alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Budidaya Udang Vaname Menjanjikan, Sekilo Dihargai Rp 70 Ribu

BLIMBINGSARI – Kebutuhan udang putih vaname (Litopenaeus vannamei) untuk kuliner menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Apalagi pada bulan Ramadan, usaha ini dapat memberikan pemasukan yang berkelanjutan.

Udang putih vaname menjadi salah satu komoditas pilihan ekonomis, selain udang windu dan ikan bandeng. Udang vaname hasil budi daya mempunyai pangsa pasar yang lebar pada setiap ukuran jual.

Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pasar yakni dengan melakukan panen parsial atau terjadwal dengan memakai sistem sortir. Panen parsial dilakukan saat udang berusia 71 hari.

Rata-rata udang yang dipanen berjumlah 40–50 ekor per kilogram. Hasil ini diakui cukup menggembirakan. ”Alhamdulillah, panen parsial hasilnya cukup menggembirakan,” ungkap salah seorang petani tambak udang vaname, Agus Martanto.

Petani yang mengelola tambak udang di Dusun Glondong, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, ini mengatakan, budi daya udang vaname merupakan salah satu pilihan terbaik untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir.

Saat ini udang vaname laku di pasar dengan harga Rp 70 ribu per kilogram. ”Harganya bagus, dan udang vaname ini cepat panennya, jadi sangat bagus bila digeluti serius,” jelasnya.

Menurut Agus, sistem panen parsial adalah memanen udang sebagian dari jumlah populasi yang ada di tambak dengan tujuan utama mengurangi jumlah kepadatan udang per satuan luas. ”Udang tidak diambil semua, hanya beberapa saja. Dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan populasi udang di setiap bidang tambak,” jelasnya.

Panen parsial perdana biasanya dimulai setelah udang mencapai berat 10 gram per ekor atau berumur 60 hari.  Panen parsial kedua dilaksanakan dua pekan berikutnya dengan berat udang diperkirakan mencapai 15 gram per ekor atau berumur 75 hari. Dilanjutkan dengan parsial ketiga ketika berumur 90 hari dengan asumsi berat udang 17 gram per ekor. Dua pekan setelah parsial ketiga barulah dilakukan panen total.

Panen parsial udang vaname, lanjut Agus, cukup menguntungkan karena perputaran uang semakin cepat. Sebab, dalam jangka waktu dua bulan pemeliharaan udang sudah bisa dipanen meski dalam jumlah yang tidak terlalu besar. ”Minimal sudah ada pendapatan dari hasil penjualan yang bisa digunakan untuk pembelian pakan dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, kata Agus, dengan panen parsial kondisi kualitas air tambak lebih terjaga. Jumlah input pakan berkurang sehingga limbah yang dihasilkan dari sisa pakan dan feses udang dapat diminimalkan. ”Kalau dipanen parsial, ruang gerak udang semakin lebar dan kesempatan makan semakin banyak. Saat panen total hasilnya akan lebih besar dan maksimal,” terangnya.

Pemasaran udang vaname, menurut Agus, tidak terlalu sulit karena sudah ada pembeli yang mengambil langsung dari tambak. ”Sementara ini sudah ada yang ambil dari Sidoarjo,” tandasnya. 

BLIMBINGSARI – Kebutuhan udang putih vaname (Litopenaeus vannamei) untuk kuliner menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Apalagi pada bulan Ramadan, usaha ini dapat memberikan pemasukan yang berkelanjutan.

Udang putih vaname menjadi salah satu komoditas pilihan ekonomis, selain udang windu dan ikan bandeng. Udang vaname hasil budi daya mempunyai pangsa pasar yang lebar pada setiap ukuran jual.

Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pasar yakni dengan melakukan panen parsial atau terjadwal dengan memakai sistem sortir. Panen parsial dilakukan saat udang berusia 71 hari.

Rata-rata udang yang dipanen berjumlah 40–50 ekor per kilogram. Hasil ini diakui cukup menggembirakan. ”Alhamdulillah, panen parsial hasilnya cukup menggembirakan,” ungkap salah seorang petani tambak udang vaname, Agus Martanto.

Petani yang mengelola tambak udang di Dusun Glondong, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, ini mengatakan, budi daya udang vaname merupakan salah satu pilihan terbaik untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir.

Saat ini udang vaname laku di pasar dengan harga Rp 70 ribu per kilogram. ”Harganya bagus, dan udang vaname ini cepat panennya, jadi sangat bagus bila digeluti serius,” jelasnya.

Menurut Agus, sistem panen parsial adalah memanen udang sebagian dari jumlah populasi yang ada di tambak dengan tujuan utama mengurangi jumlah kepadatan udang per satuan luas. ”Udang tidak diambil semua, hanya beberapa saja. Dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan populasi udang di setiap bidang tambak,” jelasnya.

Panen parsial perdana biasanya dimulai setelah udang mencapai berat 10 gram per ekor atau berumur 60 hari.  Panen parsial kedua dilaksanakan dua pekan berikutnya dengan berat udang diperkirakan mencapai 15 gram per ekor atau berumur 75 hari. Dilanjutkan dengan parsial ketiga ketika berumur 90 hari dengan asumsi berat udang 17 gram per ekor. Dua pekan setelah parsial ketiga barulah dilakukan panen total.

Panen parsial udang vaname, lanjut Agus, cukup menguntungkan karena perputaran uang semakin cepat. Sebab, dalam jangka waktu dua bulan pemeliharaan udang sudah bisa dipanen meski dalam jumlah yang tidak terlalu besar. ”Minimal sudah ada pendapatan dari hasil penjualan yang bisa digunakan untuk pembelian pakan dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, kata Agus, dengan panen parsial kondisi kualitas air tambak lebih terjaga. Jumlah input pakan berkurang sehingga limbah yang dihasilkan dari sisa pakan dan feses udang dapat diminimalkan. ”Kalau dipanen parsial, ruang gerak udang semakin lebar dan kesempatan makan semakin banyak. Saat panen total hasilnya akan lebih besar dan maksimal,” terangnya.

Pemasaran udang vaname, menurut Agus, tidak terlalu sulit karena sudah ada pembeli yang mengambil langsung dari tambak. ”Sementara ini sudah ada yang ambil dari Sidoarjo,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/