alexametrics
30.7 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Jimbe Sempu Tembus Eropa

SEMPU – Kerajinan alat musik perkusi seperti jimbe yang dibuat perajin asal Dusun Karanganyar, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, mampu menembus pasar Eropa, seperti Prancis, Belanda, Italia, dan Swis.

Jimbe hasil karya Adi Suwardi, 42, itu juga laris di sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Kalimantan, dan Bali. “Dulu buka usaha di Bali,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Karena sewa tempat usaha di Pulau Dewata itu semakin mahal, maka dia memutuskan untuk hijrah ke Bumi Blambangan dan mengembangkan usaha itu dikampungnya. “Pulang dan membuka usaha di rumah,” ujarnya.

Saat membuka usaha di rumahnya ini, Adi merangkul sejumlah pemuda di desanya yang masih menganggur. “Saya buat jimbe jika ada pesanan, alhamdulillah setiap minggu selalu ada pesanan. Selain jimbe saya juga membuat maracas, carimba, rainstick, dan gitar kecruk,” ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, tidak ada kendala dalam menekuni usahanya itu. Untuk bahan baku kayu mahoni, banyak diperoleh di daerah Banyuwangi. Selain itu, bahan baku kulit kambing pasokannya juga melimpah. Untuk ukuran jimbe, ada yang kecil hingga besar tergantung permintaan dari pemesan. “Dalam sehari bisa memproduksi sepuluh jimbe ukuran kecil. Untuk ukuran jumbo, satu jimbe membutuhkan waktu dua hari,” cetusnya.

Adi mengatakan, harga jimbe dipatok berdasarkan ukuran dan motif, yakni berkisar Rp 15.000 hingga Rp 1 juta per unit. Harga itu bisa lebih mahal saat diekspor ke luar negeri. Kebanyakan pesanan jimbe dari luar negri ukuran sedang dengan tinggi 30 centimeter dan lebar 15 cm. “Biasanya pesanan dari pembeli di luar negeri meminta motif lukisan dan ukiran khas Kalimantan atau Suku Dayak. Ada juga yang minta warna ala Jamaika style Bob Marley,” ungkapnya.

Jimbe ukuran kecil yang suaranya kurang nyaring, jelas dia, biasanya digunakan untuk pajangan di jendela atau pojok kamar. Jimbe itu alat musik yang banyak digemari karena mudah digunakan dan tidak perlu teknik khusus untuk memainkannya. “Saya pernah mendapatkan pesanan jimbe sebanyak 6.000 unit ukuran sedang, pesanan tersebut dikirim ke Eropa,” tandasnya.

SEMPU – Kerajinan alat musik perkusi seperti jimbe yang dibuat perajin asal Dusun Karanganyar, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, mampu menembus pasar Eropa, seperti Prancis, Belanda, Italia, dan Swis.

Jimbe hasil karya Adi Suwardi, 42, itu juga laris di sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Kalimantan, dan Bali. “Dulu buka usaha di Bali,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Karena sewa tempat usaha di Pulau Dewata itu semakin mahal, maka dia memutuskan untuk hijrah ke Bumi Blambangan dan mengembangkan usaha itu dikampungnya. “Pulang dan membuka usaha di rumah,” ujarnya.

Saat membuka usaha di rumahnya ini, Adi merangkul sejumlah pemuda di desanya yang masih menganggur. “Saya buat jimbe jika ada pesanan, alhamdulillah setiap minggu selalu ada pesanan. Selain jimbe saya juga membuat maracas, carimba, rainstick, dan gitar kecruk,” ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, tidak ada kendala dalam menekuni usahanya itu. Untuk bahan baku kayu mahoni, banyak diperoleh di daerah Banyuwangi. Selain itu, bahan baku kulit kambing pasokannya juga melimpah. Untuk ukuran jimbe, ada yang kecil hingga besar tergantung permintaan dari pemesan. “Dalam sehari bisa memproduksi sepuluh jimbe ukuran kecil. Untuk ukuran jumbo, satu jimbe membutuhkan waktu dua hari,” cetusnya.

Adi mengatakan, harga jimbe dipatok berdasarkan ukuran dan motif, yakni berkisar Rp 15.000 hingga Rp 1 juta per unit. Harga itu bisa lebih mahal saat diekspor ke luar negeri. Kebanyakan pesanan jimbe dari luar negri ukuran sedang dengan tinggi 30 centimeter dan lebar 15 cm. “Biasanya pesanan dari pembeli di luar negeri meminta motif lukisan dan ukiran khas Kalimantan atau Suku Dayak. Ada juga yang minta warna ala Jamaika style Bob Marley,” ungkapnya.

Jimbe ukuran kecil yang suaranya kurang nyaring, jelas dia, biasanya digunakan untuk pajangan di jendela atau pojok kamar. Jimbe itu alat musik yang banyak digemari karena mudah digunakan dan tidak perlu teknik khusus untuk memainkannya. “Saya pernah mendapatkan pesanan jimbe sebanyak 6.000 unit ukuran sedang, pesanan tersebut dikirim ke Eropa,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/