Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis

Dirintis sejak 2003, Jadi Katalisator Ekonomi di Masa Pandemi

14 Januari 2022, 07: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Dirintis sejak 2003, Jadi Katalisator Ekonomi di Masa Pandemi

Dua pesawat Citilink melakukan aktivitas penerbangan di Bandara Banyuwangi beberapa waktu lalu. (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

BANDARA Banyuwangi dirintis di era kepemimpinan Bupati Periode 2000–2005, Samsul Hadi. Sempat tersendat –bahkan terhenti— di masa pemerintahan Bupati Ratna Ani Lestari.

Namun, secercah harapan kembali bersemi. Kala Abdullah Azwar Anas menjabat bupati Banyuwangi pada periode pertama di tahun 2010 lalu. Kala itu, Anas menargetkan pengoperasian dalam program seratus hari pertama kerjanya.

Singkat cerita, penerbangan komersial perdana resmi dibuka pada Desember 2010 lalu. Rute yang dilayani adalah Banyuwangi–Surabaya pergi pulang.

Baca juga: Pedagang Buah Dekat Sungai Bagong Menolak Ditertibkan

Seiring waktu, intensitas penerbangan maupun rute yang dilayani pun semakin banyak. Tidak hanya Banyuwangi–Surabaya, tetapi juga dari dan menuju sejumlah kota lain di tanah air, seperti Jakarta dan Bali.

Bahkan, mulai 2018, Bandara Banyuwangi resmi menjadi Bandara Internasional Banyuwangi. Kala itu, penerbangan perdana rute internasional yakni Banyuwangi–Kuala Lumpur (Malaysia) resmi dibuka di bandara tersebut. Sedangkan perkembangan terbaru, Maskapai Susi Air resmi membuka layanan penerbangan rute Banyuwangi–Sumenep pergi pulang.

Sementara itu, Bandara Internasional Banyuwangi bukan sekadar kebanggaan masyarakat Bumi Blambangan. Bandara yang berlokasi di Kecamatan Blimbingsari ini juga menjadi pengungkit sekaligus pendorong perkembangan ekonomi di kabupaten the Sunrise of Java.

Bupati Banyuwangi periode 2010–2021 Abdullah Azwar Anas mengatakan, pengoperasian Bandara Banyuwangi untuk penerbangan komersial ibarat melipat jarak. Jarak Surabaya–Banyuwangi yang dulu ditempuh delapan jam melalui jalur darat, kini bisa ditempuh hanya dengan waktu 50 menit. Begitu pula dengan rute Jakarta. Perjalanan Banyuwangi menuju Jakarta yang via darat membutuhkan waktu 22 jam atau hampir sehari semalam, dengan menggunakan transportasi udara hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam 40 menit. ”Jadi, dengan transportasi udara, waktu perjalanan lebih efisien,” ujarnya.

 Sementara itu, dengan pengoperasian penerbangan komersial tersebut, interaksi bisnis akan lebih lancar. Pengusaha asal seantero Banyuwangi akan mudah dan cepat bertemu dengan relasi dari kota-kota besar. Pun demikian sebaliknya.

Kian bertambahnya frekuensi penerbangan ke Banyuwangi juga berdampak pada lintas sektor yang lain. Semakin banyak pilihan transportasi bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Banyuwangi.

Pun demikian dengan pejabat tingkat pusat maupun dari daerah-daerah asal seantero tanah air. Karena itu, diakui atau tidak kehadiran bandara ikut mendorong kemajuan daerah serta pertumbuhan ekonomi Banyuwangi.

Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, meningkatnya aksesibilitas ke Banyuwangi akan menjadi katalisator perekonomian di daerah yang dia pimpin. Termasuk di masa pandemi Covid-19 yang belum seratus persen berlalu.

Seperti diketahui, setelah sempat menurun karena berkurangnya mobilitas akibat pandemi Covid-19, kini okupansi penerbangan Jakarta–Banyuwangi dan sebaliknya mulai kembali normal. Kini, Bandara Banyuwangi melayani rute Jakarta–Banyuwangi setiap hari yang dilayani oleh dua maskapai nasional. ”Karena ada kepastian. Orang mau datang dan pulang kapan sudah tersedia terus jadwal penerbangannya. Dunia wisata bisa bergeliat kembali, dunia bisnis juga bisa bergerak lagi,” pungkasnya.

(bw/sgt/aif/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia