Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Edukasi
icon featured
Edukasi

Muatan Lokal Bahasa Oseng Mulai Diajarkan di Sekolah SMP

25 November 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Muatan Lokal Bahasa Oseng Mulai Diajarkan di Sekolah SMP

GAYENG: Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) memberikan paparan materi mengenai muatan lokal bahasa Oseng di hadapan guru SMP se-Banyuwangi, Selasa (23/11). (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

KABAT – Sedikitnya 200 guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Banyuwangi mengikuti diseminasi bahasa Oseng yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi, Selasa (23/11).

Acara yang dipusatkan di Ballroom Hotel Kokoon, Kecamatan Kabat ini menghadirkan sejumlah narasumber. Di antaranya perwakilan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi Hasan Basri.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno mengatakan, kegiatan diseminasi pembelajaran bahasa Oseng untuk guru SMP Negeri dan swasta se-Banyuwangi ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru bahasa Oseng di jenjang sekolah SMP baik negeri dan swasta. ”Jika kompetensi guru baik, maka tentu akan menjadi daya minat dan kebutuhan anak-anak di Banyuwangi untuk terus mempelajari, mencintai bahasa Oseng,” ungkapnya.

Baca juga: SDIT Al Uswah 2 Latih Siswa Kreatif Berwirausaha

Sementara ini, kata Suratno, guru atau tenaga pengajar bahasa Oseng memang cukup sulit. Karena guru yang memiliki latar belakang bahasa Oseng relatif sedikit. Maka, perlu direkrut guru-guru yang memiliki kompetensi bahasa Oseng yang mumpuni dan berkualitas, meski bukan berlatar belakang pendidikan bahasa Oseng.

Melalui kegiatan ini, lanjut Suratno, pembelajaran bahasa Oseng di satuan pendidikan SMP diharapkan bisa berjalan sesuai yang diharapkan. ”Diseminasi ini juga dalam rangka membangun komitmen bersama dan penyadaran bahwa bahasa Oseng dan kebudayaan Banyuwangi harus dilestarikan,” jelasnya.

Kepala Bidang (Kabid) SMP Alfian menambahkan, seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan bahasa Oseng semakin terdesak dengan kondisi global. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi salah satu cara yang strategis untuk mempertahankan keberlangsungan pelestarian bahasa Oseng dan kebudayaan di Banyuwangi. ”Tahun ini kita mulai dari 65 sekolah dari 200 sekolah SMP negeri dan swasta di seluruh Kabupaten Banyuwangi,” tandasnya.

Salah satu narasumber, Hasan Basri yang juga Ketua DKB Banyuwangi menjelaskan, muatan lokal (mulok) bahasa Oseng ini bertujuan untuk memperkukuh bangunan kebudayaan di Banyuwangi. Maka pembelajaran mulok bahasa Oseng bukan sekadar pelestarian bahasa Oseng, tetapi bertugas untuk membawa anak untuk memahami, menghayati, mencintai, mengamalkan, dan mengapresiasi seni budaya Banyuwangi.

Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, bahwa dalam UU tersebut diamanatkan untuk mempertegas bangunan kebudayaan di Indonesia. Maka, gerak pembangunan di Indonesia merupakan investasi bagi pengembangan kemajuan Indonesia di masa depan.

Selain itu, imbuh Hasan, juga diamanatkan bahwa pemerintah pusat dan daerah melakukan pengarusutamaan kebudayaan melalui pendidikan untuk mencapai tujuan pemajuan kebudayaan. ”Banyuwangi sudah melakukan pengarusutamaan melalui Banyuwangi Festival, dan saat ini tinggal bagaimana melalui pendidikan, dan dipilih melalui mulok bahasa Oseng ini,” jelasnya.

Maka materi bahas Oseng juga memuat objek pemajuan kebudayaan melalui tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Sementara di Banyuwangi, dasar pelaksanaan mulok bahasa Oseng ini juga sudah termaktub dalam Perda Banyuwangi Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Adat Istiadat di Banyuwangi. ”Kami bersyukur diseminasi ini disambut baik oleh seluruh peserta dan mereka sangat antusias. Karena mereka sebelumnya sempat bingung arahnya ke mana, tapi setelah disampaikan mereka dapat memahami karena bukan hanya belajar bahasa Oseng, tetapi menghayati, mencintai, melalui bahasa Oseng,” terangnya.

Di dalam materi mulok bahasa Oseng ini, jelas Hasan, semua kebudayaan yang ada di Banyuwangi dicantumkan karena semangat pemajuan kebudayaan mengembangkan sifat multikultural serta menjunjung kearifan lokal. ”Mulok ini tidak osengisasi tapi semua kultur diberi ruang yang sama dalam muatan lokal bahasa Oseng ini,” tandasnya. 

(bw/ddy/ics/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia