alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Tuesday, August 9, 2022

Pascabanjir, Petani Selamatkan Sisa Bawang

WONGSOREJO – Banjir yang melanda dua dusun di Desa Bimo­rejo, Kecamatan Wongsorejo, tidak hanya menggenangi permu­kiman warga, namun juga me­rusak lahan bawang merah seluas lima hektare. Akibatnya, bawang merah yang sudah berumur se­kitar 1,5 bulan itu gagal panen.

Lahan tanaman bawang merah yang diterjang banjir itu berada di Dusun Bimorejo, Desa Bimo­rejo. Akibat melubernya air dari Sungai Bajulmati tersebut, para petani terpaksa memanen bawang merah di lahan mereka lebih awal. Sebab, jika dibiarkan sema­kin lama dikhawatirkan bawang merah akan membusuk di dalam tanah dan semakin merugikan petani.

Beberapa warga mengaku jika harga bawang yang mereka panen juga menurun. Jika biasanya me­reka menjual bawang dengan har­ga Rp 18.000 hingga Rp 16.000 per kilogram (kg). Kini bawang merah hasil panen mereka hanya laku dijual dengan harga Rp 8.000 per kg. ”Murah kalau bawang masih muda begini. Harganya tidak sampai Rp 10.000 per kg. Apalagi habis kena banjir cepat busuk,” ujar Sutiani, 40, warga Desa Bimorejo.

Baca Juga :  Anyaman Seblang Laris di Jepang, Dikunjungi Ketua Dekranas Banyuwangi

Menurut petani, bawang merah yang sudah diterjang dan teren­dam banjir tidak dapat terse­la­matkan lagi, sekalipun petani mencoba menggunakan beragam cara dan bantuan obat-obatan. Mereka memilih untuk menung­gu masa tanam datang lagi, pada Juli. Akibat kejadian ini, petani harus menelan pil pahit dan men­derita kerugian hingga pu­luhan juta rupiah. (*)

WONGSOREJO – Banjir yang melanda dua dusun di Desa Bimo­rejo, Kecamatan Wongsorejo, tidak hanya menggenangi permu­kiman warga, namun juga me­rusak lahan bawang merah seluas lima hektare. Akibatnya, bawang merah yang sudah berumur se­kitar 1,5 bulan itu gagal panen.

Lahan tanaman bawang merah yang diterjang banjir itu berada di Dusun Bimorejo, Desa Bimo­rejo. Akibat melubernya air dari Sungai Bajulmati tersebut, para petani terpaksa memanen bawang merah di lahan mereka lebih awal. Sebab, jika dibiarkan sema­kin lama dikhawatirkan bawang merah akan membusuk di dalam tanah dan semakin merugikan petani.

Beberapa warga mengaku jika harga bawang yang mereka panen juga menurun. Jika biasanya me­reka menjual bawang dengan har­ga Rp 18.000 hingga Rp 16.000 per kilogram (kg). Kini bawang merah hasil panen mereka hanya laku dijual dengan harga Rp 8.000 per kg. ”Murah kalau bawang masih muda begini. Harganya tidak sampai Rp 10.000 per kg. Apalagi habis kena banjir cepat busuk,” ujar Sutiani, 40, warga Desa Bimorejo.

Baca Juga :  Bank Jatim Gambiran Tempati Kantor Baru, Siap Melayani Lebih Baik

Menurut petani, bawang merah yang sudah diterjang dan teren­dam banjir tidak dapat terse­la­matkan lagi, sekalipun petani mencoba menggunakan beragam cara dan bantuan obat-obatan. Mereka memilih untuk menung­gu masa tanam datang lagi, pada Juli. Akibat kejadian ini, petani harus menelan pil pahit dan men­derita kerugian hingga pu­luhan juta rupiah. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/