RadarBanyuwangi.id - Ketapel, alat sederhana berbentuk huruf "Y" dengan karet elastis sebagai pelontar, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan.
Lebih dari sekadar mainan, ketapel mencerminkan kreativitas, kearifan lokal, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketapel dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia dengan nama lokal yang beragam, seperti "plintheng" di Gunungkidul dan "slepetan" di kalangan masyarakat Betawi.
Awalnya, ketapel digunakan oleh anak-anak untuk berburu burung atau mengambil buah di pohon.
Bahan-bahan yang digunakan pun sederhana dan mudah ditemukan di sekitar, seperti cabang pohon yang kuat, karet dari ban bekas, dan potongan kulit sebagai tempat peluru.
Seiring waktu, ketapel tidak hanya menjadi alat berburu, tetapi juga berkembang menjadi permainan yang mengasah keterampilan, ketepatan, dan kesabaran.
Permainan ini sering dimainkan di ruang terbuka, memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan alam dan teman-teman mereka.
Meskipun popularitasnya sempat menurun seiring perkembangan teknologi dan permainan modern, upaya pelestarian ketapel terus dilakukan.
Di Kalurahan Tepus, misalnya, ketapel diperkenalkan kembali melalui kegiatan ekstrakurikuler dan event lomba, menjadikannya bagian dari upaya pelestarian budaya tradisional.
Lebih lanjut, ketapel telah diresmikan sebagai cabang olahraga oleh Persatuan Ketapel Tradisional Indonesia (Perkatin) pada 18 Agustus 2020.
Organisasi ini telah mengadakan kompetisi dan kegiatan pelatihan di berbagai daerah, menunjukkan bahwa ketapel memiliki potensi sebagai olahraga yang menghibur dan mendidik.
Ketapel bukan sekadar alat atau permainan, ia mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan. Bentuk "Y" pada ketapel melambangkan pilihan dan arah dalam hidup, sementara karet yang ditarik mencerminkan tantangan dan tekanan yang dihadapi.
Semakin kuat tarikan, semakin jauh peluru melesat, mengajarkan bahwa melalui kesabaran dan usaha, seseorang dapat mencapai tujuan yang lebih tinggi. (*)
Editor : Ali Sodiqin