RADARBANYUWANGI.ID - Regenerasi penutur bahasa Oseng kembali terus dilakukan Pemkab Banyuwangi. Jumat pagi (7/11), sebanyak 14 pelajar diberangkatkan ke Surabaya untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Timur.
Pemberangkatan 7 siswa SD dan 7 siswa SMP tersebut dilakukan di halaman kantor Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi. Mereka dilepas langsung oleh Kepala Dispendik Suratno.
“14 siswa tersebut merupakan duta Bahasa Oseng yang telah bertanding secara berjenjang dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan kini provinsi. Mereka adalah hasil seleksi Festival Literasi Using pada 1 November 2025 yang turut dihadiri Bupati Ipuk Fistiandani,” ujarnya.
Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan dan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) SD Dispendik Banyuwangi Erpandi menambahkan bahwa peluang tampil hingga kancah nasional sangat terbuka.
“Bisa jadi mereka nanti masuk peringkat satu di Tunas Bahasa Ibu kategori dua bahasa yaitu Madura dan Oseng. Sehingga mereka bisa diundang pada Hari Pendidikan Nasional Mei 2026 tingkat nasional,” ungkapnya.
Selain bertanding, duta Banyuwangi yang terdiri atas siswa SD, SMP dan didampingi guru tersebut juga turut berkolaborasi menampilkan seni pertunjukan Banyuwangian di Surabaya.
Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Timur digelar sejak Kamis (6/11) hingga Hari ini (8/11). Untuk kategori Bahasa Madura, peserta berasal dari 4 kabupaten di Pulau Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep) serta Situbondo dan Bondowoso.
Sementara itu, Banyuwangi tampil sebagai satu-satunya daerah dengan Bahasa Oseng sehingga dinyatakan tidak memiliki tandingan pada level ini.
Pemenang akan melaju ke festival tingkat nasional bersama daerah pemilik bahasa ibu dari seluruh Nusantara. Awarding Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Timur dilaksanakan di Hotel Santika Surabaya.
Delegasi Banyuwangi pada kategori Nulis Aksara diwakili oleh Ahmed Fahrizi Paythoni (SMPN 2 Banyuwangi) dan Tinnaka Aknini Magfiroh (SDN 2 Gintangan Blimbingsari).
Kategori Ndongeng diwakili Graceylla Alley Nadyne CP (SMPN 5 Banyuwangi) dan Novi Jasmin Al Marista (SDN 2 Sumberagung Pesanggaran).
Pada Ngewer diwakili Achmad Fikry Setiawan (SMPN 3 Rogojampi) dan Ulan Pancar Sari (SDN 3 Rogojampi).
Pada kategori pidato tampil Arayo Datan Pratama (SMPN 3 Rogojampi) dan Annora Hanifa Firmala (SDN 1 Licin).
Pada kategori Maca Geguritan tampil İstiqlal Syukri Ahmad (SMP Bustanul Makmur Genteng) dan Nabila Umaira Bramanta (SDN 4 Penganjuran).
Pada kategori Nembang diwakili Cinta Qieta Berliana Putry (SMP Muhammadiyah 7 Sempu) dan Putri Qoireen Khumaira Herlangga (SDN 1 Rogojampi).
Sedangkan pada Nulis Cerita Cendhak, Banyuwangi menurunkan Anggun Aulia Pratama Putri (SMPN 2 Cluring) dan Keyra Febrisal Wardani (SDN 1 Pakistaji Kabat).
Selain itu, Anggun dan Keyra selaku juara cerpen, serta juara 2 cerita cendhak yaitu Sifa Zulliyati (SMPN 1 Singojuruh) dan Aisya Nada Nahdliyina (SDN 1 Tamansuruh Glagah) juga diundang menghadiri awarding.
Keempat pelajar tersebut akan mengikuti inkubasi penulisan cerpen dwibahasa lokal dan Indonesia pada 9 hingga 11 November. Pemenang cerpen Bahasa Madura pun berhak mengikuti kegiatan inkubasi yang sama.
Program inkubasi dilaksanakan Balai Bahasa Jawa Timur di Hotel Swiss-Belinn Manyar dalam kegiatan Kemah Cerpen.
Widyaningsih, salah satu pengurus MGMP Bahasa Using SMP asal SMPN 1 Blimbingsari berharap bahasa Oseng terus lertasi. Regenerasi penutur bahasa Oseng terus berlangsung.
Untuk mendukung pelestarian bahasa Oseng, pada jenjang SD pelajaran bahasa Oseng sudah lama berjalan sebagai muatan lokal (mulok).
“Namun untuk jenjang SMP ada regulasi. Lewat ajang festival ini harapannya bupati segera buat gebrakan yang jadi gerakan,” harap Widyaningsih. (cw6/sgt)
Editor : Ali Sodiqin