alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

Jamin Perlindungan Terbaik untuk Keluarga Anda

Sakit bisa terjadi kapan saja, tidak memandang usia dan status sosial seseorang. Untuk itulah, memberikan perlindungan terbaik untuk keluarga mulai dari menjaga kesehatan hingga antisipasi saat sakit itu datang, wajib dipikirkan sedini mungkin. Sebagai penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat terus berupaya memberikan jaminan kesehatan yang berkualitas tanpa diskriminasi untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Hal ini tak luput dirasakan juga oleh Sholik Hariyani. Perempuan 27 tahun yang merupakan peserta JKN-KIS dengan segmentasi Pekerja Penerima Upah Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri. Dirinya mengaku masuk kedalam kepesertaan tersebut karena suaminya adalah seorang pekerja harian lepas disalah satu dinas di pemerintahan Banyuwangi. Saat ditemui oleh tim Jamkesnews, dirinya sedang menemani putri semata wayangnya sedang di rawat di Rumah Sakit Yasmin, Yani begitu panggilan akrabnya menceritakan pengalamannya sebagai peserta JKN-KIS. Yani mengaku bahwa jaminan kesehatan itu akan sangat diperlukan sekali untuk masa depan.

“Sebelumnya saya ikut kepesertaan mandiri dengan keluarga saya satu KK (re: Kartu Keluarga) itu, kemudian saya menikah akhirnya pecah KK. Lalu, pindah dari peserta mandiri ke peserta yang di bayarin kantor itu mbak,” ungkap Yani.

Baca Juga :  IDI BWI Mendukung Program Relaksasi Iuran JKN-KIS

Yani menceritakan pengalamannya selama memanfaatkan kartu JKN-KIS-nya sejak awal kartu tersebut berada ditangannya.

“Dulu di awal baru pakai JKN-KIS saya merasa ada pelayanan yang berbeda kepada pasien JKN-KIS dan umum, dan pada saat itu juga saya hampir terhasut dengan omongan tetangga-tetangga jika ikut JKN-KIS itu gak enak lah, ribet lah dan lainnya. Nah, lama-kelamaan setelah saya tahu dan pelajari sedikit demi sedikit bagaimana langkah-langkahnya yang harus dilakukan. Barulah saya merasa mengerti dan tidak ada penyesalan untuk ikut program JKN-KIS ini. Malah saya merasa sangat terbantu sekali,” ungkapnya.

Meski masih banyak orang mencibir tentang pelayanan yang diberikan tetapi Yani merasa bahwa seluruh pelayanan yang diberikan adalah yang terbaik. Dirinya sering memberikan edukasi kepada tetangga disekitar rumahnya untuk mengikuti langkah-langkah yang benar menurut pengalamannya tersebut dalam .

“saya merasa pelayanan antara pasien umum dan pasien program JKN-KIS tidak adanya diskriminasi pelayanan. Dari masa kehamilan, kemudian melahirkan, kemudian operasi kista saya dan sekarang saat anak saya opname pun saya pakai kartu JKN-KIS bena-benar terbantu,” ujar Yani

Baca Juga :  Menko Airlangga: Rekomendasi Akademisi Penting Untuk Pemulihan Ekonomi

Terakhir Yani  berpesan kepada masyarakat di luar sana yang belum mendaftarkan diri sebagai peserta JKN-KIS dan untuk masyarakat supaya rajin membayar iuran.

“Begini, kadang ada yang bilang orang gak sakit kok disuruh bayar, orang gak sakit kok suruh jaga-jaga. Kenapa? Gini ya, namanya manusia pasti ada sehat dan sakitnya. Kendaraan aja perlu diservis kalau egak ya pasti rusak dongs. Jadi saran saya mending ikut dan rajin bayar iuran deh,  karena suatu saat kita sakit kita tinggal mikir sehatnya dan gak mikir biayanya lagi gitu loh. Nah, sebaliknya kalau kita sehat anggap saja kita ikut membantu menyembuhkan orang sakit di luar sana,” tutupnya.

Meningkatkan kepuasan peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) adalah salah satu visi utama BPJS Kesehatan. Untuk mencapai itu, berbagai inovasi dan terobosan terus menerus dilakukan agar semakin memudahkan pasien dalam mendapatkan pelayanan.

Sakit bisa terjadi kapan saja, tidak memandang usia dan status sosial seseorang. Untuk itulah, memberikan perlindungan terbaik untuk keluarga mulai dari menjaga kesehatan hingga antisipasi saat sakit itu datang, wajib dipikirkan sedini mungkin. Sebagai penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat terus berupaya memberikan jaminan kesehatan yang berkualitas tanpa diskriminasi untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Hal ini tak luput dirasakan juga oleh Sholik Hariyani. Perempuan 27 tahun yang merupakan peserta JKN-KIS dengan segmentasi Pekerja Penerima Upah Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri. Dirinya mengaku masuk kedalam kepesertaan tersebut karena suaminya adalah seorang pekerja harian lepas disalah satu dinas di pemerintahan Banyuwangi. Saat ditemui oleh tim Jamkesnews, dirinya sedang menemani putri semata wayangnya sedang di rawat di Rumah Sakit Yasmin, Yani begitu panggilan akrabnya menceritakan pengalamannya sebagai peserta JKN-KIS. Yani mengaku bahwa jaminan kesehatan itu akan sangat diperlukan sekali untuk masa depan.

“Sebelumnya saya ikut kepesertaan mandiri dengan keluarga saya satu KK (re: Kartu Keluarga) itu, kemudian saya menikah akhirnya pecah KK. Lalu, pindah dari peserta mandiri ke peserta yang di bayarin kantor itu mbak,” ungkap Yani.

Baca Juga :  Demi Akurasi Data Iuran Pekerja, Pemkab BWI Gelar Rekonsiliasi

Yani menceritakan pengalamannya selama memanfaatkan kartu JKN-KIS-nya sejak awal kartu tersebut berada ditangannya.

“Dulu di awal baru pakai JKN-KIS saya merasa ada pelayanan yang berbeda kepada pasien JKN-KIS dan umum, dan pada saat itu juga saya hampir terhasut dengan omongan tetangga-tetangga jika ikut JKN-KIS itu gak enak lah, ribet lah dan lainnya. Nah, lama-kelamaan setelah saya tahu dan pelajari sedikit demi sedikit bagaimana langkah-langkahnya yang harus dilakukan. Barulah saya merasa mengerti dan tidak ada penyesalan untuk ikut program JKN-KIS ini. Malah saya merasa sangat terbantu sekali,” ungkapnya.

Meski masih banyak orang mencibir tentang pelayanan yang diberikan tetapi Yani merasa bahwa seluruh pelayanan yang diberikan adalah yang terbaik. Dirinya sering memberikan edukasi kepada tetangga disekitar rumahnya untuk mengikuti langkah-langkah yang benar menurut pengalamannya tersebut dalam .

“saya merasa pelayanan antara pasien umum dan pasien program JKN-KIS tidak adanya diskriminasi pelayanan. Dari masa kehamilan, kemudian melahirkan, kemudian operasi kista saya dan sekarang saat anak saya opname pun saya pakai kartu JKN-KIS bena-benar terbantu,” ujar Yani

Baca Juga :  Bank Indonesia Latih Petani dengan Teknologi MA-11

Terakhir Yani  berpesan kepada masyarakat di luar sana yang belum mendaftarkan diri sebagai peserta JKN-KIS dan untuk masyarakat supaya rajin membayar iuran.

“Begini, kadang ada yang bilang orang gak sakit kok disuruh bayar, orang gak sakit kok suruh jaga-jaga. Kenapa? Gini ya, namanya manusia pasti ada sehat dan sakitnya. Kendaraan aja perlu diservis kalau egak ya pasti rusak dongs. Jadi saran saya mending ikut dan rajin bayar iuran deh,  karena suatu saat kita sakit kita tinggal mikir sehatnya dan gak mikir biayanya lagi gitu loh. Nah, sebaliknya kalau kita sehat anggap saja kita ikut membantu menyembuhkan orang sakit di luar sana,” tutupnya.

Meningkatkan kepuasan peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) adalah salah satu visi utama BPJS Kesehatan. Untuk mencapai itu, berbagai inovasi dan terobosan terus menerus dilakukan agar semakin memudahkan pasien dalam mendapatkan pelayanan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/