alexametrics
23.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Oktober, Inflasi Banyuwangi Terendah Se-Jatim

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pengendalian harga-harga komoditas di Banyuwangi kembali mencatat hasil positif. Setidaknya itu tergambar dari tingkat inflasi di Bumi Blambangan periode Oktober. Pada periode tersebut, tingkat inflasi di Banyuwangi merupakan yang paling rendah dibandingkan delapan kota yang melakukan penghitungan indeks harga konsumen (IHK) di Jatim.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, pada Oktober Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,02 persen dibanding September. Pemicu utama inflasi pada periode ini adalah minyak goreng.

Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas di Banyuwangi pada Oktober secara umum mengalami peningkatan. ”Berdasar hasil pemantauan, terjadi inflasi sebesar 0,02 persen atau terjadi kenaikan IHK dari 104,62 pada September menjadi 104,64 pada Oktober,” ujarnya kemarin (1/11).

Menurut Tri, minyak goreng menjadi komoditas yang menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi di Banyuwangi pada Oktober lalu. Komoditas yang satu ini memberikan andil sebesar 0,07 persen. Selain itu, beberapa komoditas bahan makanan lain juga menyumbang inflasi, yakni daging ayam ras sebesar 0,07 persen, cabai rawit sebesar 0,03 persen, dan cabai merah sebesar 0,01 persen. ”Kenaikan harga beberapa komoditas makanan disebabkan naiknya permintaan karena pada Oktober ada perayaan hari besar keagamaan,” tuturnya.

Di sisi lain, beberapa komoditas ikan segar mengalami deflasi alias menghambat inflasi. Rinciannya, ikan mernying sebesar 0,1 persen, ikan tongkol 0,09 persen, serta cumi-cumi dan ikan layang masing-masing sebesar 0,02 persen. ”Selain itu, ada juga komoditas nonmakanan yang menjadi penyumbang deflasi, yakni mobil sebesar 0,03 persen dan emas perhiasan sebesar 0,01 persen,” kata Tri.

Masih menurut Tri, tingkat inflasi Banyuwangi tahun kalender, yakni periode Januari hingga Oktober sebesar 0,58 persen. Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun, tepatnya Oktober 2021 terhadap Oktober 2020 sebesar 1,22 persen.

Tri menambahkan, pada Oktober lalu semua kota IHK di Jatim mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,2 persen diikuti Malang dan Kediri masing-masing sebesar 0,19 dan 0,18 persen. ”Sedangkan inflasi paling rendah terjadi di Banyuwangi dan Sumenep, masing-masing sebesar 0,02 persen,” pungkasnya. 

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pengendalian harga-harga komoditas di Banyuwangi kembali mencatat hasil positif. Setidaknya itu tergambar dari tingkat inflasi di Bumi Blambangan periode Oktober. Pada periode tersebut, tingkat inflasi di Banyuwangi merupakan yang paling rendah dibandingkan delapan kota yang melakukan penghitungan indeks harga konsumen (IHK) di Jatim.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, pada Oktober Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,02 persen dibanding September. Pemicu utama inflasi pada periode ini adalah minyak goreng.

Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas di Banyuwangi pada Oktober secara umum mengalami peningkatan. ”Berdasar hasil pemantauan, terjadi inflasi sebesar 0,02 persen atau terjadi kenaikan IHK dari 104,62 pada September menjadi 104,64 pada Oktober,” ujarnya kemarin (1/11).

Menurut Tri, minyak goreng menjadi komoditas yang menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi di Banyuwangi pada Oktober lalu. Komoditas yang satu ini memberikan andil sebesar 0,07 persen. Selain itu, beberapa komoditas bahan makanan lain juga menyumbang inflasi, yakni daging ayam ras sebesar 0,07 persen, cabai rawit sebesar 0,03 persen, dan cabai merah sebesar 0,01 persen. ”Kenaikan harga beberapa komoditas makanan disebabkan naiknya permintaan karena pada Oktober ada perayaan hari besar keagamaan,” tuturnya.

Di sisi lain, beberapa komoditas ikan segar mengalami deflasi alias menghambat inflasi. Rinciannya, ikan mernying sebesar 0,1 persen, ikan tongkol 0,09 persen, serta cumi-cumi dan ikan layang masing-masing sebesar 0,02 persen. ”Selain itu, ada juga komoditas nonmakanan yang menjadi penyumbang deflasi, yakni mobil sebesar 0,03 persen dan emas perhiasan sebesar 0,01 persen,” kata Tri.

Masih menurut Tri, tingkat inflasi Banyuwangi tahun kalender, yakni periode Januari hingga Oktober sebesar 0,58 persen. Sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun, tepatnya Oktober 2021 terhadap Oktober 2020 sebesar 1,22 persen.

Tri menambahkan, pada Oktober lalu semua kota IHK di Jatim mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,2 persen diikuti Malang dan Kediri masing-masing sebesar 0,19 dan 0,18 persen. ”Sedangkan inflasi paling rendah terjadi di Banyuwangi dan Sumenep, masing-masing sebesar 0,02 persen,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/