alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

BEM Untag Banyuwangi Jadi Motor Deradikalisasi Mahasiswa se-Banyuwangi

JawaPos.com – Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa Untag 1945 Banyuwangi dalam bentuk seminar (31/1/2018) dengan yang mengusung tema Menjaga Keutuhan NKRI mendapat apresiasi bagus. Terbukti, ruang F4 Untag 1945 Banyuwangi penuh sesak mahasiswa/i yang terdiri dari BEM se Banyuwangi dan Ormawa Se Banyuwangi.

Dalam sambutannya, Imam Ali Akbar, Presiden Mahasiswa Untag 1945 Banyuwangi menyampaikan bahwa radikalisasi bukan lagi isapan jempol belaka. Karena radikalisasi semakin marak dan terbuka dipermukaan. Baik itu yang mengarah pada tindakan anarkisme fisik (terorisme), maupun dalam bentuk penyebaran informasi palsu, dan ajaran-ajaranyang mengancam eksistensi NKRI.

“Oleh karenanya kita sebagai pewaris bangsa harus melawannya . Radikal jangan dilawan dengan radikal, tapi dengan model deradikalisasi, dengan tetap memegang teguh norma sebagaimana jati diri bangsa ini,” ujar lelaki yang biasa dipanggil Al.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan Untag 1945 Banyuwangi, Hary Priyanto, yang didaulat sebagai pemateri menyampaikan, “Piihan untuk menerapkan model deradikalisasi adalah hal yang tepat. Karena itu a dalah upaya kontra-radikal dengan model tanpa kekerasan. Tujuannya mengembalikan aktor radikal untuk kembali kejalan pemikiran yang lebih moderat,” tegas Hari Priyanto.

Pria yang merupakan  Dosen Fisip Untag 1945 Banyuwangi itu juga menyampaikan, “Radikalisasi itu tidak muncul tiba-tiba, tetapi karena aspek sosial politik, aspek emosi keagamaan, aspek kultural, aspek ideologis anti westernisme, dan aspek kebijakan pemerintah, dengan memanfaatkan masyarakat yang memiliki pendidikan rendah, mengalami krisis identitas, minimnya kondisi ekonomi, teralienasi secara sosial & budaya, memiliki keterbatasan akses politik, dan persoalan primordialisme & etnosentrisme,” jelasnya.

Oleh karenanya, lelaki yang biasa dipanggil Hary Pr itu mengatakan, karena mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan deradikalisasi hanya bersifat substruktur, maka ia berharap agar Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah memberikan dukungan suprastruktur dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan, serta dukungan infrastruktur sebagai lembaga pelaksana deradikalisasi.

“Yang penting, agar semangat menderadikalisi ini berhasil, maka jangan pernah malu untuk memiliki prinsip toleransi dan gotong royong,” pungkas Pembina UKM Pramuka Untag 1945 Banyuwangi itu dengan disambut tepuk tangan gemuruh peserta seminar.

JawaPos.com – Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa Untag 1945 Banyuwangi dalam bentuk seminar (31/1/2018) dengan yang mengusung tema Menjaga Keutuhan NKRI mendapat apresiasi bagus. Terbukti, ruang F4 Untag 1945 Banyuwangi penuh sesak mahasiswa/i yang terdiri dari BEM se Banyuwangi dan Ormawa Se Banyuwangi.

Dalam sambutannya, Imam Ali Akbar, Presiden Mahasiswa Untag 1945 Banyuwangi menyampaikan bahwa radikalisasi bukan lagi isapan jempol belaka. Karena radikalisasi semakin marak dan terbuka dipermukaan. Baik itu yang mengarah pada tindakan anarkisme fisik (terorisme), maupun dalam bentuk penyebaran informasi palsu, dan ajaran-ajaranyang mengancam eksistensi NKRI.

“Oleh karenanya kita sebagai pewaris bangsa harus melawannya . Radikal jangan dilawan dengan radikal, tapi dengan model deradikalisasi, dengan tetap memegang teguh norma sebagaimana jati diri bangsa ini,” ujar lelaki yang biasa dipanggil Al.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan Untag 1945 Banyuwangi, Hary Priyanto, yang didaulat sebagai pemateri menyampaikan, “Piihan untuk menerapkan model deradikalisasi adalah hal yang tepat. Karena itu a dalah upaya kontra-radikal dengan model tanpa kekerasan. Tujuannya mengembalikan aktor radikal untuk kembali kejalan pemikiran yang lebih moderat,” tegas Hari Priyanto.

Pria yang merupakan  Dosen Fisip Untag 1945 Banyuwangi itu juga menyampaikan, “Radikalisasi itu tidak muncul tiba-tiba, tetapi karena aspek sosial politik, aspek emosi keagamaan, aspek kultural, aspek ideologis anti westernisme, dan aspek kebijakan pemerintah, dengan memanfaatkan masyarakat yang memiliki pendidikan rendah, mengalami krisis identitas, minimnya kondisi ekonomi, teralienasi secara sosial & budaya, memiliki keterbatasan akses politik, dan persoalan primordialisme & etnosentrisme,” jelasnya.

Oleh karenanya, lelaki yang biasa dipanggil Hary Pr itu mengatakan, karena mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan deradikalisasi hanya bersifat substruktur, maka ia berharap agar Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah memberikan dukungan suprastruktur dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan, serta dukungan infrastruktur sebagai lembaga pelaksana deradikalisasi.

“Yang penting, agar semangat menderadikalisi ini berhasil, maka jangan pernah malu untuk memiliki prinsip toleransi dan gotong royong,” pungkas Pembina UKM Pramuka Untag 1945 Banyuwangi itu dengan disambut tepuk tangan gemuruh peserta seminar.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/