RADARBANYUWANGI.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat kapasitas penelitian astronomi nasional melalui pembangunan Observatorium Nasional Timau yang berlokasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Proyek strategis ini kini memasuki tahap penting dengan target operasional teleskop optik berdiameter 3,8 meter pada tahun ini.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menegaskan bahwa pembangunan observatorium tersebut merupakan langkah besar dalam meningkatkan daya saing riset antariksa Indonesia.
“BRIN memiliki mandat untuk melakukan berbagai penelitian, termasuk di bidang sains dan antariksa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membangun Observatorium Nasional di Timau, Amfoang, Kupang, Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.
Selain menyiapkan pengoperasian teleskop optik, BRIN juga tengah merancang regulasi khusus guna menjaga kawasan observatorium dari polusi cahaya serta gangguan frekuensi radio. Langkah ini dinilai penting agar aktivitas penelitian dapat berjalan optimal dan menghasilkan data yang akurat.
Tak hanya mengandalkan teleskop optik, BRIN juga mengembangkan teleskop radio di lokasi yang sama. Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Peberlin Sitompul, menjelaskan bahwa fasilitas ini dirancang untuk mendukung pengamatan astronomi secara multi-panjang gelombang sekaligus memantau sampah antariksa.
“Observatorium Nasional Timau dibangun untuk mendukung pengembangan astronomi multi-panjang gelombang, serta pemantauan sampah antariksa menggunakan pengamatan pada panjang gelombang optik maupun radio,” jelasnya.
Sistem teleskop radio yang dikembangkan menggunakan array antena log-periodic dengan rentang frekuensi 40 hingga 870 MHz. Teknologi ini terintegrasi dengan CALLISTO spectrometer dan perangkat penerima berbasis software-defined radio (SDR) untuk merekam spektrum gelombang radio secara detail.
Melalui sistem tersebut, peneliti dapat memantau aktivitas Matahari, termasuk fenomena semburan radio atau solar radio burst. Hasil uji awal menunjukkan bahwa sistem telah mampu mendeteksi aktivitas radio Matahari, menandakan kesiapan operasionalnya.
Selain itu, tim peneliti juga melakukan pengukuran gangguan frekuensi radio (radio frequency interference/RFI) di sekitar kawasan observatorium. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar frekuensi di wilayah Timau relatif bersih dari gangguan sinyal buatan, sehingga dinilai ideal untuk pengembangan teleskop radio.
Ke depan, pengembangan teleskop radio akan ditingkatkan melalui penggunaan antena parabola berdiameter sekitar 20 meter yang mampu beroperasi pada frekuensi 1 hingga 50 GHz.
Dalam forum ilmiah yang sama, ilmuwan internasional turut berbagi perkembangan riset terkini. Salah satunya mengenai teknologi teleskop radio frekuensi rendah untuk studi cuaca antariksa, termasuk pemantauan emisi radio Matahari dan fenomena korona.
Sementara itu, perkembangan teknologi Very Long Baseline Interferometry (VLBI) juga menjadi sorotan. Sistem ini memungkinkan penggabungan sinyal dari berbagai teleskop radio di lokasi berbeda, menghasilkan pengukuran dengan presisi tinggi.
Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, berharap kemajuan ini dapat mendorong kolaborasi riset yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun global.
“Kami berharap pertemuan ini tidak hanya berlangsung hari ini, tetapi dapat berlanjut dengan diskusi lanjutan untuk merumuskan berbagai saran dan rekomendasi. Melalui pembangunan teleskop radio di Observatorium Nasional Timau, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kapasitas penelitian astronomi sekaligus berkontribusi dalam pemantauan lingkungan antariksa di tingkat global,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi