alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

TPID Gandeng BI Siapkan Skenario Pengendalian Inflasi

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi terus menjalin sinergi untuk menopang upaya pengendalian inflasi di kabupaten the Sunrise of Java. Salah satunya dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember.

Kajian-kajian pun terus dilakukan agar inflasi di Bumi Blambangan tetap terkendali. Seperti high level meeting (pertemuan tingkat tinggi) antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyuwangi dan BI Jember Kamis (4/8).

Bupati Ipuk Fiestiandani yang memimpin meeting tersebut menekankan untuk terus bersinergi dalam mengendalikan inflasi daerah. ”Untuk mengendalikan inflasi ini, tidak bisa hanya dilakukan satu dua pihak saja. Tapi, harus bersinergi ke semua pihak. Tidak hanya antardinas, tapi juga antarlembaga vertikal hingga antardaerah,” ujarnya.

Sinergi tersebut menjadi roh utama dalam empat skenario yang disiapkan oleh TPID Banyuwangi. Mulai pelaksanaan pasar murah hingga Kerja Sama Antar-Daerah (KAD). ”Komoditas yang berlebih di daerah kita, bisa kita lempar ke daerah lain. Begitu pula sebaliknya, komoditas yang kurang kita pasok dari daerah lain dengan menggelar pasar murah,” kata dia.

Selain itu, dua skenario bertajuk Quick Win dalam menangani inflasi adalah dengan penguatan sektor produksi. ”Sektor pertanian dan perikanan harus terus digenjot. Jika ikan laut menjadi bagian inflasi, maka perikanan darat harus terus digenjot,” imbuh Ipuk.

Baca Juga :  JKN-KIS Hadir Untuk Masyarakat, Fendy Sangat Bersyukur

Lebih spesifik pada sektor pertanian, Ipuk menyiapkan skenario digital farming. Komoditas pertanian yang selalu andil dalam inflasi perlu dilakukan peningkatan pengelolaan. Salah satunya melalui inovasi digital farming. ”Inovasi ini untuk membantu petani dalam mengelola pertanian dengan pendekatan teknologi. Seperti halnya memeriksa kondisi tanah, hama, sampai penanganannya. Ini untuk meminimalkan gagal panen,” jelas Ipuk.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi Tri Erwandi menuturkan, pada Juli Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,68 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi dua bulan sebelumnya yang berada di angka 0,49 dan 0,61 persen. ”Inflasi bulan Juli di antaranya disumbang oleh biaya sekolah SMP dan SMA yang memang masuk awal tahun ajaran baru,” ungkapnya.

Kondisi inflasi tersebut, papar Tri, dinilai cukup bergejolak dibandingkan dengan dua tahun terakhir. ”Pada saat pandemi Covid-19, masyarakat menahan diri untuk mengurangi konsumsi sehingga kondisi inflasi cukup stabil. Tetapi, saat ini, inflasi cukup bergejolak karena memang tingkat konsumsi meningkat,” terangnya.

Sementara itu, pengendalian inflasi di Banyuwangi mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember Yukon Aprinaldo. Menurutnya, inflasi di Banyuwangi sangat terkendali. Bahkan, pertumbuhan ekonominya terhitung paling baik di wilayah eks Karesidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang). ”Pertumbuhan ekonomi Year on Year Banyuwangi sangat baik. Dari minus 3 pada 2020, meningkat menjadi 4,08 persen pada 2021. Kalau dilihat trennya, sangat berkemungkinan pertumbuhan ekonomi bisa meningkat lebih dari empat persen,” kata pria yang akrab disapa Aldo tersebut.

Baca Juga :  Airlangga: Era Society 5.0, Talenta Digital dan Literasi Meningkat

Aldo menambahkan, data perbankan juga menunjukkan angka yang positif. Mulai angka Dana Pihak Ketiga (DPK) dan aset hingga angka kredit. Pada 2022 ini, dari bulan ke bulan terus menunjukkan pertumbuhan. ”Artinya, perputaran uang di Banyuwangi sangat aman,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, sebelum melakukan high level meeting tersebut, Bupati Ipuk bersama Kepala BI Jember meninjau pelaksanaan pasar murah di Pasar Jajag. Selain itu, juga mengunjungi para petani cabai yang sedang panen di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. ”Kami ingin melihat langsung kondisi komoditas di masyarakat. Baik di level produsen sampai di level distributor yang langsung ke masyarakat,” pungkas Ipuk. (sgt/aif/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi terus menjalin sinergi untuk menopang upaya pengendalian inflasi di kabupaten the Sunrise of Java. Salah satunya dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember.

Kajian-kajian pun terus dilakukan agar inflasi di Bumi Blambangan tetap terkendali. Seperti high level meeting (pertemuan tingkat tinggi) antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyuwangi dan BI Jember Kamis (4/8).

Bupati Ipuk Fiestiandani yang memimpin meeting tersebut menekankan untuk terus bersinergi dalam mengendalikan inflasi daerah. ”Untuk mengendalikan inflasi ini, tidak bisa hanya dilakukan satu dua pihak saja. Tapi, harus bersinergi ke semua pihak. Tidak hanya antardinas, tapi juga antarlembaga vertikal hingga antardaerah,” ujarnya.

Sinergi tersebut menjadi roh utama dalam empat skenario yang disiapkan oleh TPID Banyuwangi. Mulai pelaksanaan pasar murah hingga Kerja Sama Antar-Daerah (KAD). ”Komoditas yang berlebih di daerah kita, bisa kita lempar ke daerah lain. Begitu pula sebaliknya, komoditas yang kurang kita pasok dari daerah lain dengan menggelar pasar murah,” kata dia.

Selain itu, dua skenario bertajuk Quick Win dalam menangani inflasi adalah dengan penguatan sektor produksi. ”Sektor pertanian dan perikanan harus terus digenjot. Jika ikan laut menjadi bagian inflasi, maka perikanan darat harus terus digenjot,” imbuh Ipuk.

Baca Juga :  BRIMo Gelar Nonton Bareng BRI Liga 1 di Seribu Lokasi

Lebih spesifik pada sektor pertanian, Ipuk menyiapkan skenario digital farming. Komoditas pertanian yang selalu andil dalam inflasi perlu dilakukan peningkatan pengelolaan. Salah satunya melalui inovasi digital farming. ”Inovasi ini untuk membantu petani dalam mengelola pertanian dengan pendekatan teknologi. Seperti halnya memeriksa kondisi tanah, hama, sampai penanganannya. Ini untuk meminimalkan gagal panen,” jelas Ipuk.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi Tri Erwandi menuturkan, pada Juli Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,68 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi dua bulan sebelumnya yang berada di angka 0,49 dan 0,61 persen. ”Inflasi bulan Juli di antaranya disumbang oleh biaya sekolah SMP dan SMA yang memang masuk awal tahun ajaran baru,” ungkapnya.

Kondisi inflasi tersebut, papar Tri, dinilai cukup bergejolak dibandingkan dengan dua tahun terakhir. ”Pada saat pandemi Covid-19, masyarakat menahan diri untuk mengurangi konsumsi sehingga kondisi inflasi cukup stabil. Tetapi, saat ini, inflasi cukup bergejolak karena memang tingkat konsumsi meningkat,” terangnya.

Sementara itu, pengendalian inflasi di Banyuwangi mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember Yukon Aprinaldo. Menurutnya, inflasi di Banyuwangi sangat terkendali. Bahkan, pertumbuhan ekonominya terhitung paling baik di wilayah eks Karesidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang). ”Pertumbuhan ekonomi Year on Year Banyuwangi sangat baik. Dari minus 3 pada 2020, meningkat menjadi 4,08 persen pada 2021. Kalau dilihat trennya, sangat berkemungkinan pertumbuhan ekonomi bisa meningkat lebih dari empat persen,” kata pria yang akrab disapa Aldo tersebut.

Baca Juga :  Diproyeksi Jadi Sentra Bawang Putih

Aldo menambahkan, data perbankan juga menunjukkan angka yang positif. Mulai angka Dana Pihak Ketiga (DPK) dan aset hingga angka kredit. Pada 2022 ini, dari bulan ke bulan terus menunjukkan pertumbuhan. ”Artinya, perputaran uang di Banyuwangi sangat aman,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, sebelum melakukan high level meeting tersebut, Bupati Ipuk bersama Kepala BI Jember meninjau pelaksanaan pasar murah di Pasar Jajag. Selain itu, juga mengunjungi para petani cabai yang sedang panen di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. ”Kami ingin melihat langsung kondisi komoditas di masyarakat. Baik di level produsen sampai di level distributor yang langsung ke masyarakat,” pungkas Ipuk. (sgt/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/