RadarBanyuwangi.id – Dampak pendaftaran peserta didik baru (PPDB) jalur zonasi dirasakan sejumlah sekolah swasta. Imbas paling besar adalah berkurangnya siswa baru yang mendaftar ke sekolah swasta.
Kondisi ini dirasakan oleh Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 3 Banyuwangi Lukman Hakim. Dia mengungkapkan, setidaknya dalam tiga tahun terakhir sekolah yang berlokasi di Jalan Jaksa Agung Suprapto tersebut perlahan mengalami pengurangan murid.
Merosotnya jumlah pendaftar tidak membuat Lukman berkecil hati. Dia justru semakin fokus untuk memperbaiki kualitas internal, baik sistem pembelajaran maupun pendidik.
”Tahun ajaran baru jumlah peserta didik mengalami penurunan mencapai 80 persen. Penurunan PPDB terjadi dalam dua sampai tiga tahun ke belakang sejak sistem zonasi diberlakukan,” ungkap Lukman.
Pada tahun 2020, siswa yang masuk ke SMP Muhammadiyah 3 Banyuwangi berjumlah 34 orang. Pada penerimaan berikutnya mengalami penurunan menjadi 23 siswa. Tahun ajaran baru ini kali ini hanya menerima 18 siswa. ”Sebanyak 18 siswa tersebut dibagi menjadi dua rombel. Setiap siswa dipisahkan sesuai jenis kelamin,” ujarnya.
Lukman menambahkan, meski mengalami penurunan jumlah murid, pihaknya tidak pernah melakukan komplain terkait regulasi yang telah ditetapkan pemerintah. Lukman justru fokus melakukan pengembangkan dengan memperkuat branding sekolah.
”Saya berpikir setiap berganti kepemimpinan pasti berganti juga peraturannya. Kami lebih utama fokus dengan visi dan misi serta menumbuhkan kualitas murid,” jelasnya.
Plh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Dwi Yanto mengungkapkan, penurunan peserta didik baru tidak hanya terjadi pada sekolah swasta, tapi juga menimpa sekolah negeri. Beberapa sekolah negeri kawasan perkotaan bahkan ada yang tidak memenuhi pagu.
Dikatakan Dwi Yanto, sistem zonasi bukan satu-satunya faktor penyebab menurunnya jumlah siswa. Faktor terpenting adalah bertambahnya pendirian sekolah baru seperti SMP/MTs, baik di dalam pondok pesantren maupun di luar pondok. Kondisi ini ikut memberikan andil dalam persebaran peserta didik baru.
”Saat ini yang perlu dilakukan adalah memberikan kepercayaan kepada masyarakat dengan strategi dan bukti bahwa sekolah tersebut memiliki karakteristik keunggulan,” tandas Dwi Yanto. (tar/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin