alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Tagana Masuk Sekolah, Pemkab Siapkan Generasi Siaga Hadapi Bencana

BANGOREJO, Radar Banyuwangi – Sirene meraung-raung. Pertanda peringatan dini gempa bumi. Sontak, puluhan siswa berhamburan keluar kelas sembari melindungi kepala mereka. Sementara itu, dari arah lain sekelompok siswa berlari menjauhi kobaran api. Sejurus kemudian, langkah mereka terhenti di titik kumpul yang telah ditentukan.

Fenomena itu terjadi di SDN 5 Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Beruntung, gempa bumi maupun kebakaran tersebut bukanlah kejadian yang sesungguhnya. Itu merupakan simulasi mitigasi kebakaran dan gempa bumi yang digeber pada kegiatan Taruna Siaga Bencana alias Tagana Masuk Sejolah (TMS). Program nasional TMS tersebut kini memang tengah masif digeber di kabupaten the Sunrise of Java.

Bupati Ipuk Fiestiandani yang tengah menjalani program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di desa setempat pun datang dan meninjau langsung kegiatan yang digeber pada Rabu tersebut (22/6). ”Ini adalah bagian dari upaya pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Anak-anak diedukasi sejak dini tentang mitigasi kebencanaan. Sehingga, mereka mampu menyelamatkan diri dan melakukan evakuasi sederhana bila terjadi bencana,” ujarnya.

Baca Juga :  Masuk Kantor Pemkab Banyuwangi Wajib Gunakan PeduliLindungi

Edukasi mitigasi bencana tersebut menyasar kalangan pelajar pada jenjang SD dan SMP. Sejak 2021 TMS telah menjadi agenda rutin dalam program Bunga Desa yang dilaksanakan Bupati Ipuk setiap pekan di desa-desa yang tersebar di berbagai penjuru Bumi Blambangan.

Melalui TMS, kata Ipuk, pemkab berupaya menyiapkan generasi yang tanggap dan siap siaga menghadapi bencana. ”Bencana bisa datang kapan saja. Dengan pengetahuan mitigasi bencana yang dimiliki, diharapkan masyarakat bisa lebih tanggap sehingga bisa mengurangi risiko korban jiwa,” tuturnya.

Salah satu siswa, Kayla, mengaku senang dengan kegiatan Tagana Masuk Sekolah. ”Dapat ilmu baru. Kita jadi tahu macam-macam bencana dan cara menyelamatkan diri. Ini penting biar selamat jika tiba-tiba terjadi bencana,” ujarnya.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Henik Setyorini menambahkan, materi dasar yang diberikan dalam TMS terkait pengurangan resiko bencana, upaya pertolongan, dan potensi kebencanaan di masing-masing wilayah. ”Materi di setiap daerah berbeda sesuai potensi kebencanaannya. Misalnya, di Kecamatan Bangorejo materi mitigasinya terkait tanah longsor, gempa bumi, kebakaran, dan puting beliung. Materi ini akan berbeda saat kita di wilayah Muncar yang dekat dengan pantai,” urai Henik.

Baca Juga :  Dilla Go International Bersama Oasis International Academy

Kegiatan ini melibatkan puluhan instruktur Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Dinsos PPKB, Pemadam Kebakaran (Damkar), Satpol PP, serta tim pengelola Ijen Geopark. ”Selain mitigasi bencana, pelajar juga mendapat edukasi tentang Geopark Ijen. Bagaimana sejarah terbentuknya geologi, warisan budaya, dan keanekaragaman hayati di kawasan Geopark Ijen. Ini dalam rangka mendukung Geopark Ijen menjadi jaringan geopark dunia,” ungkap Henik.

Selain menyasar sekolah, edukasi mitigasi bencana di Banyuwangi juga dilakukan di kampus-kampus. Materi yang diberikan terkait manajemen di pengungsian. ”Kami mengedukasi mahasiswa agar mampu berperan sebagai relawan saat terjadi bencana. Mereka diharapkan bisa membantu para pengungsi, memastikan mereka aman secara logistik, lingkungan, hingga psikis,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

BANGOREJO, Radar Banyuwangi – Sirene meraung-raung. Pertanda peringatan dini gempa bumi. Sontak, puluhan siswa berhamburan keluar kelas sembari melindungi kepala mereka. Sementara itu, dari arah lain sekelompok siswa berlari menjauhi kobaran api. Sejurus kemudian, langkah mereka terhenti di titik kumpul yang telah ditentukan.

Fenomena itu terjadi di SDN 5 Kebondalem, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Beruntung, gempa bumi maupun kebakaran tersebut bukanlah kejadian yang sesungguhnya. Itu merupakan simulasi mitigasi kebakaran dan gempa bumi yang digeber pada kegiatan Taruna Siaga Bencana alias Tagana Masuk Sejolah (TMS). Program nasional TMS tersebut kini memang tengah masif digeber di kabupaten the Sunrise of Java.

Bupati Ipuk Fiestiandani yang tengah menjalani program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di desa setempat pun datang dan meninjau langsung kegiatan yang digeber pada Rabu tersebut (22/6). ”Ini adalah bagian dari upaya pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Anak-anak diedukasi sejak dini tentang mitigasi kebencanaan. Sehingga, mereka mampu menyelamatkan diri dan melakukan evakuasi sederhana bila terjadi bencana,” ujarnya.

Baca Juga :  Tak Saklek, Ahli Waris Tunggu Niat Baik Pemkab Banyuwangi

Edukasi mitigasi bencana tersebut menyasar kalangan pelajar pada jenjang SD dan SMP. Sejak 2021 TMS telah menjadi agenda rutin dalam program Bunga Desa yang dilaksanakan Bupati Ipuk setiap pekan di desa-desa yang tersebar di berbagai penjuru Bumi Blambangan.

Melalui TMS, kata Ipuk, pemkab berupaya menyiapkan generasi yang tanggap dan siap siaga menghadapi bencana. ”Bencana bisa datang kapan saja. Dengan pengetahuan mitigasi bencana yang dimiliki, diharapkan masyarakat bisa lebih tanggap sehingga bisa mengurangi risiko korban jiwa,” tuturnya.

Salah satu siswa, Kayla, mengaku senang dengan kegiatan Tagana Masuk Sekolah. ”Dapat ilmu baru. Kita jadi tahu macam-macam bencana dan cara menyelamatkan diri. Ini penting biar selamat jika tiba-tiba terjadi bencana,” ujarnya.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Henik Setyorini menambahkan, materi dasar yang diberikan dalam TMS terkait pengurangan resiko bencana, upaya pertolongan, dan potensi kebencanaan di masing-masing wilayah. ”Materi di setiap daerah berbeda sesuai potensi kebencanaannya. Misalnya, di Kecamatan Bangorejo materi mitigasinya terkait tanah longsor, gempa bumi, kebakaran, dan puting beliung. Materi ini akan berbeda saat kita di wilayah Muncar yang dekat dengan pantai,” urai Henik.

Baca Juga :  Tekan Putus Sekolah, PKBM Miftahun Najah Terbaik Kedua Nasional

Kegiatan ini melibatkan puluhan instruktur Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Dinsos PPKB, Pemadam Kebakaran (Damkar), Satpol PP, serta tim pengelola Ijen Geopark. ”Selain mitigasi bencana, pelajar juga mendapat edukasi tentang Geopark Ijen. Bagaimana sejarah terbentuknya geologi, warisan budaya, dan keanekaragaman hayati di kawasan Geopark Ijen. Ini dalam rangka mendukung Geopark Ijen menjadi jaringan geopark dunia,” ungkap Henik.

Selain menyasar sekolah, edukasi mitigasi bencana di Banyuwangi juga dilakukan di kampus-kampus. Materi yang diberikan terkait manajemen di pengungsian. ”Kami mengedukasi mahasiswa agar mampu berperan sebagai relawan saat terjadi bencana. Mereka diharapkan bisa membantu para pengungsi, memastikan mereka aman secara logistik, lingkungan, hingga psikis,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/