alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Imbas Harga BBM Naik; Sehari Tiga Penumpang, Pendapatan Sopir Angkot Berkurang

RADAR BANYUWANGI – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dikeluhkan sopir angkutan kota (angkot). Biaya operasional tak sepadan dengan pendapatan. Kondisi ini diperparah dengan sepinya penumpang. Bisa dibayangkan, dua kali bolak-balik antarterminal hanya dapat tiga penumpang.

”Sekarang benar-benar sulit mencari penumpang. Yang menunggu di gang-gang juga tidak ada. Harus mencari sendiri, Mas. Mungkin sudah zamannya yang berubah. Banyak yang punya kendaraan sendiri sekarang,” ungkap Taufik, 54, salah seorang sopir angkot yang mangkal di Terminal Brawijaya.

Sopir angkot bernopol P 1239 UQ itu mengeluhkan persoalan yang begitu komplet. Dari maraknya ojek online dan badai Covid-19. Selama  pandemi, warga tidak diizinkan naik angkot. Penderitaan semakin bertambah setelah harga BBM jenis pertalite ikut naik.

”Sejak pertalite naik, teman-teman sopir angkot tidak untung sama sekali. Bagaimana mau untung, harga  pertalite Rp 12 ribu, yang numpang dua orang. Satu orang Rp 5.000, kalau dua orang kan Rp 10 ribu. Itu pun kalau ada yang numpang. Malah kita sering tidak dapat penumpang,” keluh Taufik sambil memijat kepala temannya yang pusing.

Baca Juga :  Harga BBM Mahal, Nelayan Muncar Pilih Berburu Ikan Pinggiran

Diungkapkan Taufik, keinginan semua sopir angkot tidak jauh berbeda. Mereka ingin tarif angkot juga naik. Kalaupun tarif dinaikkan akan berimbas kepada penumpang. Penumpang memilih sarana lain seperti Gojek. ”Meskipun tarif angkot dinaikkan, pertanyaannya apakah penumpang tidak tambah sepi? Percuma dinaikkan kalau tidak ada penumpang,” tegas Taufik.

Masih menurut Taufik, persoalan yang urgen selain BBM adalah maraknya Gojek dan Grab yang tidak menunjukkan identitasnya. Sehingga sulit bagi sopir angkot untuk memantau dan melarang masuk ke terminal. Grab sudah menerima panggilan melalui aplikasi khusus, sementara sopir angkot masih menggunakan cara zaman dulu. Sopir angkot harus berteriak-teriak memangil penumpang dan masih menacari penumpang.

”Sekarang bisa dilihat di depan Roxi, tempat mangkalnya ojek, sekarang penuh dengan ojek online. Ojek jadul tidak tahu aplikasi, ya tambah tidak dapat apa-apa, apalagi sopir angkot,” ujar Taufik.

Sopir yang memiliki dua cucu itu mengaku tidak kuat melawan kehadiran ojek online. Sebab, sopir angkot sudah tua-tua dan kebanyakan buta huruf. Yang bisa membantu mereka adalah peraturan yang bisa ditegakkan. Contoh sederhana, Grab harus memiliki identitas yang jelas. Caranya, dengan memberikan tanda di kendaraannya masing-masing. Harapannya, sopir angkot tidak kecolongan penumpang di wilayahnya masing-masing.

Baca Juga :  Angkutan Pelajar dan Wisata Gratis Menyesuaikan Kenaikan BBM  

”Sekarang sudah ada aturan bahwa ojek online hanya bisa mengambil penumpang di jarak 100 meter dari terminal. Kenyataannya masih ada yang melewati batas itu. Kita sebagai sopir angkot tidak bisa memprediksi mereka. Bahkan, yang masuk di dekat terminal juga banyak. Harapan kami bagaimana hal itu benar-benar di tertibkan,” harap Taufik.

Fadilah, salah satu penumpang angkot mendukung kalau tarif angkot dinaikkan menyesuaikan kenaikan harga BBM. Dia memahami akibat BBM naik, kebutuhan pokok juga ikut naik. Bukan hanya itu, tarif ojek online juga sudah naik. Jadi wajar kalau angkot menaikkan tarif. ”Sebagai penumpang saya sadar. Memang banyak ibu-ibu yang tidak mau kalau tarif angkot naik,” ujar perempuan berusia 34 tahun yang tinggal di Wongsorejo itu. (hum/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dikeluhkan sopir angkutan kota (angkot). Biaya operasional tak sepadan dengan pendapatan. Kondisi ini diperparah dengan sepinya penumpang. Bisa dibayangkan, dua kali bolak-balik antarterminal hanya dapat tiga penumpang.

”Sekarang benar-benar sulit mencari penumpang. Yang menunggu di gang-gang juga tidak ada. Harus mencari sendiri, Mas. Mungkin sudah zamannya yang berubah. Banyak yang punya kendaraan sendiri sekarang,” ungkap Taufik, 54, salah seorang sopir angkot yang mangkal di Terminal Brawijaya.

Sopir angkot bernopol P 1239 UQ itu mengeluhkan persoalan yang begitu komplet. Dari maraknya ojek online dan badai Covid-19. Selama  pandemi, warga tidak diizinkan naik angkot. Penderitaan semakin bertambah setelah harga BBM jenis pertalite ikut naik.

”Sejak pertalite naik, teman-teman sopir angkot tidak untung sama sekali. Bagaimana mau untung, harga  pertalite Rp 12 ribu, yang numpang dua orang. Satu orang Rp 5.000, kalau dua orang kan Rp 10 ribu. Itu pun kalau ada yang numpang. Malah kita sering tidak dapat penumpang,” keluh Taufik sambil memijat kepala temannya yang pusing.

Baca Juga :  Antisipasi Rencana Kenaikan Harga BBM, Polresta Kumpulkan Seluruh Pengurus SPBU

Diungkapkan Taufik, keinginan semua sopir angkot tidak jauh berbeda. Mereka ingin tarif angkot juga naik. Kalaupun tarif dinaikkan akan berimbas kepada penumpang. Penumpang memilih sarana lain seperti Gojek. ”Meskipun tarif angkot dinaikkan, pertanyaannya apakah penumpang tidak tambah sepi? Percuma dinaikkan kalau tidak ada penumpang,” tegas Taufik.

Masih menurut Taufik, persoalan yang urgen selain BBM adalah maraknya Gojek dan Grab yang tidak menunjukkan identitasnya. Sehingga sulit bagi sopir angkot untuk memantau dan melarang masuk ke terminal. Grab sudah menerima panggilan melalui aplikasi khusus, sementara sopir angkot masih menggunakan cara zaman dulu. Sopir angkot harus berteriak-teriak memangil penumpang dan masih menacari penumpang.

”Sekarang bisa dilihat di depan Roxi, tempat mangkalnya ojek, sekarang penuh dengan ojek online. Ojek jadul tidak tahu aplikasi, ya tambah tidak dapat apa-apa, apalagi sopir angkot,” ujar Taufik.

Sopir yang memiliki dua cucu itu mengaku tidak kuat melawan kehadiran ojek online. Sebab, sopir angkot sudah tua-tua dan kebanyakan buta huruf. Yang bisa membantu mereka adalah peraturan yang bisa ditegakkan. Contoh sederhana, Grab harus memiliki identitas yang jelas. Caranya, dengan memberikan tanda di kendaraannya masing-masing. Harapannya, sopir angkot tidak kecolongan penumpang di wilayahnya masing-masing.

Baca Juga :  Polisi Sidak SPBU, Pembelian Eceran Dibatasi Tujuh Liter

”Sekarang sudah ada aturan bahwa ojek online hanya bisa mengambil penumpang di jarak 100 meter dari terminal. Kenyataannya masih ada yang melewati batas itu. Kita sebagai sopir angkot tidak bisa memprediksi mereka. Bahkan, yang masuk di dekat terminal juga banyak. Harapan kami bagaimana hal itu benar-benar di tertibkan,” harap Taufik.

Fadilah, salah satu penumpang angkot mendukung kalau tarif angkot dinaikkan menyesuaikan kenaikan harga BBM. Dia memahami akibat BBM naik, kebutuhan pokok juga ikut naik. Bukan hanya itu, tarif ojek online juga sudah naik. Jadi wajar kalau angkot menaikkan tarif. ”Sebagai penumpang saya sadar. Memang banyak ibu-ibu yang tidak mau kalau tarif angkot naik,” ujar perempuan berusia 34 tahun yang tinggal di Wongsorejo itu. (hum/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/