ketika beroperasi bisa menumbuhkan geliat usaha warga di sekitar, yang tentu saja juga membutuhkan tenaga kerja,” kata Ipuk saat meninjau pengerjaan penataan AWT.

Dikatakan Ipuk, AWT sedang dikembangkan menjadi sebuah destinasi yang bisa mendokumentasikan Banyuwangi di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ditampilkan pula perpaduan antara kearifan lokal dan pemanfaatan teknologi di kawasan wisata tersebut.

Secara rutin terjadwal di destinasi ini bakal digelar kegiatan adat dan atraksi budaya. Tanpa menghilangkan identitas aslinya sebagai taman bunga dan etalase komoditas pertanian unggulan Banyuwangi. ”Ini akan menjadi destinasi yang memperlihatkan kekayaan lokal Banyuwangi. Tak hanya menampilkan budaya dan potensi pertanian lokal, AWT juga menawarkan view cantik pegunungan dan Selat Bali. Semoga semuanya lancar dan bisa cepat selesai,” ujar Ipuk.

Di lokasi tersebut, Ipuk berkeliling meninjau langsung pembangunan sejumlah fasilitas. Ipuk memastikan pengerjaannya tetap mengusung kearifan lokal Banyuwangi. Yakni konsep desa wisata (Kampung Osing) yang menampilkan keotentikan budayanya. ”Pengerjaannya sudah mencapai 70 persen. Targetnya selesai pada Agustus mendatang,” kata Ipuk.

Sisa pekerjaan sebesar 30 persen adalah penyelesaian tahap akhir, seperti pembangunan pedestrian, pemasangan dinding rumah Osing, dan penataan lanskap. 

Artikel Terkait

Most Read

Beda Nasib Wanita

Hujan Meramaikan Awal Tahun 2021

Artikel Terbaru

/