alexametrics
22.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Awalnya Hanya Bisa Mengucap I Love You, Kini Fasih Bilang Up to You

SONGGON – Hidup di pelosok desa dengan segala keterbatasan fasilitas dan sarana prasarana tidak menjadi penghalang seseorang untuk meraih sukses. Wahyudi, warga Desa Songgon, Banyuwangi, kini bisa bekerja di sebuah hotel berbintang. Tiga kali gagal mendaftar anggota TNI AD, tidak membuatnya patah semangat.

Pemuda berusia 26 tahun itu sudah empat tahun bekerja sebagai resepsionis dan auditor malam salah satu hotel bintang empat di Kabat. Kehidupan pemuda warga Dusun Gumukcandi, Desa/Kecamatan Songgon ini berubah drastis dibanding sepuluh tahun sebelumnya.

Maklum, sebelum masuk diterima sebagai karyawan hotel Wahyudi adalah pemuda pengangguran yang bekerja serabutan. ”Kadang nyopir ke Bali mengantar pisang, buah, dan sayuran,” ungkap Wahyudi.

Setelah menamatkan SMK jurusan Teknik Mesin tahun 2010, dia tak tahu harus bekerja apa. Pasalnya, ketika masih bersekolah dia tergolong siswa yang nakal, suka bolos, dan jarang masuk sekolah. Lulus sekolah saja sudah bagus. ”Saya paling benci pelajaran teori, apalagi mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris,” katanya.

Selepas lulus SMK, Wahyudi sempat mencoba peruntungan dengan mendaftar sebagai anggota TNI Angkatan Darat (AD). Sayang, dewi fortuna tidak berpihak kepadanya. Tiga kali mendaftar tentara, tiga kali pula harus kecewa dengan kegagalan yang dia terima.

Setelah gagal mendaftar anggota TNI AD, Wahyudi berkelana ke Surabaya, Malang, dan Bali. Di sana, Wahyudi bergabung dengan teman-teman sebaya di klub motor Vespa. Tak kenal pagi, siang, sore, dan malam, yang ada hanya bersuka ria. Hingga kemudian dia terdampar di Bali bersama rekan-rekan klub motor Vespa.

Ketika berada di Bali itulah, Wahyudi mulai banyak mendapatkan dorongan dari rekan-rekannya agar belajar bahasa Inggris. Di Pulau Dewata, kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu hal penting untuk bisa berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan wisatawan mancanegara. ”Ketika itu saya mulai berpikir untuk belajar bahasa Inggris agar bisa menjadi tour guide di Bali,” ujarnya.

Bermula dari situlah, Wahyudi mulai ada keinginan kuat untuk pulang ke Banyuwangi dan memutuskan belajar bahasa Inggris. Hingga akhirnya dia memilih kursus bahasa Inggris di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Desy Education.

Sebuah pilihan yang sangat berat, karena dia harus kembali belajar bahasa Inggris yang merupakan mata pelajaran yang paling dibenci saat masih duduk di bangku sekolah SMP dan SMK. Namun, berkat niat serta dorongan kemauan yang sangat kuat, Wahyudi mulai mendaftar sebagai peserta kursus di LKP Desy Education.

”Awal masuk kursus saya bingung. Terus terang saya tidak mengerti bahasa Inggris. Saya hafal kata I love you, kalau sekarang bisa mengucap up to you (terserah kamu),” ujarnya sembari tersenyum lebar.

Tahun 2016, Wahyudi aktif sebagai siswa di LKP Desy Education. Di sana dia mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan baru yang sama sekali belum pernah didapatkan sebelumnya. Bak gayung bersambut, saat masuk sebagai peserta kursus itu juga bersamaan dengan program beasiswa perhotelan melalui fasilitas dari Direktorat Kursus dan Pelatihan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbud-Ristek).

Hanya beberapa bulan belajar di LKP Desy Education, Wahyudi mulai lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Bahkan, oleh pihak LKP Desy Education dia ditempatkan magang di salah satu hotel ternama di Kecamatan Kalipuro.

Baru satu setengah bulan magang, ternyata ada lowongan pekerjaan di salah hotel bintang empat yang baru buka di Kecamatan Kabat. Wahyudi kemudian mencoba mendaftar. Tak disangka, surat lamaran diterima. Wahyudi langsung dipanggil untuk menjalani tes wawancara dan tes lainnya.

Kerja keras dan pengorbanan yang selama ini dia lakukan turun bersamaan dengan takdir Allah SWT yang tak pernah disangka-sangka. ”Alhamdulillah, saya langsung masuk dan diterima sebagai karyawan sampai saat ini,” ujar alumnus SDN 2 Bayu Kecamatan Songgon ini.

Wahyudi mengaku senang bisa bekerja di tempat yang nyaman dan dekat dengan keluarga. ”Banyak ilmu dan manfaatnya selama kursus di LKP Desy Education,” ungkap bapak satu anak ini.

Berkat kesempatan bekerja di hotel tersebut, Wahyudi semakin dipercaya di desanya. Dia didaulat sebagai Ketua Kelompok Tani Candi Lestari yang beberapa pekan lalu juga ikut bergabung dalam Festival Durian di Green Gumuk Candi, Kecamatan Songgon.

Direktur LKP Desy Education Handoyo Saputro membenarkan jika Wahyudi adalah peserta didiknya. Yang bersangkutan mendapatkan beasiswa program PKK bidang perhotelan yang difasilitasi Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek RI. Dalam menyelenggarakan pelatihan, pihaknya memang terlebih dulu mengelompokkan para peserta didik sesuai keahliannya masing-masing.

”Kami memang langsung menggandeng stakeholder, dengan harapan agar peserta didik bisa langsung mengobservasi atau mengimplementasikan apa yang dipelajari di LKP dan bisa langsung ditanyakan langsung kepada narasumber atau instruktur,” jelasnya.

Selama menjadi peserta didik di LKP Desy Education, kata Handoyo, peserta langsung praktik di hotel yang telah menggandeng kerja sama. Praktik itu meliputi food and beverage (F&B) service serta pelayanan pramusaji. Peserta didik juga mendapatkan pembelajaran yang diberikan, seperti table setting yang meliputi pengenalan berbagai equipment, serving, hingga clear up di hadapan tamu. ”Peserta didik langsung belajar dari ahlinya yang sebelumnya sudah dipelajari di kelas dengan kegiatan praktik,” jelasnya

Praktik langsung di lapangan tersebut sebagai bentuk komitmen Desy Education dalam mengimplementasikan link and match agar dapat melahirkan lulusan yang kompeten serta mampu berdaya saing global, khususnya pada peserta Program Kecakapan Kerja (PKK) yang diinisiasi oleh Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek RI.

”Kami bersyukur peserta didik kami dapat lebih mudah dan cepat terserap di dunia kerja. Cara inilah salah satu bentuk kontribusi kami bagi kemajuan negeri. Tidak hanya di bidang pendidikan, tapi juga di bidang industri kerja nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tandas Handoyo. 

SONGGON – Hidup di pelosok desa dengan segala keterbatasan fasilitas dan sarana prasarana tidak menjadi penghalang seseorang untuk meraih sukses. Wahyudi, warga Desa Songgon, Banyuwangi, kini bisa bekerja di sebuah hotel berbintang. Tiga kali gagal mendaftar anggota TNI AD, tidak membuatnya patah semangat.

Pemuda berusia 26 tahun itu sudah empat tahun bekerja sebagai resepsionis dan auditor malam salah satu hotel bintang empat di Kabat. Kehidupan pemuda warga Dusun Gumukcandi, Desa/Kecamatan Songgon ini berubah drastis dibanding sepuluh tahun sebelumnya.

Maklum, sebelum masuk diterima sebagai karyawan hotel Wahyudi adalah pemuda pengangguran yang bekerja serabutan. ”Kadang nyopir ke Bali mengantar pisang, buah, dan sayuran,” ungkap Wahyudi.

Setelah menamatkan SMK jurusan Teknik Mesin tahun 2010, dia tak tahu harus bekerja apa. Pasalnya, ketika masih bersekolah dia tergolong siswa yang nakal, suka bolos, dan jarang masuk sekolah. Lulus sekolah saja sudah bagus. ”Saya paling benci pelajaran teori, apalagi mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris,” katanya.

Selepas lulus SMK, Wahyudi sempat mencoba peruntungan dengan mendaftar sebagai anggota TNI Angkatan Darat (AD). Sayang, dewi fortuna tidak berpihak kepadanya. Tiga kali mendaftar tentara, tiga kali pula harus kecewa dengan kegagalan yang dia terima.

Setelah gagal mendaftar anggota TNI AD, Wahyudi berkelana ke Surabaya, Malang, dan Bali. Di sana, Wahyudi bergabung dengan teman-teman sebaya di klub motor Vespa. Tak kenal pagi, siang, sore, dan malam, yang ada hanya bersuka ria. Hingga kemudian dia terdampar di Bali bersama rekan-rekan klub motor Vespa.

Ketika berada di Bali itulah, Wahyudi mulai banyak mendapatkan dorongan dari rekan-rekannya agar belajar bahasa Inggris. Di Pulau Dewata, kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu hal penting untuk bisa berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan wisatawan mancanegara. ”Ketika itu saya mulai berpikir untuk belajar bahasa Inggris agar bisa menjadi tour guide di Bali,” ujarnya.

Bermula dari situlah, Wahyudi mulai ada keinginan kuat untuk pulang ke Banyuwangi dan memutuskan belajar bahasa Inggris. Hingga akhirnya dia memilih kursus bahasa Inggris di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Desy Education.

Sebuah pilihan yang sangat berat, karena dia harus kembali belajar bahasa Inggris yang merupakan mata pelajaran yang paling dibenci saat masih duduk di bangku sekolah SMP dan SMK. Namun, berkat niat serta dorongan kemauan yang sangat kuat, Wahyudi mulai mendaftar sebagai peserta kursus di LKP Desy Education.

”Awal masuk kursus saya bingung. Terus terang saya tidak mengerti bahasa Inggris. Saya hafal kata I love you, kalau sekarang bisa mengucap up to you (terserah kamu),” ujarnya sembari tersenyum lebar.

Tahun 2016, Wahyudi aktif sebagai siswa di LKP Desy Education. Di sana dia mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan baru yang sama sekali belum pernah didapatkan sebelumnya. Bak gayung bersambut, saat masuk sebagai peserta kursus itu juga bersamaan dengan program beasiswa perhotelan melalui fasilitas dari Direktorat Kursus dan Pelatihan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbud-Ristek).

Hanya beberapa bulan belajar di LKP Desy Education, Wahyudi mulai lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Bahkan, oleh pihak LKP Desy Education dia ditempatkan magang di salah satu hotel ternama di Kecamatan Kalipuro.

Baru satu setengah bulan magang, ternyata ada lowongan pekerjaan di salah hotel bintang empat yang baru buka di Kecamatan Kabat. Wahyudi kemudian mencoba mendaftar. Tak disangka, surat lamaran diterima. Wahyudi langsung dipanggil untuk menjalani tes wawancara dan tes lainnya.

Kerja keras dan pengorbanan yang selama ini dia lakukan turun bersamaan dengan takdir Allah SWT yang tak pernah disangka-sangka. ”Alhamdulillah, saya langsung masuk dan diterima sebagai karyawan sampai saat ini,” ujar alumnus SDN 2 Bayu Kecamatan Songgon ini.

Wahyudi mengaku senang bisa bekerja di tempat yang nyaman dan dekat dengan keluarga. ”Banyak ilmu dan manfaatnya selama kursus di LKP Desy Education,” ungkap bapak satu anak ini.

Berkat kesempatan bekerja di hotel tersebut, Wahyudi semakin dipercaya di desanya. Dia didaulat sebagai Ketua Kelompok Tani Candi Lestari yang beberapa pekan lalu juga ikut bergabung dalam Festival Durian di Green Gumuk Candi, Kecamatan Songgon.

Direktur LKP Desy Education Handoyo Saputro membenarkan jika Wahyudi adalah peserta didiknya. Yang bersangkutan mendapatkan beasiswa program PKK bidang perhotelan yang difasilitasi Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek RI. Dalam menyelenggarakan pelatihan, pihaknya memang terlebih dulu mengelompokkan para peserta didik sesuai keahliannya masing-masing.

”Kami memang langsung menggandeng stakeholder, dengan harapan agar peserta didik bisa langsung mengobservasi atau mengimplementasikan apa yang dipelajari di LKP dan bisa langsung ditanyakan langsung kepada narasumber atau instruktur,” jelasnya.

Selama menjadi peserta didik di LKP Desy Education, kata Handoyo, peserta langsung praktik di hotel yang telah menggandeng kerja sama. Praktik itu meliputi food and beverage (F&B) service serta pelayanan pramusaji. Peserta didik juga mendapatkan pembelajaran yang diberikan, seperti table setting yang meliputi pengenalan berbagai equipment, serving, hingga clear up di hadapan tamu. ”Peserta didik langsung belajar dari ahlinya yang sebelumnya sudah dipelajari di kelas dengan kegiatan praktik,” jelasnya

Praktik langsung di lapangan tersebut sebagai bentuk komitmen Desy Education dalam mengimplementasikan link and match agar dapat melahirkan lulusan yang kompeten serta mampu berdaya saing global, khususnya pada peserta Program Kecakapan Kerja (PKK) yang diinisiasi oleh Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek RI.

”Kami bersyukur peserta didik kami dapat lebih mudah dan cepat terserap di dunia kerja. Cara inilah salah satu bentuk kontribusi kami bagi kemajuan negeri. Tidak hanya di bidang pendidikan, tapi juga di bidang industri kerja nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tandas Handoyo. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/