alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Diproyeksi Jadi Sentra Bawang Putih

LICIN– Banyuwangi diproyeksi menjadi sentra tanaman bawang putih. Saat ini telah ditanam bawang putih di lahan seluas 116 hektare di wilayah Desa Tamansari, Kecamatan Licin.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI Spudnik Sujono Kamino kemarin (22/2) mengunjungi lokasi tanaman bawang putih lereng gunung Ijen. ”Banyuwangi bisa menjadi sentra baru bawang putih. Kita harapkan ke depan, lahannya bisa tambah luas karena potensi pengembangannya juga masih besar,” kata Spudnik Sujono Kamino.

Spudnik senang karena di Banyuwangi berhasil dikembangkan bawang putih yang skala lahannya cukup luas. Apalagi, bawang putih yang ditanam di Banyuwangi memiliki produktivitas yang tinggi, mencapai 15 ton per hektare. Dalam setahun, diperkirakan akan menghasilkan 4.000 ton bawang putih basah.”Saya optimistis bawang putih cocok di sini dan tumbuh baik. Pengembangan ini didampingi Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah,” ujarnya.

Baca Juga :  Pesanan Kaca Ukir Menurun

Pemerintah, lanjut Spudnik, kini sedang membangkitkan kembali kejayaan produksi bawang putih di Indonesia yang sempat hilang sejak dibukanya keran impor pada 1990. Selama ini mayoritas kebutuhan bawang putih dalam negeri masih dipenuhi melalui impor, seperti dari Tiongkok, Thailand, dan Mesir.

Indonesia baru memproduksi bawang putih sebanyak 20 ribu ton per tahun. ”Pemerintah berupaya untuk meningkatkan produksi lokal. Sekarang, Banyuwangi digarap dan rupanya sukses, kayak mimpi saja. Semakin banyak sentra yang dikembangkan, kita bertahap mengurangi ketergantungan impor,” kata Spudnik.

Jenis bawang putih yang ditanam di Banyuwangi merupakan jenis lokal lumbu hijau dan lumbu kuning dengan kualitas lebih baik daripada impor. Meskipun ukurannya lebih kecil, rasanya lebih tajam.

Baca Juga :  Nasabah Tulungagung Bawa Pulang Grand Prize Simpeda Rp 500 Juta

Bawang putih di Banyuwangi mulai dikembangkan pada November 2017 lalu, bermitra dengan perusahaan swasta. ”Panen perdana 4 Maret mendatang. Nantinya hasil produksi akan dipilah, ada yang dijadikan bibit dan ada yang didistribusikan ke berbagai daerah,” timpal Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan.

Pemerintah daerah selama ini aktif mendampingi kelompok tani yang bekerja mengolah lahan bawang putih. Menurut Arief, Banyuwangi mendapatkan beberapa keuntungan dengan dibukanya pertanian bawang putih. Salah satunya penyerapan tenaga kerja. ”Tenaga kerja rutin yang diserap 900-1.000 orang. Jadi ini sangat padat karya sesuai kebijakan Presiden Jokowi,” jelas Arief.

Arief menambahkan, pihaknya dalam proses menyiapkan lahan bawang putih untuk dikelola rakyat. ”Sedang kami siapkan 25 hektare pertanian bawang putih yang akan dikelola rakyat dengan pendampingan dari kami tentunya,” pungkasnya. (fre/afi/c1)

 

LICIN– Banyuwangi diproyeksi menjadi sentra tanaman bawang putih. Saat ini telah ditanam bawang putih di lahan seluas 116 hektare di wilayah Desa Tamansari, Kecamatan Licin.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI Spudnik Sujono Kamino kemarin (22/2) mengunjungi lokasi tanaman bawang putih lereng gunung Ijen. ”Banyuwangi bisa menjadi sentra baru bawang putih. Kita harapkan ke depan, lahannya bisa tambah luas karena potensi pengembangannya juga masih besar,” kata Spudnik Sujono Kamino.

Spudnik senang karena di Banyuwangi berhasil dikembangkan bawang putih yang skala lahannya cukup luas. Apalagi, bawang putih yang ditanam di Banyuwangi memiliki produktivitas yang tinggi, mencapai 15 ton per hektare. Dalam setahun, diperkirakan akan menghasilkan 4.000 ton bawang putih basah.”Saya optimistis bawang putih cocok di sini dan tumbuh baik. Pengembangan ini didampingi Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah,” ujarnya.

Baca Juga :  Laris Textile Sediakan Kain Jilbab, Model Up to Date

Pemerintah, lanjut Spudnik, kini sedang membangkitkan kembali kejayaan produksi bawang putih di Indonesia yang sempat hilang sejak dibukanya keran impor pada 1990. Selama ini mayoritas kebutuhan bawang putih dalam negeri masih dipenuhi melalui impor, seperti dari Tiongkok, Thailand, dan Mesir.

Indonesia baru memproduksi bawang putih sebanyak 20 ribu ton per tahun. ”Pemerintah berupaya untuk meningkatkan produksi lokal. Sekarang, Banyuwangi digarap dan rupanya sukses, kayak mimpi saja. Semakin banyak sentra yang dikembangkan, kita bertahap mengurangi ketergantungan impor,” kata Spudnik.

Jenis bawang putih yang ditanam di Banyuwangi merupakan jenis lokal lumbu hijau dan lumbu kuning dengan kualitas lebih baik daripada impor. Meskipun ukurannya lebih kecil, rasanya lebih tajam.

Baca Juga :  Terpilih Presidium KAHMI, dokter Agung Tekankan 3 Pilar Program

Bawang putih di Banyuwangi mulai dikembangkan pada November 2017 lalu, bermitra dengan perusahaan swasta. ”Panen perdana 4 Maret mendatang. Nantinya hasil produksi akan dipilah, ada yang dijadikan bibit dan ada yang didistribusikan ke berbagai daerah,” timpal Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan.

Pemerintah daerah selama ini aktif mendampingi kelompok tani yang bekerja mengolah lahan bawang putih. Menurut Arief, Banyuwangi mendapatkan beberapa keuntungan dengan dibukanya pertanian bawang putih. Salah satunya penyerapan tenaga kerja. ”Tenaga kerja rutin yang diserap 900-1.000 orang. Jadi ini sangat padat karya sesuai kebijakan Presiden Jokowi,” jelas Arief.

Arief menambahkan, pihaknya dalam proses menyiapkan lahan bawang putih untuk dikelola rakyat. ”Sedang kami siapkan 25 hektare pertanian bawang putih yang akan dikelola rakyat dengan pendampingan dari kami tentunya,” pungkasnya. (fre/afi/c1)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/