alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Optimistis Ekonomi BWI Tumbuh 5,4 Persen pada 2021

 BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Eksekutif dan legislatif mulai membahas anggaran keuangan Pemkab Banyuwangi tahun depan. Pada perencanaan awal, ekonomi Bumi Blambangan diproyeksi tumbuh sebesar 4,3 sampai 5,4 persen.

          Hal itu terungkap saat Bupati Abdullah Azwar Anas menyampaikan nota pengantar Kebijakan Umum Anggaran serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) tahun 2021 kemarin (2/11). Penyampaian dilakukan melalui forum rapat paripurna virtual yang dipimpin Wakil Ketua DPRD M. Ali Mahrus didampingi Wakil Ketua Dewan Michael Edy Hariyanto.

          Bupati Anas mengatakan, di akhir masa jabatan dirinya bersama Wakil Bupati (Wabup) Yusuf Widyatmoko, pihaknya mengajak dewan untuk tetap menguatkan langkah, melakukan akselerasi seiring meningkatnya harapan masyarakat, serta berdoa bersama agar pandemi Covid-19 segera berakhir. “Sehingga kita dapat bersama-sama bangkit untuk melakukan pemulihan ekonomi kembali,” ujarnya.

          Anas menuturkan, merujuk pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo pada 14 Agustus lalu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 4,5 persen sampai 5,5 persen. Tingkat pertumbuhan ekonomi ini diharapkan didukung oleh peningkatan konsumsi domestik dan investasi sebagai motor penggerak utama. Sedangkan inflasi akan tetap terjaga pada tingkat 3 persen untuk mendukung daya beli masyarakat. Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 14.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

          Selanjutnya, Anas menyampaikan proyeksi indikator makro pemkab Banyuwangi harus betul-betul dikalkulasi dengan cermat. “Sehingga ekonomi pertumbuhan ekonomi Banyuwangi diproyeksi untuk titik rendah sebesar 4,3 persen dan moderatnya adalah 5,4 persen,” ujarnya.

          Anas menuturkan, kinerja positif perekonomian Banyuwangi di tahun 2021 didukung beberapa sektor yang tumbuh signifikan. Di antaranya sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 11,27 persen dan diikuti sektor transportasi dan pergudangan sebesar 9,67 persen. Dua sektor ini tumbuh seiring dengan mulai bergeraknya aktivitas pariwisata, salah satunya dengan pembukaan destinasi wisata unggulan dengan aturan ketat protokol kesehatan. “Hal ini didukung juga dengan dibuka dan aktifnya kembali moda transportasi antarkota, khususnya kereta api dan bandara,” kata Anas.

          Anas menambahkan sektor-sektor lain yang akan dikut bergerak positif dengan bergeraknya aktivitas pariwisata antara lain sektor jasa, seperti biro perjalanan, rental kendaraan, event organizer, dan lain-lain dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 8,5 persen. Betikutnya, industri pengolahan diperkirakan tumbuh sebesar 7,23 persen dengan mula imbuhnya permintaan pasar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang mendukung pariwisata.

          Sektor perdagangan juga akan mengalami kinerja positif dan diproyeksi tumbuh sebesar 9,03 persen. Sedangkan sektor jasa lainnya yang di dalamnya meliputi jasa kesenian, hiburan, dan rekreasi juga diproyeksi tumbuh.

          Namun, di antara sektor-sektor yang diproyeksi berkinerja positif tersebut, terdapat satu sektor yang tumbuh negatif, yakni sektor pertanian dengan proyeksi pertumbuhan sebesar minus 1,77 persen. Sektor pertanian diprediksi tidak bisa melanjutkan kinerja positif seperti tahun ini lantaran beberapa faktor, antara lain prediksi dari Fod and Agriculture Organization (FAO) yang menyebutkan bahwa akan terjadi ancaman krisis pangan global pada 2021, termasuk Indonesia. “Krisis pangan global ini bisa menjadi peluang apabila Pemkab Banyuwangi bisa mengantisipasi melalui program-program yang fokus pada ketersediaan pangan, food security, kesiapan produksi pangan, produksi dan produktivitas, kesiapan industri pengolahan pascapanen, serta efisiensi rantai pasok dan distribusi,” papar Anas.

          Anas menambahkan, pemberdayaan masyarakat berbasis keluarga dalam rangka penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu program inovasi yang bisa dilaksanakan sebagai antisipasi krisis pangan global agar sektor pertanian tidak semakin tertekan di 2021.

          Sementara itu, Anas juga menyampaikan sejumlah poin penting terkait nominal anggaran keuangan pemkab tahun depan. Dikatakan, salah satu bagian penting dalam belanja negara adalah transfer ke daerah dan dana desa, di mana dalam masa pandemi Covid-19 tahun ini sangat mempengaruhi kapasitas fiskal pemerintah pusat. “Sehingga terdapat penyesuaian sesuai dengan regulasi yang telah ditentukan pemerintah pusat,” kata dia.

          Secara umum, imbuh Anas, target pendapatan daerah tahun 2021 sebesar Rp 2,756 triliun atau turun sebesar Rp 458,764 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Banyuwangi 2020 sebesar Rp 3,215 triliun. Penyesuaian pendapatan daerah tersebut berasal dari beberapa komponen, yakni pendapatan asli daerah (PAD), pendapatan transfer, serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.

          PAD tahun 2021 diproyeksi sebesar Rp 505,156 miliar. Angka ini turun sebesar Rp 60,038 miliar dari APBD 2020 yang mencapai Rp 565,194 miliar. Sedangkan pendapatan transfer turun menjadi Rp 2,089 triliun atau berkurang Rp 257,337 miliar dari APBD 2020 sebesar Rp 2,346 triliun. “Lain-lain pendapatan daerah yang sah mengalami penurunan sebesar Rp 141,387 miliar dari APBD 2020 sebesar Rp 303,25 miliar menjadi Rp 161,862 miliar,” terang Anas.

          Di sisi lain, total belanja daerah pada APBD 2021 direncanakan sebesar Rp 2,769 triliun. Angka ini turun sebesar 629,371 miliar dari belanja daerah pada APBD 2020 yang mencapai Rp 3,398 triliun. Sedangkan jumlah pembiayaan daerah pada APBD 2021 diperkirakan turun sebesar Rp 170,607 miliar. Tepatnya dari Rp 183,207 miliar pada APBD 2020 menjadi 12,6 miliar pada APBD tahun depan. (sgt)

 BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Eksekutif dan legislatif mulai membahas anggaran keuangan Pemkab Banyuwangi tahun depan. Pada perencanaan awal, ekonomi Bumi Blambangan diproyeksi tumbuh sebesar 4,3 sampai 5,4 persen.

          Hal itu terungkap saat Bupati Abdullah Azwar Anas menyampaikan nota pengantar Kebijakan Umum Anggaran serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) tahun 2021 kemarin (2/11). Penyampaian dilakukan melalui forum rapat paripurna virtual yang dipimpin Wakil Ketua DPRD M. Ali Mahrus didampingi Wakil Ketua Dewan Michael Edy Hariyanto.

          Bupati Anas mengatakan, di akhir masa jabatan dirinya bersama Wakil Bupati (Wabup) Yusuf Widyatmoko, pihaknya mengajak dewan untuk tetap menguatkan langkah, melakukan akselerasi seiring meningkatnya harapan masyarakat, serta berdoa bersama agar pandemi Covid-19 segera berakhir. “Sehingga kita dapat bersama-sama bangkit untuk melakukan pemulihan ekonomi kembali,” ujarnya.

          Anas menuturkan, merujuk pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo pada 14 Agustus lalu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 4,5 persen sampai 5,5 persen. Tingkat pertumbuhan ekonomi ini diharapkan didukung oleh peningkatan konsumsi domestik dan investasi sebagai motor penggerak utama. Sedangkan inflasi akan tetap terjaga pada tingkat 3 persen untuk mendukung daya beli masyarakat. Rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 14.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

          Selanjutnya, Anas menyampaikan proyeksi indikator makro pemkab Banyuwangi harus betul-betul dikalkulasi dengan cermat. “Sehingga ekonomi pertumbuhan ekonomi Banyuwangi diproyeksi untuk titik rendah sebesar 4,3 persen dan moderatnya adalah 5,4 persen,” ujarnya.

          Anas menuturkan, kinerja positif perekonomian Banyuwangi di tahun 2021 didukung beberapa sektor yang tumbuh signifikan. Di antaranya sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 11,27 persen dan diikuti sektor transportasi dan pergudangan sebesar 9,67 persen. Dua sektor ini tumbuh seiring dengan mulai bergeraknya aktivitas pariwisata, salah satunya dengan pembukaan destinasi wisata unggulan dengan aturan ketat protokol kesehatan. “Hal ini didukung juga dengan dibuka dan aktifnya kembali moda transportasi antarkota, khususnya kereta api dan bandara,” kata Anas.

          Anas menambahkan sektor-sektor lain yang akan dikut bergerak positif dengan bergeraknya aktivitas pariwisata antara lain sektor jasa, seperti biro perjalanan, rental kendaraan, event organizer, dan lain-lain dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 8,5 persen. Betikutnya, industri pengolahan diperkirakan tumbuh sebesar 7,23 persen dengan mula imbuhnya permintaan pasar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang mendukung pariwisata.

          Sektor perdagangan juga akan mengalami kinerja positif dan diproyeksi tumbuh sebesar 9,03 persen. Sedangkan sektor jasa lainnya yang di dalamnya meliputi jasa kesenian, hiburan, dan rekreasi juga diproyeksi tumbuh.

          Namun, di antara sektor-sektor yang diproyeksi berkinerja positif tersebut, terdapat satu sektor yang tumbuh negatif, yakni sektor pertanian dengan proyeksi pertumbuhan sebesar minus 1,77 persen. Sektor pertanian diprediksi tidak bisa melanjutkan kinerja positif seperti tahun ini lantaran beberapa faktor, antara lain prediksi dari Fod and Agriculture Organization (FAO) yang menyebutkan bahwa akan terjadi ancaman krisis pangan global pada 2021, termasuk Indonesia. “Krisis pangan global ini bisa menjadi peluang apabila Pemkab Banyuwangi bisa mengantisipasi melalui program-program yang fokus pada ketersediaan pangan, food security, kesiapan produksi pangan, produksi dan produktivitas, kesiapan industri pengolahan pascapanen, serta efisiensi rantai pasok dan distribusi,” papar Anas.

          Anas menambahkan, pemberdayaan masyarakat berbasis keluarga dalam rangka penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu program inovasi yang bisa dilaksanakan sebagai antisipasi krisis pangan global agar sektor pertanian tidak semakin tertekan di 2021.

          Sementara itu, Anas juga menyampaikan sejumlah poin penting terkait nominal anggaran keuangan pemkab tahun depan. Dikatakan, salah satu bagian penting dalam belanja negara adalah transfer ke daerah dan dana desa, di mana dalam masa pandemi Covid-19 tahun ini sangat mempengaruhi kapasitas fiskal pemerintah pusat. “Sehingga terdapat penyesuaian sesuai dengan regulasi yang telah ditentukan pemerintah pusat,” kata dia.

          Secara umum, imbuh Anas, target pendapatan daerah tahun 2021 sebesar Rp 2,756 triliun atau turun sebesar Rp 458,764 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Banyuwangi 2020 sebesar Rp 3,215 triliun. Penyesuaian pendapatan daerah tersebut berasal dari beberapa komponen, yakni pendapatan asli daerah (PAD), pendapatan transfer, serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.

          PAD tahun 2021 diproyeksi sebesar Rp 505,156 miliar. Angka ini turun sebesar Rp 60,038 miliar dari APBD 2020 yang mencapai Rp 565,194 miliar. Sedangkan pendapatan transfer turun menjadi Rp 2,089 triliun atau berkurang Rp 257,337 miliar dari APBD 2020 sebesar Rp 2,346 triliun. “Lain-lain pendapatan daerah yang sah mengalami penurunan sebesar Rp 141,387 miliar dari APBD 2020 sebesar Rp 303,25 miliar menjadi Rp 161,862 miliar,” terang Anas.

          Di sisi lain, total belanja daerah pada APBD 2021 direncanakan sebesar Rp 2,769 triliun. Angka ini turun sebesar 629,371 miliar dari belanja daerah pada APBD 2020 yang mencapai Rp 3,398 triliun. Sedangkan jumlah pembiayaan daerah pada APBD 2021 diperkirakan turun sebesar Rp 170,607 miliar. Tepatnya dari Rp 183,207 miliar pada APBD 2020 menjadi 12,6 miliar pada APBD tahun depan. (sgt)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/