alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Punya Prospek Cerah, Banyuwangi Kembangkan Buah Naga Organik

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi mendorong pengembangan buah naga organik karena permintaan produk-produk organik yang terus membesar.  “Saat ini kian banyak masyarakat yang ingin mengonsumsi produk sehat dan bebas residu berbahaya. Jumlah peminatnya terus membesar, bahkan nantinya bisa menyalip permintaan komoditas biasa yang non-organik. Kami juga menyiapkan outlet khusus produk organik di Bandara Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat panen raya buah naga organik dari Kelompok Tani Pucangsari di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu Banyuwangi, Rabu (20/12).

Anas mengatakan, Pemkab Banyuwangi memfasilitasi sekolah lapang kepada para petani buah untuk menjalankan praktik agrikultur yang baik atau good agricultural practices (SL-GAP) dan good handling practices (SL-GHP). Dengan penanganan yang baik, buah naga organik bisa terjaga kualitasnya dengan rasa buah lebih manis dan tekstur lebih renyah.

“Nilai ekonomisnya pastinya lebih tinggi dari yang tidak organik. Selisihnya bisa Rp 4.000-Rp 5.000 di tiap kilogramnya, tentu lebih mahal yang non-organik,” kata Anas yang mencicipi langsung buah naga yang baru saja dipanen.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan mengatakan, luas panen buah naga di Banyuwangi 2.283 hektare dengan produktivitas 255 Kw/Ha atau menghasilkan produksi 117.709 ton. Sementara potensi produksi buah naga di Kecamatan Sempu mencapai 978 ton dengan luas panen 67 Ha.  Sementara jangkauan pemasaran buah naga produksi Kelompok Tani Pucangsari selain pasar lokal juga mampu ekspor ke Singapura dengan volume pengiriman 4 ton/bulan. Di pasar nasional, seperti Jakarta volume pengiriman 40 ton/bulan; Malang volume pengiriman 16 ton/bulan; Bogor volume pengiriman 8 ton/bulan; Bali volume pengiriman 8 ton/bulan dan Blitar volume pengiriman 8 ton/bulan. “Banyuwangi adalah sentra buah naga nasional,” kata dia.

Arief menambahkan, untuk pengembangan buah naga organik, saat ini Kelompok Tani Pucangsari telah mendapatkan sertifikat organik PRIMA yang menjamin mutu dan kemanan pangan. “Banyuwangi juga mempunyai sejumlah komoditas organik yang telah tersertifikasi, terutama beras merah organik yang bahkan juga telah diekspor,” paparnya.

Ketua Kelompok Tani Pucangsari yang menggarap buah naga organik, Rukiyan, mengatakan, sejak awal penanaman pihaknya menerapkan cara yang memenuhi standar organik. “Dengan cara ini buah yang dihasilkan lebih tahan lama sampai 25 hari, sedangkan kalau non organik 7-10 hari sudah rusak,” ujar Rukiyan.

Rukiyan mengatakan, dalam satu musim, dengan luas lahan 40 hektar, hasil panen buah naga organik kelompoknya sebanyak 1.600 ton dengan nlai ekonomis yang lebih tinggi. Kelompok Tani Pucangsari juga menggarap aspek hilir dengan mengembangkan produk olahan, seperti makanan ringan berbagan buah naga, keripik singkong, dan aneka minuman instan rempah. “Dengan modal Rp 40 juta juta, kami bisa memperoleh Rp 560 juta setiap musimnya sekitar sembilan bulan,” ujarnya.

Rukiyan mengaku permintaan buah naga organik cukup tinggi, bahkan dia belum bisa memenuhi semuanya. “Kami mengirim buah naga organik ke berbagai kota dan luar negeri. Di antaranya ke Jakarta 40 ton per bulan, Malang 16 ton per bulan, Bali dan Bogor masing-masing 8 ton per bulan, ekspor ke Singapura 4 ton per bulan. Kami juga pasok jeruk dan jambu kristal organik,” tutur Rukiyan. (*)

POTENSI BUAH NAGA BANYUWANGI
Luas Panen     : 2.283 Ha
Produktivitas    : 255 Kw/Ha
Produksi    : 117.709 ton

POTENSI BUAH NAGA DI SEMPU
Luas Panen    : 67 Ha
Produktivitas    : 255Kw/Ha
Produksi    : 978 ton

JANGKAUAN PEMASARAN BUAH BAGA
KELOMPOK TANI PUCANGSARI:
Jakarta         : volume pengiriman 40 ton/bulan
Malang         : volume pengiriman 16 ton/bulan
Bogor         : volume pengiriman 8 ton/bulan
Bali         : volume pengiriman 8 ton/bulan
Blitar         : volume pengiriman 8 ton/bulan
Singapura     : volume pengiriman 4 ton/bulan

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi mendorong pengembangan buah naga organik karena permintaan produk-produk organik yang terus membesar.  “Saat ini kian banyak masyarakat yang ingin mengonsumsi produk sehat dan bebas residu berbahaya. Jumlah peminatnya terus membesar, bahkan nantinya bisa menyalip permintaan komoditas biasa yang non-organik. Kami juga menyiapkan outlet khusus produk organik di Bandara Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat panen raya buah naga organik dari Kelompok Tani Pucangsari di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu Banyuwangi, Rabu (20/12).

Anas mengatakan, Pemkab Banyuwangi memfasilitasi sekolah lapang kepada para petani buah untuk menjalankan praktik agrikultur yang baik atau good agricultural practices (SL-GAP) dan good handling practices (SL-GHP). Dengan penanganan yang baik, buah naga organik bisa terjaga kualitasnya dengan rasa buah lebih manis dan tekstur lebih renyah.

“Nilai ekonomisnya pastinya lebih tinggi dari yang tidak organik. Selisihnya bisa Rp 4.000-Rp 5.000 di tiap kilogramnya, tentu lebih mahal yang non-organik,” kata Anas yang mencicipi langsung buah naga yang baru saja dipanen.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan mengatakan, luas panen buah naga di Banyuwangi 2.283 hektare dengan produktivitas 255 Kw/Ha atau menghasilkan produksi 117.709 ton. Sementara potensi produksi buah naga di Kecamatan Sempu mencapai 978 ton dengan luas panen 67 Ha.  Sementara jangkauan pemasaran buah naga produksi Kelompok Tani Pucangsari selain pasar lokal juga mampu ekspor ke Singapura dengan volume pengiriman 4 ton/bulan. Di pasar nasional, seperti Jakarta volume pengiriman 40 ton/bulan; Malang volume pengiriman 16 ton/bulan; Bogor volume pengiriman 8 ton/bulan; Bali volume pengiriman 8 ton/bulan dan Blitar volume pengiriman 8 ton/bulan. “Banyuwangi adalah sentra buah naga nasional,” kata dia.

Arief menambahkan, untuk pengembangan buah naga organik, saat ini Kelompok Tani Pucangsari telah mendapatkan sertifikat organik PRIMA yang menjamin mutu dan kemanan pangan. “Banyuwangi juga mempunyai sejumlah komoditas organik yang telah tersertifikasi, terutama beras merah organik yang bahkan juga telah diekspor,” paparnya.

Ketua Kelompok Tani Pucangsari yang menggarap buah naga organik, Rukiyan, mengatakan, sejak awal penanaman pihaknya menerapkan cara yang memenuhi standar organik. “Dengan cara ini buah yang dihasilkan lebih tahan lama sampai 25 hari, sedangkan kalau non organik 7-10 hari sudah rusak,” ujar Rukiyan.

Rukiyan mengatakan, dalam satu musim, dengan luas lahan 40 hektar, hasil panen buah naga organik kelompoknya sebanyak 1.600 ton dengan nlai ekonomis yang lebih tinggi. Kelompok Tani Pucangsari juga menggarap aspek hilir dengan mengembangkan produk olahan, seperti makanan ringan berbagan buah naga, keripik singkong, dan aneka minuman instan rempah. “Dengan modal Rp 40 juta juta, kami bisa memperoleh Rp 560 juta setiap musimnya sekitar sembilan bulan,” ujarnya.

Rukiyan mengaku permintaan buah naga organik cukup tinggi, bahkan dia belum bisa memenuhi semuanya. “Kami mengirim buah naga organik ke berbagai kota dan luar negeri. Di antaranya ke Jakarta 40 ton per bulan, Malang 16 ton per bulan, Bali dan Bogor masing-masing 8 ton per bulan, ekspor ke Singapura 4 ton per bulan. Kami juga pasok jeruk dan jambu kristal organik,” tutur Rukiyan. (*)

POTENSI BUAH NAGA BANYUWANGI
Luas Panen     : 2.283 Ha
Produktivitas    : 255 Kw/Ha
Produksi    : 117.709 ton

POTENSI BUAH NAGA DI SEMPU
Luas Panen    : 67 Ha
Produktivitas    : 255Kw/Ha
Produksi    : 978 ton

JANGKAUAN PEMASARAN BUAH BAGA
KELOMPOK TANI PUCANGSARI:
Jakarta         : volume pengiriman 40 ton/bulan
Malang         : volume pengiriman 16 ton/bulan
Bogor         : volume pengiriman 8 ton/bulan
Bali         : volume pengiriman 8 ton/bulan
Blitar         : volume pengiriman 8 ton/bulan
Singapura     : volume pengiriman 4 ton/bulan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/