Ketua MWC NU Kecamatan Banyuwangi KH. Akhmad Musollin beserta jajaran hadir langsung dalam pelatihan tersebut. Hadir pula Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi yang didapuk sebagai salah satu pemateri.
Ketua panitia Haikal Kafili menjelaskan, acara tersebut dilaksanakan sebagai konsolidasi organisasi ranting NU yang berada di Kecamatan Banyuwangi. “Acara ini untuk memberikan edukasi kepada peserta agar paham bagaimana jalannya organisasi dan tertib administrasi,” ujarnya.
Haikal menambahkan, pasca pembentukan kepengurusan baru di jajaran MWC NU Banyuwangi, membuat acara ini sangat berguna. Sebab, banyak pengurus-pengurus baru yang baru dilantik. “Ada 80 persen pengurus baru yang dilantik, sehingga perlu sekali untuk menanamkan spirit berorganisasi kepada para pengurus,” ujar pria yang juga wakil ketua MWC Banyuwangi tersebut.
Sejumlah materi diberikan kepada para peserta pelatihan. Salah satunya materi wawasan ke-NU-an yang disampaikan oleh KH. Fatah Zamroni. Ia menjelaskan mazhab-mazhab yang dianut oleh NU sebagai pegangan dalam melaksanakan kehidupan. “Kita harus mengetahui dan mengamalkan ajaran NU,” harapnya.
Di sesi kedua, materi tentang dakwah melalui media disampaikan oleh Samsudin Adlawi. Dia memaparkan tentang derasnya arus media sosial memengaruhi tatanan kehidupan. Maka perlu filter dari media-media berbasis Islam seperti yang dimiliki NU. Demi mencegah berita hoax yang bertebaran di jagat maya. “Kita berdakwah ini menyampaikan berita yang bersumber dari Allah dan Nabi, jika salah dalam menyampaikan berita tentang agama, maka akan kacau umat manusia,” kata Ketua Dewan Pengarah DKB Banyuwangi tersebut.
Samsudin menambahkan, pentingnya NU memanfaatkan media sebagai media dakwah agar tidak dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan kiai atau ulama. “Apalagi sebentar lagi tahun politik, akan banyak kiai bayaran yang menjual ayat-ayat Tuhan demi meraup dukungan,” katanya.
Acara dengan tema “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menyambut Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru”, disambut bahagia oleh peserta. Seperti disampaikan Saiful, 36, peserta dari Ranting NU Kelurahan Temenggungan. Dia mengaku bangga ikut dalam acara tersebut. Saiful menjadi lebih paham tentang organisasi dan administrasi di NU. “Saya kan masih baru di kepengurusan, jadi acara ini sangat bermanfaat sekali,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta dari Ranting NU Singonegaraan, Rosyid, 46, bertanya seputar tulisan-tulisan yang masuk di kolom opini Jawa Pos Radar Banyuwangi jarang sekali ada karya dari warga NU. “Kenapa yang sering dimuat karya dari akademisi dan pelajar, jarang saya melihat karya dari kader NU,” tanya dia kepada nara sumber.
Samsudin Adlawi, sebagai pembicara langsung memberikan jawaban yang melegakan. Menurut dia, warga NU jarang mengirim karya. “Meski ada yang mengirim karya dari warga NU, tapi tidak memberi identitas NU-nya, seharusnya pada identitas didahulukan posisi di NU baru gelar akademisnya,” jawabnya. (cw2/sgt) Editor : AF Ichsan Rasyid