alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Semua Serba Digital, Pesan Kopi Tinggal Klik

Pariwisata di Gombengsari sempat menggeliat di tahun 2019. Sejak dilanda pandemi Covid-19, kondisi itu berubah drastis. Akhir 2021, dengan intervensi Stikom PGRI Banyuwangi, Pokdarwis Gombengsari mulai menerapkan digitalisasi terkait program pariwisata.

FREDY RIZKI, Kalipuro

LAYAR monitor dengan teknologi touch screen terpasang di sebuah warung kopi di Lingkungan Lerek, Ke­lurahan Gombengsari. Tak seperti warung kopi biasanya, tampilan di layar monitor tak sekadar menu-menu makanan atau kopi.

Di sana, ada tampilan produk UMKM, homestay, destinasi wisata, hingga profil Pokdarwis. Warung kopi itu bukan warung kopi biasa. Pok­­darwis Gombengsari menge­mas­nya menjadi rumah digital yang berfungsi sebagai pusat informasi dan edukasi terkait seluruh potensi wisata di Kelurahan Gombengsari.

Banyak ”menu” yang bisa diakses dari layar monitor tersebut. Mulai dari informasi tentang produk olahan hasil pertanian dan peternakan, budaya, homestay, sampai rute titik-titik destinasi wisata. Aplikasinya disediakan oleh Stikom PGRI Banyu­wa­ngi dari program Ke­daireka yang diselenggarakan Kemendikbud-Ristek.Program tersebut membantu Pokdarwis dan masyarakat untuk bisa mendigitalisasi produk pari­wisata Kelurahan Gombengsari.

”Saat ini semua serba digital, apa­lagi setelah pandemi. Orang tidak bisa keluar seperti sebe­lum­nya. Kebetulan ada program yang ditawarkan Stikom. Aplikasi yang terintegrasi mulai dari profil sampai website yang bisa kita gunakan,” kata Ketua Pokdarwis Gom­bengsari Abdurrahman.

Perkembangan pariwisata di Gombengsari memiliki jalan yang cukup panjang. Dimulai dari tahun 2017 lalu. Ketika banyak desa di Ba­nyuwangi menyuguhkan pari­wisata dan produk andalan, warga Gombengsari mulai mem-bran­ding objek-objek wisata andalan. Mulai dari hutan pinus Sumber Manis, wisata Puncak Asmoro, dan Air Terjun Pengantin.

Tahun 2018, masyarakat mulai menjual potensi tersebut lewat atraksi budaya. Seperti ngunduh kopi, merah susu, dan pengolahan kopi. Tahun 2019, pariwisata di Gom­bengsari semakin menggeliat. Pokdarwis membuat program seperti Festival Sangrai Kopi yang meng­hasilkan barista cilik. Seta­hun kemudian Gombengsari semakin terkenal dengan produk kopinya.

Tahun 2020, sudah berdiri 15 UMKM. Rinciannya, kata Abdurah­man, 10 UMKM dengan produk kopi dan olahannya, sisanya ada produk makanan seperti keripik dan kerajinan tangan. Sejak saat itu semua destinasi wisata di Gom­bengsari mulai bergairah.  

Gombengsari menjadi andalan destinasi edukasi. Banyak siswa sekolah melihat langsung aktivitas petani kopi hingga proses meme­rah susu kambing. Pokdarwis mulai kebanjiran paket wisata.

Namun, setelah pandemi me­landa, semuanya berubah. Wisa­tawan mulai berkurang. Ditambah lagi dengan pembatasan aktivitas masyarakat yang hampir diterap­kan di semua lini. ”Setelah pande­mi semua berubah. Hampir tidak ada yang berkembang. Kami pun berpikir untuk memasarkan po­tensi harus melalui digitalisasi. Orang jual beli dengan cara digital. Kebetulan ada penawaran dari Stikom,” imbuh bapak dua anak itu.

Peluang emas itu tak disia-siakan. Warung kopi ”Sofi” miliknya di­ubah menjadi rumah digital. Hand sanitizer digital dipasang di depan rumah digital. Barcode Pedu­li­Lindungi disediakan di dekat pintu masuk. Tujuannya agar masyarakat tetap bisa berkunjung ke rumah digital meski dalam kondisi pan­demi. ”Nanti semua informasi bisa diakses dari rumah digital. Semua destinasi lokasinya terpe­takan. Pengunjung bisa mengakses website kami,” jelas Rahman.

Setelah rumah digital berdiri, Rahman berharap masyarakat bisa terbiasa dengan aktivitas digital. Dalam aplikasi tercantum peme­sanan dan pembayaran secara di­gital. Wisatawan harus terbiasa melakukan pelayanan secara digital juga. ”Sebelum pandemi, setahun penghasilan Pokdarwis bisa men­capai Rp 50 juta. Itu belum termasuk pengha­silan destinasi dan UMKM yang langsung diperoleh dari tamu,” ungkapnya.

Ketua Tim Kedaireka Stikom PGRI Banyuwangi Faruk Alfian mengatakan, program Rumah Digital Gombengsari merupakan platform yang disediakan Stikom dari program Kedaireka yang diselenggarakan Kemendikbud-Ristek. Kedaireka adalah wadah kolaborasi perguruan tinggi dengan industri untuk memberi­kan manfaat kepada masyarakat. Stikom menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Banyuwangi yang lolos dari seleksi yang dilakukan Kemendikbud-Ristek.

Kabid Pemasaran Dinas Pari­wisata Ainur Rofik mengatakan, perkembangan teknologi menjadi angin segar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa ber­tahan dan berkembang di tengah pandemi. Kunci utama para pelaku pariwisata dan ekono­mi kreatif bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemam­puan adaptasi, inovasi, dan ko­laborasi yang baik.

Digital tourism merupakan salah satu strategi yang efektif dalam mem­promosikan berbagai desti­nasi dan potensi pariwisata melalui berbagai platform. Artinya, digital tourism tidak hanya sekadar me­ngenalkan, namun juga menyebar keindahan pariwisata secara luas untuk meningkatkan jumlah wi­satawan mancanegara. ”Saat ini tren pariwisata juga mulai bergeser ke arah digital. Salah satu buktinya terlihat dari aktivitas wisatawan yang mulai merencanakan per­jalanan, pre-on-post journey, ham­pir seluruhnya dilakukan se­cara digital,” kata Rofik. (aif/c1)

Pariwisata di Gombengsari sempat menggeliat di tahun 2019. Sejak dilanda pandemi Covid-19, kondisi itu berubah drastis. Akhir 2021, dengan intervensi Stikom PGRI Banyuwangi, Pokdarwis Gombengsari mulai menerapkan digitalisasi terkait program pariwisata.

FREDY RIZKI, Kalipuro

LAYAR monitor dengan teknologi touch screen terpasang di sebuah warung kopi di Lingkungan Lerek, Ke­lurahan Gombengsari. Tak seperti warung kopi biasanya, tampilan di layar monitor tak sekadar menu-menu makanan atau kopi.

Di sana, ada tampilan produk UMKM, homestay, destinasi wisata, hingga profil Pokdarwis. Warung kopi itu bukan warung kopi biasa. Pok­­darwis Gombengsari menge­mas­nya menjadi rumah digital yang berfungsi sebagai pusat informasi dan edukasi terkait seluruh potensi wisata di Kelurahan Gombengsari.

Banyak ”menu” yang bisa diakses dari layar monitor tersebut. Mulai dari informasi tentang produk olahan hasil pertanian dan peternakan, budaya, homestay, sampai rute titik-titik destinasi wisata. Aplikasinya disediakan oleh Stikom PGRI Banyu­wa­ngi dari program Ke­daireka yang diselenggarakan Kemendikbud-Ristek.Program tersebut membantu Pokdarwis dan masyarakat untuk bisa mendigitalisasi produk pari­wisata Kelurahan Gombengsari.

”Saat ini semua serba digital, apa­lagi setelah pandemi. Orang tidak bisa keluar seperti sebe­lum­nya. Kebetulan ada program yang ditawarkan Stikom. Aplikasi yang terintegrasi mulai dari profil sampai website yang bisa kita gunakan,” kata Ketua Pokdarwis Gom­bengsari Abdurrahman.

Perkembangan pariwisata di Gombengsari memiliki jalan yang cukup panjang. Dimulai dari tahun 2017 lalu. Ketika banyak desa di Ba­nyuwangi menyuguhkan pari­wisata dan produk andalan, warga Gombengsari mulai mem-bran­ding objek-objek wisata andalan. Mulai dari hutan pinus Sumber Manis, wisata Puncak Asmoro, dan Air Terjun Pengantin.

Tahun 2018, masyarakat mulai menjual potensi tersebut lewat atraksi budaya. Seperti ngunduh kopi, merah susu, dan pengolahan kopi. Tahun 2019, pariwisata di Gom­bengsari semakin menggeliat. Pokdarwis membuat program seperti Festival Sangrai Kopi yang meng­hasilkan barista cilik. Seta­hun kemudian Gombengsari semakin terkenal dengan produk kopinya.

Tahun 2020, sudah berdiri 15 UMKM. Rinciannya, kata Abdurah­man, 10 UMKM dengan produk kopi dan olahannya, sisanya ada produk makanan seperti keripik dan kerajinan tangan. Sejak saat itu semua destinasi wisata di Gom­bengsari mulai bergairah.  

Gombengsari menjadi andalan destinasi edukasi. Banyak siswa sekolah melihat langsung aktivitas petani kopi hingga proses meme­rah susu kambing. Pokdarwis mulai kebanjiran paket wisata.

Namun, setelah pandemi me­landa, semuanya berubah. Wisa­tawan mulai berkurang. Ditambah lagi dengan pembatasan aktivitas masyarakat yang hampir diterap­kan di semua lini. ”Setelah pande­mi semua berubah. Hampir tidak ada yang berkembang. Kami pun berpikir untuk memasarkan po­tensi harus melalui digitalisasi. Orang jual beli dengan cara digital. Kebetulan ada penawaran dari Stikom,” imbuh bapak dua anak itu.

Peluang emas itu tak disia-siakan. Warung kopi ”Sofi” miliknya di­ubah menjadi rumah digital. Hand sanitizer digital dipasang di depan rumah digital. Barcode Pedu­li­Lindungi disediakan di dekat pintu masuk. Tujuannya agar masyarakat tetap bisa berkunjung ke rumah digital meski dalam kondisi pan­demi. ”Nanti semua informasi bisa diakses dari rumah digital. Semua destinasi lokasinya terpe­takan. Pengunjung bisa mengakses website kami,” jelas Rahman.

Setelah rumah digital berdiri, Rahman berharap masyarakat bisa terbiasa dengan aktivitas digital. Dalam aplikasi tercantum peme­sanan dan pembayaran secara di­gital. Wisatawan harus terbiasa melakukan pelayanan secara digital juga. ”Sebelum pandemi, setahun penghasilan Pokdarwis bisa men­capai Rp 50 juta. Itu belum termasuk pengha­silan destinasi dan UMKM yang langsung diperoleh dari tamu,” ungkapnya.

Ketua Tim Kedaireka Stikom PGRI Banyuwangi Faruk Alfian mengatakan, program Rumah Digital Gombengsari merupakan platform yang disediakan Stikom dari program Kedaireka yang diselenggarakan Kemendikbud-Ristek. Kedaireka adalah wadah kolaborasi perguruan tinggi dengan industri untuk memberi­kan manfaat kepada masyarakat. Stikom menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Banyuwangi yang lolos dari seleksi yang dilakukan Kemendikbud-Ristek.

Kabid Pemasaran Dinas Pari­wisata Ainur Rofik mengatakan, perkembangan teknologi menjadi angin segar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa ber­tahan dan berkembang di tengah pandemi. Kunci utama para pelaku pariwisata dan ekono­mi kreatif bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemam­puan adaptasi, inovasi, dan ko­laborasi yang baik.

Digital tourism merupakan salah satu strategi yang efektif dalam mem­promosikan berbagai desti­nasi dan potensi pariwisata melalui berbagai platform. Artinya, digital tourism tidak hanya sekadar me­ngenalkan, namun juga menyebar keindahan pariwisata secara luas untuk meningkatkan jumlah wi­satawan mancanegara. ”Saat ini tren pariwisata juga mulai bergeser ke arah digital. Salah satu buktinya terlihat dari aktivitas wisatawan yang mulai merencanakan per­jalanan, pre-on-post journey, ham­pir seluruhnya dilakukan se­cara digital,” kata Rofik. (aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/