alexametrics
24 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Dorong Ekonomi Bangkit, Resmikan Pasar Rakyat Tematik

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemulihan ekonomi dengan berbagai varian program terus digalakkan di Banyuwangi. Salah satunya dengan menggerakkan kembali pasar rakyat tematik di berbagai penjuru kabupaten ujung timur Pulau Jawa.

Pasar-pasar rakyat yang digelar secara temporal dan barang jualan yang tematik menjadi salah satu jurus yang dipilih. Pasar rakyat tematik terbukti menjadi pengungkit ekonomi di level mikro. 

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, setelah ekonomi sempat lesu selama sekitar dua tahun akibat imbas pandemi Covid-19, maka inilah saatnya rakyat bangkit. “Mari kita tata kembali ekonomi dengan berbagai usaha-usaha produktif. Seperti Pasar Rakyat tematik. Ada laju perekonomian yang bergerak. Meski dalam skala mikro, tapi ini akan mampu memicu sektor-sektor lain ikut bergerak,” ujarnya saat membuka Pasar “Cunduk Menur” di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Sabtu (5/2).

Pasar-pasar rakyat dengan tematik dagangan tertentu terbukti cukup berkembang di Banyuwangi sebelum pandemi Covid-19 melanda. Di antaranya Pasar Wit-Witan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Pasar Kampung Osing Kemiren dan Olehsari di Kecamatan Glagah, Arabian Street Food di Kampung Arab, Banyuwangi, dan sejumlah tempat lainnya.

Baca Juga :  Bisa Pilah-Pilih Ikan Sendiri di Fish Market Kampung Mandar

Perkembangan terbaru, kini sejumlah pasar kembali digeliatkan. Tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan (Prokes) secara ketat. Selain pasar-pasar lama tersebut, juga muncul sejumlah inisiasi baru. Salah satunya Pasar Cunduk Menur di Tegalarum tersebut. “Ini adalah bagian dari gerakan Banyuwangi Rebound, sebuah program multisektor untuk membawa Banyuwangi pulih dari pandemi,” terang Ipuk.

Kepala Desa Tegalarum Achmad Turmudi mengatakan, inisiasi pasar tersebut berangkat dari upaya untuk merintis pusat ekonomi baru. “Proyeksi saya, ini nantinya bisa menjadi pasar permanen. Kita awali dari yang sederhana dulu,” ungkapnya.

Gagasan tersebut disambut antusias oleh warganya. Di antaranya datang dari Andriyani. Ia bersama lima orang kawannya berjualan sejumlah makanan pelengkap. Seperti sambal pecel, oseng-oseng pare, kripik pare, dan lain sebagainya. “Senang bisa berjualan di kampung sendiri. Membuka lapangan pekerjaan baru juga,” terangnya.

Baca Juga :  Pasar Jenang Pendarungan; Digagas Pemuda, Lokasi di Kebun Kelapa

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Toyib, pedagang rujak. Pria yang berjualan rujak sejak 1997 itu, merasa senang dengan keberadaan pasar tersebut. Hal tersebut dapat menjadi tempat baru baginya untuk menjajakan dagangannya. “Biasanya hanya buka di rumah atau berdasarkan pesanan lewat WA (WhatsApp) saja,” papar pria yang dikenal dengan Rujak Lanang-nya.

Ipuk menambahkan, geliat pasar-pasar rakyat ini, akan terus didampingi oleh Pemkab Banyuwangi. Tidak hanya dari sisi promosi, tapi juga dari sisi manajerial. “Kita akan terus melakukan pendampingan. Baik melalui dinas terkait atau dari pemerintah kecamatan. Seperti halnya nanti diberikan pelatihan menejemen keuangan, pengemasan, dan lain sebagainya. Jadinya, akan lebih berdaya dan bisa naik kelas,” pungkas Ipuk.

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemulihan ekonomi dengan berbagai varian program terus digalakkan di Banyuwangi. Salah satunya dengan menggerakkan kembali pasar rakyat tematik di berbagai penjuru kabupaten ujung timur Pulau Jawa.

Pasar-pasar rakyat yang digelar secara temporal dan barang jualan yang tematik menjadi salah satu jurus yang dipilih. Pasar rakyat tematik terbukti menjadi pengungkit ekonomi di level mikro. 

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, setelah ekonomi sempat lesu selama sekitar dua tahun akibat imbas pandemi Covid-19, maka inilah saatnya rakyat bangkit. “Mari kita tata kembali ekonomi dengan berbagai usaha-usaha produktif. Seperti Pasar Rakyat tematik. Ada laju perekonomian yang bergerak. Meski dalam skala mikro, tapi ini akan mampu memicu sektor-sektor lain ikut bergerak,” ujarnya saat membuka Pasar “Cunduk Menur” di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Sabtu (5/2).

Pasar-pasar rakyat dengan tematik dagangan tertentu terbukti cukup berkembang di Banyuwangi sebelum pandemi Covid-19 melanda. Di antaranya Pasar Wit-Witan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Pasar Kampung Osing Kemiren dan Olehsari di Kecamatan Glagah, Arabian Street Food di Kampung Arab, Banyuwangi, dan sejumlah tempat lainnya.

Baca Juga :  Paling Cocok untuk Rute Gowes

Perkembangan terbaru, kini sejumlah pasar kembali digeliatkan. Tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan (Prokes) secara ketat. Selain pasar-pasar lama tersebut, juga muncul sejumlah inisiasi baru. Salah satunya Pasar Cunduk Menur di Tegalarum tersebut. “Ini adalah bagian dari gerakan Banyuwangi Rebound, sebuah program multisektor untuk membawa Banyuwangi pulih dari pandemi,” terang Ipuk.

Kepala Desa Tegalarum Achmad Turmudi mengatakan, inisiasi pasar tersebut berangkat dari upaya untuk merintis pusat ekonomi baru. “Proyeksi saya, ini nantinya bisa menjadi pasar permanen. Kita awali dari yang sederhana dulu,” ungkapnya.

Gagasan tersebut disambut antusias oleh warganya. Di antaranya datang dari Andriyani. Ia bersama lima orang kawannya berjualan sejumlah makanan pelengkap. Seperti sambal pecel, oseng-oseng pare, kripik pare, dan lain sebagainya. “Senang bisa berjualan di kampung sendiri. Membuka lapangan pekerjaan baru juga,” terangnya.

Baca Juga :  Pemilik Kartu BPJS Ketenagakerjaan Dapat Diskon di Doesoen Kakao

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Toyib, pedagang rujak. Pria yang berjualan rujak sejak 1997 itu, merasa senang dengan keberadaan pasar tersebut. Hal tersebut dapat menjadi tempat baru baginya untuk menjajakan dagangannya. “Biasanya hanya buka di rumah atau berdasarkan pesanan lewat WA (WhatsApp) saja,” papar pria yang dikenal dengan Rujak Lanang-nya.

Ipuk menambahkan, geliat pasar-pasar rakyat ini, akan terus didampingi oleh Pemkab Banyuwangi. Tidak hanya dari sisi promosi, tapi juga dari sisi manajerial. “Kita akan terus melakukan pendampingan. Baik melalui dinas terkait atau dari pemerintah kecamatan. Seperti halnya nanti diberikan pelatihan menejemen keuangan, pengemasan, dan lain sebagainya. Jadinya, akan lebih berdaya dan bisa naik kelas,” pungkas Ipuk.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/