alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Rokok Jadi Pemicu Utama Inflasi

BANYUWANGI – Indeks harga-harga kebutuhan masyarakat di Banyuwangi pada dua bulan pertama 2021 mengalami peningkatan. Setelah sepanjang Januari lalu terjadi inflasi yang mencapai 0,18 persen, tren serupa berlanjut pada Februari. Kali ini, kabupaten ujung timur Pulau Jawa mengalami inflasi sebesar 0,09 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, inflasi Februari tersebut terutama dipicu kenaikan harga rokok kretek filter. Komoditas yang satu ini memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Sedangkan rokok putih menyumbang inflasi senilai 0,03 persen. Peningkatan harga rokok ditengarai akibat kenaikan cukai rokok yang ditetapkan pemerintah.

Selain rokok, tingginya curah hujan yang berdampak pada kenaikan harga beberapa komoditas sayuran juga memicu inflasi pada Februari. Contohnya bayam yang menyumbang inflasi sebesar 0,039 persen dan kangkung sebesar 0,034 persen.

Baca Juga :  Minyak Goreng dan Tempe Kompak Picu Inflasi

Bukan itu saja, inflasi pada Februari juga dipicu kenaikan harga komoditas ikan laut segar. Di antaranya ikan lemuru dan tongkol. Sepanjang Februari lalu kenaikan harga ikan lemuru dan tongkol masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,026 persen dan 0,0245 persen.

Di sisi lain, inflasi pada Februari tertahan oleh turunnya harga beberapa komoditas, seperti emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat. Versi BPS, penurunan harga emas perhiasan dipicu turunnya harga emas dunia. Penurunan harga daging ayam ras ditengarai akibat pembatasan kegiatan masyarakat sehingga menurunkan permintaan terhadap komoditas tersebut. Sedangkan penurunan harga tomat diduga akibat melimpahnya stok komoditas tersebut di pasaran.

Kepala Seksi (Kasi) Statistik Distribusi BPS Banyuwangi Mulyono mengatakan, di antara delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim, sepanjang Februari tahun ini tujuh kota di antaranya mengalami inflasi, sebaliknya satu kota mengalami deflasi. ”Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya, yakni sebesar 0,29 persen disusul Jember dan Banyuwangi masing-masing sebesar 0,12 persen dan 0,09 persen,” ujarnya.

Baca Juga :  Kambing Lebih Diminati Ketimbang Sapi

Sementara itu, Malang menjadi satu-satunya kota IHK di Jatim yang mengalami deflasi pada Februari. Tepatnya sebesar 0,01 persen.

Mulyono menambahkan, inflasi tahun kalender 2021 hingga Februari di Banyuwangi sebesar 0,27 persen. ”Tingkat inflasi tahun ke tahun alias Februari 2021 terhadap 2020 sebesar 1,4 persen,” pungkasnya. (sgt/afi/c1)

BANYUWANGI – Indeks harga-harga kebutuhan masyarakat di Banyuwangi pada dua bulan pertama 2021 mengalami peningkatan. Setelah sepanjang Januari lalu terjadi inflasi yang mencapai 0,18 persen, tren serupa berlanjut pada Februari. Kali ini, kabupaten ujung timur Pulau Jawa mengalami inflasi sebesar 0,09 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, inflasi Februari tersebut terutama dipicu kenaikan harga rokok kretek filter. Komoditas yang satu ini memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Sedangkan rokok putih menyumbang inflasi senilai 0,03 persen. Peningkatan harga rokok ditengarai akibat kenaikan cukai rokok yang ditetapkan pemerintah.

Selain rokok, tingginya curah hujan yang berdampak pada kenaikan harga beberapa komoditas sayuran juga memicu inflasi pada Februari. Contohnya bayam yang menyumbang inflasi sebesar 0,039 persen dan kangkung sebesar 0,034 persen.

Baca Juga :  AP II Investasi 300 Miliar, Dorong AirAsia Masuk Banyuwangi

Bukan itu saja, inflasi pada Februari juga dipicu kenaikan harga komoditas ikan laut segar. Di antaranya ikan lemuru dan tongkol. Sepanjang Februari lalu kenaikan harga ikan lemuru dan tongkol masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,026 persen dan 0,0245 persen.

Di sisi lain, inflasi pada Februari tertahan oleh turunnya harga beberapa komoditas, seperti emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat. Versi BPS, penurunan harga emas perhiasan dipicu turunnya harga emas dunia. Penurunan harga daging ayam ras ditengarai akibat pembatasan kegiatan masyarakat sehingga menurunkan permintaan terhadap komoditas tersebut. Sedangkan penurunan harga tomat diduga akibat melimpahnya stok komoditas tersebut di pasaran.

Kepala Seksi (Kasi) Statistik Distribusi BPS Banyuwangi Mulyono mengatakan, di antara delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim, sepanjang Februari tahun ini tujuh kota di antaranya mengalami inflasi, sebaliknya satu kota mengalami deflasi. ”Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya, yakni sebesar 0,29 persen disusul Jember dan Banyuwangi masing-masing sebesar 0,12 persen dan 0,09 persen,” ujarnya.

Baca Juga :  Minyak Goreng dan Tempe Kompak Picu Inflasi

Sementara itu, Malang menjadi satu-satunya kota IHK di Jatim yang mengalami deflasi pada Februari. Tepatnya sebesar 0,01 persen.

Mulyono menambahkan, inflasi tahun kalender 2021 hingga Februari di Banyuwangi sebesar 0,27 persen. ”Tingkat inflasi tahun ke tahun alias Februari 2021 terhadap 2020 sebesar 1,4 persen,” pungkasnya. (sgt/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/