alexametrics
23.2 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Dapat 7 Setel Kain, Harga Seragam Sekolah Rp 2,4 Juta

RadarBanyuwangi.id – Orang tua yang anaknya diterima di sekolah pilihan harus menyiapkan uang yang tidak sedikit. Di tengah pandemi Covid-19 ini, biaya sekolah bukannya semakin ringan, melainkan sebaliknya justru bertambah mahal.

Lihat saja, untuk kebutuhan seragam dan atribut jenjang SMA Negeri bisa menghabiskan jutaan rupiah. Seperti yang dirasakan siswa baru di SMAN 1 Rogojampi. Untuk menebus biaya seragam sekolah, nominalnya mencapai Rp 2.450.000.

Uang seragam tersebut dibayarkan wali murid di koperasi siswa (Kopsis). Dengan nominal Rp 2,4 juta, siswa akan mendapat tujuh setel seragam. Di antaranya seragam putih-putih, putih abu-abu, pramuka, seragam busana muslim, batik, seragam adat Banyuwangi, dan seragam olahraga.

”Untuk seragam olahraga dan almamater sudah jadi, tinggal pakai. Seragam lainnya masih dalam bentuk kain. Ongkos jahitnya bayar sendiri,” ungkap salah seorang wali murid yang mewanti-wanti namanya tidak dikorankan sambil menyodorkan lembar contoh jahitan seragam.

Menurut warga Desa Rogojampi ini, satu paket kain seragam tersebut harus dibayarkan di Kopsis. Bahkan, saat daftar ulang setiap peserta didik baru yang dinyatakan diterima di sekolah juga langsung diukur untuk seragam almamater.

Baca Juga :  Banyak Raih Prestasi, Menuju Sekolah Adiwiyata Nasional

”Sudah satu paket dengan atribut terdiri atas dasi, topi, hasduk, dan bet sekolah, semuanya sudah lengkap,” jelasnya. Biaya seragam tersebut naik Rp 100 ribu dibanding tahun ajaran lalu. Tahun ajaran 2019/2020 biaya seragam Rp 2.350.000 dan mendapatkan kain seragam yang sama, yakni tujuh setel. ”Saya juga tidak tahu apakah memang ada kenaikan harga kain,” katanya.

Dia mengaku baru mengangsur sebesar Rp 1,5 juta dan belum bisa mendapatkan kain seragam. Alasan pihak sekolah, setelah lunas barulah kain seragam bisa diberikan sepenuhnya kepada wali murid. ”Punya Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau tidak sama saja, tidak ada keringanan. Semuanya pukul rata harus beli seragam di Kopsis,” terangnya.

Mahalnya seragam sekolah tersebut juga dikeluhkan SR, 50, salah seorang wali murid SMAN 1 Rogojampi asal Singojuruh. Diungkapkan dia, biaya kain seragam tersebut sangat membebani orang tua/wali murid karena nominalnya cukup fantastis. Apalagi, di tengah situasi pandemi korona semestinya sekolah bisa mempertimbangkan kondisi ekonomi yang serba sulit.

”Saya bandingkan dengan sekolah lain nominalnya memang cukup tinggi dan relatif mahal. Lebih mahal dibanding sekolah swasta,” tuturnya. Di luar uang seragam, kata SR, tahun lalu siswa masih harus membayar sumbangan pembangunan sesuai kesepakatan komite dan orang tua/wali murid. Tahun lalu, tiap anak dibebani Rp 2 juta dan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebesar Rp 165 ribu setiap bulan. ”Itu masih belum biaya untuk pembelian buku,” bebernya.

Baca Juga :  Bupati Ipuk Minta Sekolah Respons Cepat Jika Ada Kasus Covid-19

SR berharap Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi bisa meninjau ulang pengadaan kain seragam sekolah di masing-masing sekolah. ”Kami bisa memahami biaya untuk sekolah anak kami, tapi sekolah semestinya juga bisa lebih memahami akan kondisi pandemi korona yang menghantam perekonomian,” tandasnya.

Kepala SMAN 1 Rogojampi Suprayitno saat dikonfirmasi lewat telepon seluler kemarin tidak menjawab. Sementara, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Istu Handono mengaku sedang berada di Solo. Istu belum mengetahui terkait pengadaan kain seragam di SMAN 1 Rogojampi tersebut. ”Saya hubungi kepala sekolahnya masih belum sambung, saya langsung perintahkan staf kami untuk cek langsung ke sekolah,” kata Istu. (ddy/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Orang tua yang anaknya diterima di sekolah pilihan harus menyiapkan uang yang tidak sedikit. Di tengah pandemi Covid-19 ini, biaya sekolah bukannya semakin ringan, melainkan sebaliknya justru bertambah mahal.

Lihat saja, untuk kebutuhan seragam dan atribut jenjang SMA Negeri bisa menghabiskan jutaan rupiah. Seperti yang dirasakan siswa baru di SMAN 1 Rogojampi. Untuk menebus biaya seragam sekolah, nominalnya mencapai Rp 2.450.000.

Uang seragam tersebut dibayarkan wali murid di koperasi siswa (Kopsis). Dengan nominal Rp 2,4 juta, siswa akan mendapat tujuh setel seragam. Di antaranya seragam putih-putih, putih abu-abu, pramuka, seragam busana muslim, batik, seragam adat Banyuwangi, dan seragam olahraga.

”Untuk seragam olahraga dan almamater sudah jadi, tinggal pakai. Seragam lainnya masih dalam bentuk kain. Ongkos jahitnya bayar sendiri,” ungkap salah seorang wali murid yang mewanti-wanti namanya tidak dikorankan sambil menyodorkan lembar contoh jahitan seragam.

Menurut warga Desa Rogojampi ini, satu paket kain seragam tersebut harus dibayarkan di Kopsis. Bahkan, saat daftar ulang setiap peserta didik baru yang dinyatakan diterima di sekolah juga langsung diukur untuk seragam almamater.

Baca Juga :  Banyak Raih Prestasi, Menuju Sekolah Adiwiyata Nasional

”Sudah satu paket dengan atribut terdiri atas dasi, topi, hasduk, dan bet sekolah, semuanya sudah lengkap,” jelasnya. Biaya seragam tersebut naik Rp 100 ribu dibanding tahun ajaran lalu. Tahun ajaran 2019/2020 biaya seragam Rp 2.350.000 dan mendapatkan kain seragam yang sama, yakni tujuh setel. ”Saya juga tidak tahu apakah memang ada kenaikan harga kain,” katanya.

Dia mengaku baru mengangsur sebesar Rp 1,5 juta dan belum bisa mendapatkan kain seragam. Alasan pihak sekolah, setelah lunas barulah kain seragam bisa diberikan sepenuhnya kepada wali murid. ”Punya Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau tidak sama saja, tidak ada keringanan. Semuanya pukul rata harus beli seragam di Kopsis,” terangnya.

Mahalnya seragam sekolah tersebut juga dikeluhkan SR, 50, salah seorang wali murid SMAN 1 Rogojampi asal Singojuruh. Diungkapkan dia, biaya kain seragam tersebut sangat membebani orang tua/wali murid karena nominalnya cukup fantastis. Apalagi, di tengah situasi pandemi korona semestinya sekolah bisa mempertimbangkan kondisi ekonomi yang serba sulit.

”Saya bandingkan dengan sekolah lain nominalnya memang cukup tinggi dan relatif mahal. Lebih mahal dibanding sekolah swasta,” tuturnya. Di luar uang seragam, kata SR, tahun lalu siswa masih harus membayar sumbangan pembangunan sesuai kesepakatan komite dan orang tua/wali murid. Tahun lalu, tiap anak dibebani Rp 2 juta dan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sebesar Rp 165 ribu setiap bulan. ”Itu masih belum biaya untuk pembelian buku,” bebernya.

Baca Juga :  Stikom Siap Lahirkan Startup Baru

SR berharap Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi bisa meninjau ulang pengadaan kain seragam sekolah di masing-masing sekolah. ”Kami bisa memahami biaya untuk sekolah anak kami, tapi sekolah semestinya juga bisa lebih memahami akan kondisi pandemi korona yang menghantam perekonomian,” tandasnya.

Kepala SMAN 1 Rogojampi Suprayitno saat dikonfirmasi lewat telepon seluler kemarin tidak menjawab. Sementara, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Istu Handono mengaku sedang berada di Solo. Istu belum mengetahui terkait pengadaan kain seragam di SMAN 1 Rogojampi tersebut. ”Saya hubungi kepala sekolahnya masih belum sambung, saya langsung perintahkan staf kami untuk cek langsung ke sekolah,” kata Istu. (ddy/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/