alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Tuesday, August 9, 2022

Ijen Coffee Market, Dorong Peningkatan Ekspor Kopi Banyuwangi

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Produsen kopi Banyuwangi terus didorong agar bisa merambah pasar ekspor. Para petani kopi di daerah ujung timur Pulau Jawa ini difasilitasi bertemu langsung dengan pembeli mancanegara melalui Business Meeting ”Ijen Coffee Market 2022”. Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga.

Ijen Coffee Market merupakan kolaborasi lintas kementerian. Terdiri dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Koordinator Perekonomian, Kemendes PDTT, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian BPN/Bapennas, serta National Support for Local Investment Climate/National Support for Enhancing Local and Regional Economic Development (NSLIC/NSELRED).

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berterima kasih kepada semua pihak karena telah menjadikan Banyuwangi sebagai tuan rumah Ijen Coffee Market. Menurutnya, kopi tidak hanya bercerita tentang ekonomi, tapi di dalamnya juga ada kreativitas. Banyak pelaku ekonomi kreatif yang menjadikan kopi sebagai bahan dasarnya. ”Itulah yang membuat Banyuwangi selama ini juga concern terhadap kopi. Banyuwangi mengembangkan komoditas kopi mulai on farm hingga off farm. Alhamdulillah, selalu ada peningkatan,” kata Ipuk, saat pembukaan Bussines Meeting Ijen Coffee Market, Rabu (20/7).

Baca Juga :  Dunlop Shop Ali Ban Resmi Dibuka di Banyuwangi

Banyuwangi juga merupakan salah satu produsen kopi terbesar di Jawa Timur, tidak hanya kopi hasil perkebunan namun juga kopi rakyatnya. Selain itu, kopi Banyuwangi jenis robusta maupun arabika juga telah dikenal memiliki kualitas yang baik.

Luasan lahan kopi di Banyuwangi mencapai 15.141 hektare dengan panen kopi mencapai 16.000 ton. Ipuk mengatakan, sangat tepat apabila pemerintah saat ini mendorong peningkatan ekspor kopi. ”Saat ini banyak permintaan dari berbagai negara terhadap kopi. Bahkan, di luar negeri harga kopi sangat mahal karena pengaruh perubahan iklim, sehingga kopi sangat menjanjikan menjadi komoditas ekspor,” kata Ipuk.

Saat ini, imbuh Ipuk, beberapa negara produsen utama kopi dunia seperti Brazil dan Kolombia menghadapi tantangan karena perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang melanda negara-negara tersebut. Akibat dari cuaca ekstrem tahun lalu, negara-negara ini kehilangan lahan perkebunan kopi dan perlu waktu pemulihan. Harga kopi dunia pun merangkak naik. ”Maka, ini peluang besar bagi petani dan UMKM kopi untuk membuat jalur pemasaran digital langsung ke berbagai negara,” tambah Ipuk.

Baca Juga :  Digitalisasi Dalam Kerangka ESG Dukung Bisnis Mikro BRI Tumbuh & Sustain

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, program ini merupakan komitmen untuk  membantu produk lokal berkolaborasi dengan Kanada, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah, untuk meningkatkan ekspor kopi. ”Kopi merupakan salah satu komoditas penting ekspor. Karena itu dengan business meeting ini bisa mempermudah dan memberikan benefit yang real pada petani dan pelaku UMKM kopi,” kata Jerry.

Jerry mengatakan ekspor nonmigas Indonesia, termasuk di dalamnya kopi, mulai Januari hingga Juni 2022, mencapai 24,56 miliar USD. ”Jadi, tidak benar kalau Indonesia nilai ekspornya kecil,” jelasnya.

Jerry menegaskan, dalam Ijen Coffee Market ini, petani dan pelaku UMKM kopi didorong untuk tidak hanya mengekspor kopi mentah, tetapi juga produk olahan kopi sehingga menambah nilai ekonomi.

Lebih jauh Jerry juga mengapresiasi langkah-langkah Banyuwangi dalam meningkatkan UMKM. Ijen Coffee Market ini juga melibatkan petani dan pelaku UMKM kopi sekitar kawasan Ijen, seperti Bondowoso dan Situbondo. ”Saya mengapresiasi program-program Banyuwangi, seperti UMKM Naik Kelas, digitalisasi pelaku UMKM, serta ongkos kirim gratis,” tandas Jerry. (ddy/afi/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Produsen kopi Banyuwangi terus didorong agar bisa merambah pasar ekspor. Para petani kopi di daerah ujung timur Pulau Jawa ini difasilitasi bertemu langsung dengan pembeli mancanegara melalui Business Meeting ”Ijen Coffee Market 2022”. Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga.

Ijen Coffee Market merupakan kolaborasi lintas kementerian. Terdiri dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Koordinator Perekonomian, Kemendes PDTT, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian BPN/Bapennas, serta National Support for Local Investment Climate/National Support for Enhancing Local and Regional Economic Development (NSLIC/NSELRED).

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berterima kasih kepada semua pihak karena telah menjadikan Banyuwangi sebagai tuan rumah Ijen Coffee Market. Menurutnya, kopi tidak hanya bercerita tentang ekonomi, tapi di dalamnya juga ada kreativitas. Banyak pelaku ekonomi kreatif yang menjadikan kopi sebagai bahan dasarnya. ”Itulah yang membuat Banyuwangi selama ini juga concern terhadap kopi. Banyuwangi mengembangkan komoditas kopi mulai on farm hingga off farm. Alhamdulillah, selalu ada peningkatan,” kata Ipuk, saat pembukaan Bussines Meeting Ijen Coffee Market, Rabu (20/7).

Baca Juga :  Vaksinasi Gotong Royong untuk Memenuhi Permintaan Masyarakat

Banyuwangi juga merupakan salah satu produsen kopi terbesar di Jawa Timur, tidak hanya kopi hasil perkebunan namun juga kopi rakyatnya. Selain itu, kopi Banyuwangi jenis robusta maupun arabika juga telah dikenal memiliki kualitas yang baik.

Luasan lahan kopi di Banyuwangi mencapai 15.141 hektare dengan panen kopi mencapai 16.000 ton. Ipuk mengatakan, sangat tepat apabila pemerintah saat ini mendorong peningkatan ekspor kopi. ”Saat ini banyak permintaan dari berbagai negara terhadap kopi. Bahkan, di luar negeri harga kopi sangat mahal karena pengaruh perubahan iklim, sehingga kopi sangat menjanjikan menjadi komoditas ekspor,” kata Ipuk.

Saat ini, imbuh Ipuk, beberapa negara produsen utama kopi dunia seperti Brazil dan Kolombia menghadapi tantangan karena perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang melanda negara-negara tersebut. Akibat dari cuaca ekstrem tahun lalu, negara-negara ini kehilangan lahan perkebunan kopi dan perlu waktu pemulihan. Harga kopi dunia pun merangkak naik. ”Maka, ini peluang besar bagi petani dan UMKM kopi untuk membuat jalur pemasaran digital langsung ke berbagai negara,” tambah Ipuk.

Baca Juga :  Dari Klobot, Cengkih, Kopi Tubruk, Peci, dan Hasrat Merdeka

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, program ini merupakan komitmen untuk  membantu produk lokal berkolaborasi dengan Kanada, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah, untuk meningkatkan ekspor kopi. ”Kopi merupakan salah satu komoditas penting ekspor. Karena itu dengan business meeting ini bisa mempermudah dan memberikan benefit yang real pada petani dan pelaku UMKM kopi,” kata Jerry.

Jerry mengatakan ekspor nonmigas Indonesia, termasuk di dalamnya kopi, mulai Januari hingga Juni 2022, mencapai 24,56 miliar USD. ”Jadi, tidak benar kalau Indonesia nilai ekspornya kecil,” jelasnya.

Jerry menegaskan, dalam Ijen Coffee Market ini, petani dan pelaku UMKM kopi didorong untuk tidak hanya mengekspor kopi mentah, tetapi juga produk olahan kopi sehingga menambah nilai ekonomi.

Lebih jauh Jerry juga mengapresiasi langkah-langkah Banyuwangi dalam meningkatkan UMKM. Ijen Coffee Market ini juga melibatkan petani dan pelaku UMKM kopi sekitar kawasan Ijen, seperti Bondowoso dan Situbondo. ”Saya mengapresiasi program-program Banyuwangi, seperti UMKM Naik Kelas, digitalisasi pelaku UMKM, serta ongkos kirim gratis,” tandas Jerry. (ddy/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/