RADARBANYUWANGI.ID - Sebuah penemuan ilmiah mengejutkan berhasil menorehkan catatan baru dalam sejarah penelitian geologi dunia.
Para peneliti menemukan air tertua di bumi yang tersimpan jauh di bawah tanah Ontario, Kanada.
Air yang diperkirakan terbentuk di bawah kondisi atmosfer purba ini diduga telah terisolasi dari siklus air modern selama miliaran tahun.
Penelitian dilakukan menggunakan xenon dan sejumlah gas mulia lainnya yang bersifat inert secara kimiawi, tidak bereaksi dengan unsur lain, sehingga mampu menjadi pencatat data yang akurat dan andal untuk mengungkap usia serta komposisi air tersebut.
Ahli geologi dari Universitas Toronto, Barbara Sherwood Lollar, menjelaskan metodologi yang digunakan timnya.
"Dengan menggunakan isotop air dan khususnya gas mulia, secara kuantitatif dapat menentukan apakah air itu memiliki komponen modern. Dan tidak satupun air tersebut memilikinya, jadi air tersebut memang terisolasi dari siklus air modern," ujarnya seperti dikutip dari IFL Science, Selasa (3/3/2026).
Berdasarkan penelitian awal, air tersebut diperkirakan berusia 1,5 miliar tahun.
Namun para ilmuwan menduga usianya bisa jauh lebih tua karena mengandung gas yang berasal dari batuan dan sedimen berusia lebih dari 2,6 miliar tahun.
Selama periode tersebut, air itu tersimpan tanpa paparan oksigen maupun kehadiran organisme hidup apa pun.
Tentu saja pertanyaan yang muncul adalah apakah air itu bisa dikonsumsi.
Jawabannya tegas, tidak. Lollar bahkan mengklarifikasi kabar yang sempat viral bahwa ia meminum air tersebut.
"Sayangnya 'dan dia meminum air itu' adalah rekayasa media. Saya tidak meminumnya dan tidak akan melakukannya," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa tetes yang tidak sengaja mengenai wajahnya sudah cukup memberikan gambaran rasa air purba itu.
"Dapat mengetahui betapa pahitnya air tersebut," ujarnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi