27.5 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Kemarau Basah, Produktivitas Durian-Manggis Anjlok

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pertanian di Banyuwangi mengalami berbagai tantangan. Beberapa permasalahan seperti penurunan jumlah produksi hingga fluktuasi harga menjadi perhatian Dinas Pertanian dan Pangan (Disperta-Pangan) Banyuwangi.

Melalui momen Hari Tani Nasional yang jatuh pada Sabtu (24/9), Disperta melaksanakan berbagai strategi demi menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Mulai kompetisi untuk menjaring ide usaha hingga program lainnya untuk meningkatkan produktivitas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan M. Khoiri mengatakan, sebagai kabupaten dengan wilayah terluas di Pulau Jawa, sumbangan sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 29,69 persen. Dikatakan, Banyuwangi memiliki beberapa komoditas unggulan antara lain padi, jagung, kedelai, cabai merah besar, cabai rawit, berbagai jenis buah, dan kopi.

Selama periode 2020–2021, ada sejumlah komoditas unggulan di Banyuwangi yang mengalami penurunan produktivitas. Namun, ada pula komoditas unggulan lainnya yang mengalami peningkatan. Khoiri mencontohkan, penurunan pada komoditas padi terjadi akibat alih fungsi komoditas tanaman pangan ke tanaman jagung dan hortikultura lainnya. Dampaknya, terjadi peningkatan produktivitas pada komoditas unggulan lain seperti jagung, kedelai, dan sebagainya.

Isu global seperti pandemi Covid-19, krisis perang Ukraina-Rusia, dan perubahan iklim menjadi permasalahan serius yang dihadapi Disperta Pangan. Ketiganya berdampak terhadap kenaikan harga sarana dan produksi (saprodi), seperti pupuk dan pestisida. ”Subsidi pemerintah terhadap pupuk juga dibatasi dan dikurangi, dengan adanya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 10 Tahun 2022, sehingga ancaman penurunan produktivitas ada di depan mata,” imbuh Khoiri.

Secara singkat, hal yang telah dilakukan Disperta terkait dengan pembatasan pupuk subsidi di antaranya berinovasi bersama kelompok petani untuk menggunakan pupuk alternatif pembenah tanah dan pupuk organik. Petani dapat menggunakan pupuk alternatif sebagai solusi pembatasan pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk nonsubsidi.

Baca Juga :  Aipda Syaiful Munir, Polisi Penebar ”Virus” Gerakan Tanam Alpukat

Mahalnya saprodi pertanian diimbangi dengan mahalnya biaya tenaga kerja pertanian karena minimnya regenerasi. Isu ini merupakan tantangan untuk memastikan ketersediaan dan ketahanan pangan.

Generasi milenial yang diharapkan mampu memodernisasi sektor pertanian, enggan untuk kembali ke sektor ini. Akibatnya, sumber daya pertanian diisi oleh sumber daya manusia yang sudah berusia lanjut dan sulit dalam transfer teknologi terbaru.

Pengembangan hilirisasi produk pertanian juga masih minim. Kebanyakan petani hanya melaksanakan pertanian di on farm (kegiatan budi daya) saja tanpa memperhatikan off farm (kegiatan pascapanen), sehingga hasil yang didapatkan menjadi kurang maksimal.

Fluktuasi harga pertanian yang sangat tinggi sepanjang tahun juga menjadi tantangan bagi Pemerintah Banyuwangi untuk menjamin kesejahteraan petani. Harga di tingkat petani ditentukan oleh pasar pasar induk di Jakarta, Surabaya, dan Bali. ”Kepastian harga ini yang membuat petani kadang enggan untuk berbudi daya satu komoditas saja,” kata Khoiri.

Perubahan iklim, kondisi kemarau basah sepanjang tahun, memberi dampak positif pada sebagian besar tanaman hortikultura dan perkebunan. Petani yang biasanya kesulitan mengairi lahannya, di tahun ini mereka tidak mengalami kendala yang berarti.

Namun, hadirnya kemarau basah cukup memukul dua komoditas unggulan di Banyuwangi yaitu durian dan manggis. Hujan yang terjadi pada fase pembungaan membuat produktivitas dua komoditas itu tersebut menurun. Selain itu, peningkatan  populasi hama dan penyakit juga harus menjadi perhatian.

Masih menurut Khoiri, Pemkab Banyuwangi melalui Disperta Pangan hadir untuk mengatasi kendala tersebut melalui beberapa program inovasi. Antara lain Jagoan Tani, Sister Say, Gerai Hastani, Smart Green House, Bilaperdu, dan Puting Sinaga. Kegiatan peningkatan sumber daya manusia (SDM) pertanian melalui kegiatan pelatihan juga dilakukan. Kegiatan sekolah lapang dan pelatihan pembuatan pupuk organik menjadi program unggulan di tahun 2022 ini.

Baca Juga :  Kerupuk Lidah Buaya Bermanfaat untuk Pencernaan

Untuk mendukung program pertanian berkelanjutan, Disperta Pangan juga melakukan pengembangan pertanian organik pada empat komoditas unggulan seluas 320 hektare (ha). Komoditas tersebut meliputi padi 200 ha, buah naga 40 ha, manggis 40 ha, dan kelapa 40 ha.

Sektor pertanian sebagai sektor penyedia pasokan pangan diharapkan bertumbuh dan berkembang setiap tahun. Sektor pertanian dapat tumbuh seiring mampu menyediakan pangan, menyediakan lapangan pekerjaan, serta serta penggerak ekonomi kerakyatan.

Dalam konteks ketahanan pangan, sektor pertanian merupakan tulang punggung dalam menjamin aspek ketersediaan pangan. Namun, juga perlu didukung sektor lain agar aspek akses pangan dan pemanfaatan pangan sampai di level rumah tangga. Dengan demikian, peningkatan produksi sejalan dengan pendapatan petani dan beriringan dengan peningkatan ketahanan pangan.

Pemanfaatan teknologi informasi untuk menuju pertanian presisi wajib diwujudkan untuk menjawab dampak perubahan iklim sehingga peningkatan produksi dan produktivitas dapat terwujud. ”Seluruh permasalahan yang ada harus dapat dilalui. Tantangan merupakan cambuk untuk maju dan menjadikan inovasi untuk menjawab permasalahan. Pertanian harus maju di semua sektor. Selamat Hari Tani,” pungkas Khoiri. (cw3/sgt/c1)

Produktivitas Komoditas Unggulan Banyuwangi (dalam Ton)
  1. Padi 788.971 (2020) 784.732 (2021)
  2. Jagung 221.269 (2020) 252.592 (2021)
  3. Kedelai 10.347 (2020) 12.032 (2021)
  4. Cabai Merah Besar 13.966 (2020) 18.301 (2021)
  5. Cabai Rawit 23.518 (2020) 22.225 (2021)
  6. Semangka 32.335 (2020) 35.707 (2021)
  7. Melon 5.657 (2020) 6.292 (2021)
  8. Manggis 33.666 (2020) 13.870 (2021)
  9. Jeruk Siam 315.680 (2020) 366.625 (2021)
  10. Durian 14.754 (2020) 12.698 (2021)
  11. Buah Naga 62.452 (2020) 114.335 (2021)
  12. Pisang 209.387 (2020) 251.660 (2021)
  13. Kelapa 33.450 (2020) 33.722 (2021)
  14. Kopi 10.518 (2020) 10.591 (2021)
  15. Sapi 128.609 (2020) 134.307 (2021)
  16. Kambing 136.901 (2020) 119.559 (2021)
  17. Domba 98.734 (2020) 74.335 (2021)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Pertanian di Banyuwangi mengalami berbagai tantangan. Beberapa permasalahan seperti penurunan jumlah produksi hingga fluktuasi harga menjadi perhatian Dinas Pertanian dan Pangan (Disperta-Pangan) Banyuwangi.

Melalui momen Hari Tani Nasional yang jatuh pada Sabtu (24/9), Disperta melaksanakan berbagai strategi demi menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Mulai kompetisi untuk menjaring ide usaha hingga program lainnya untuk meningkatkan produktivitas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan M. Khoiri mengatakan, sebagai kabupaten dengan wilayah terluas di Pulau Jawa, sumbangan sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 29,69 persen. Dikatakan, Banyuwangi memiliki beberapa komoditas unggulan antara lain padi, jagung, kedelai, cabai merah besar, cabai rawit, berbagai jenis buah, dan kopi.

Selama periode 2020–2021, ada sejumlah komoditas unggulan di Banyuwangi yang mengalami penurunan produktivitas. Namun, ada pula komoditas unggulan lainnya yang mengalami peningkatan. Khoiri mencontohkan, penurunan pada komoditas padi terjadi akibat alih fungsi komoditas tanaman pangan ke tanaman jagung dan hortikultura lainnya. Dampaknya, terjadi peningkatan produktivitas pada komoditas unggulan lain seperti jagung, kedelai, dan sebagainya.

Isu global seperti pandemi Covid-19, krisis perang Ukraina-Rusia, dan perubahan iklim menjadi permasalahan serius yang dihadapi Disperta Pangan. Ketiganya berdampak terhadap kenaikan harga sarana dan produksi (saprodi), seperti pupuk dan pestisida. ”Subsidi pemerintah terhadap pupuk juga dibatasi dan dikurangi, dengan adanya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 10 Tahun 2022, sehingga ancaman penurunan produktivitas ada di depan mata,” imbuh Khoiri.

Secara singkat, hal yang telah dilakukan Disperta terkait dengan pembatasan pupuk subsidi di antaranya berinovasi bersama kelompok petani untuk menggunakan pupuk alternatif pembenah tanah dan pupuk organik. Petani dapat menggunakan pupuk alternatif sebagai solusi pembatasan pupuk subsidi dan mahalnya harga pupuk nonsubsidi.

Baca Juga :  Kenaikan Tarif Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Belum Berlaku

Mahalnya saprodi pertanian diimbangi dengan mahalnya biaya tenaga kerja pertanian karena minimnya regenerasi. Isu ini merupakan tantangan untuk memastikan ketersediaan dan ketahanan pangan.

Generasi milenial yang diharapkan mampu memodernisasi sektor pertanian, enggan untuk kembali ke sektor ini. Akibatnya, sumber daya pertanian diisi oleh sumber daya manusia yang sudah berusia lanjut dan sulit dalam transfer teknologi terbaru.

Pengembangan hilirisasi produk pertanian juga masih minim. Kebanyakan petani hanya melaksanakan pertanian di on farm (kegiatan budi daya) saja tanpa memperhatikan off farm (kegiatan pascapanen), sehingga hasil yang didapatkan menjadi kurang maksimal.

Fluktuasi harga pertanian yang sangat tinggi sepanjang tahun juga menjadi tantangan bagi Pemerintah Banyuwangi untuk menjamin kesejahteraan petani. Harga di tingkat petani ditentukan oleh pasar pasar induk di Jakarta, Surabaya, dan Bali. ”Kepastian harga ini yang membuat petani kadang enggan untuk berbudi daya satu komoditas saja,” kata Khoiri.

Perubahan iklim, kondisi kemarau basah sepanjang tahun, memberi dampak positif pada sebagian besar tanaman hortikultura dan perkebunan. Petani yang biasanya kesulitan mengairi lahannya, di tahun ini mereka tidak mengalami kendala yang berarti.

Namun, hadirnya kemarau basah cukup memukul dua komoditas unggulan di Banyuwangi yaitu durian dan manggis. Hujan yang terjadi pada fase pembungaan membuat produktivitas dua komoditas itu tersebut menurun. Selain itu, peningkatan  populasi hama dan penyakit juga harus menjadi perhatian.

Masih menurut Khoiri, Pemkab Banyuwangi melalui Disperta Pangan hadir untuk mengatasi kendala tersebut melalui beberapa program inovasi. Antara lain Jagoan Tani, Sister Say, Gerai Hastani, Smart Green House, Bilaperdu, dan Puting Sinaga. Kegiatan peningkatan sumber daya manusia (SDM) pertanian melalui kegiatan pelatihan juga dilakukan. Kegiatan sekolah lapang dan pelatihan pembuatan pupuk organik menjadi program unggulan di tahun 2022 ini.

Baca Juga :  Aipda Syaiful Munir, Polisi Penebar ”Virus” Gerakan Tanam Alpukat

Untuk mendukung program pertanian berkelanjutan, Disperta Pangan juga melakukan pengembangan pertanian organik pada empat komoditas unggulan seluas 320 hektare (ha). Komoditas tersebut meliputi padi 200 ha, buah naga 40 ha, manggis 40 ha, dan kelapa 40 ha.

Sektor pertanian sebagai sektor penyedia pasokan pangan diharapkan bertumbuh dan berkembang setiap tahun. Sektor pertanian dapat tumbuh seiring mampu menyediakan pangan, menyediakan lapangan pekerjaan, serta serta penggerak ekonomi kerakyatan.

Dalam konteks ketahanan pangan, sektor pertanian merupakan tulang punggung dalam menjamin aspek ketersediaan pangan. Namun, juga perlu didukung sektor lain agar aspek akses pangan dan pemanfaatan pangan sampai di level rumah tangga. Dengan demikian, peningkatan produksi sejalan dengan pendapatan petani dan beriringan dengan peningkatan ketahanan pangan.

Pemanfaatan teknologi informasi untuk menuju pertanian presisi wajib diwujudkan untuk menjawab dampak perubahan iklim sehingga peningkatan produksi dan produktivitas dapat terwujud. ”Seluruh permasalahan yang ada harus dapat dilalui. Tantangan merupakan cambuk untuk maju dan menjadikan inovasi untuk menjawab permasalahan. Pertanian harus maju di semua sektor. Selamat Hari Tani,” pungkas Khoiri. (cw3/sgt/c1)

Produktivitas Komoditas Unggulan Banyuwangi (dalam Ton)
  1. Padi 788.971 (2020) 784.732 (2021)
  2. Jagung 221.269 (2020) 252.592 (2021)
  3. Kedelai 10.347 (2020) 12.032 (2021)
  4. Cabai Merah Besar 13.966 (2020) 18.301 (2021)
  5. Cabai Rawit 23.518 (2020) 22.225 (2021)
  6. Semangka 32.335 (2020) 35.707 (2021)
  7. Melon 5.657 (2020) 6.292 (2021)
  8. Manggis 33.666 (2020) 13.870 (2021)
  9. Jeruk Siam 315.680 (2020) 366.625 (2021)
  10. Durian 14.754 (2020) 12.698 (2021)
  11. Buah Naga 62.452 (2020) 114.335 (2021)
  12. Pisang 209.387 (2020) 251.660 (2021)
  13. Kelapa 33.450 (2020) 33.722 (2021)
  14. Kopi 10.518 (2020) 10.591 (2021)
  15. Sapi 128.609 (2020) 134.307 (2021)
  16. Kambing 136.901 (2020) 119.559 (2021)
  17. Domba 98.734 (2020) 74.335 (2021)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/