27.5 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Dispendikbud Situbondo

Unjuk Kebolehan di Perlombaan, Siswa-Siswi ABK Ada yang Kuasai Bahasa Asing

PANJI, Jawa Pos Radar Situbondo – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Situbondo terus memberikan ruang kepada anak didik untuk berkreasi dan berprestasi. Termasuk, bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Rabu (23/11) Dispendikbud menggelar perlombaan untuk siswa-siswi ABK di aula STKIP Situbondo.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Supiono mengatakan, kegiatan tersebut merupakan ajang kreasi dan apresiasi kepada peserta didik. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental tetap dapat berprestasi.

”Makanya, kami sediakan panggung khusus supaya ABK bisa tampil dan mengekspresikan bakatnya di depan masyarakat umum. Dengan begitu, mereka bakal memiliki keinginan yang lebih tinggi untuk menjadi orang yang lebih rajin dan berprestasi,” ungkap Supiono.

Dikatakan, setiap anak inklusi pasti memiliki kelebihan dan bakat yang diberikan oleh Tuhan. Hal itu sangat penting untuk diperhatikan. Kegiatan perdana yang digelar tersebut merupakan momentum untuk melihat bakat yang dimiliki oleh setiap ABK.

”Kami sangat terkejut pas mengadakan acara ini. Ada peserta yang memiliki bakat menguasai banyak bahasa. Ada yang bahasa Inggris dan bahasa lainnya. Malah, kami sampai kewalahan menguji nyali peserta yang mampu memahami banyak bahasa asing. Kan kami juga terbatas mengusai bahasa asing,” kata Supiono.

Baca Juga :  Gelar Pentas Seni Operet Milenial

Dari festival pertama itulah, pihaknya memiliki inisiatif besar untuk mengadakan ajang perlombaan bagi tingkat SMP. Setidaknya, pihaknya bisa mengetahui bakat dari setiap anak inklusi yang memiliki kelebihan di balik keterbatasannya.

”Ke depannya, target kami yakni mengadakan event  serupa untuk anak SMP. Ini adalah inisiatif yang kami tampung untuk saat ini. Semoga nantinya kegiatan kami lebih bagus dan bermanfaat bagi semua siswa-siswi,” harap Supiono.

Dia menyebut, ajang perdana kali ini memang masih banyak kekurangan. Salah satu contoh yang menjadi catatan penting adalah target peserta yang  mendapatkan undangan dalam mengikuti perlombaan tersebut. Pihaknya sudah menarget sebanyak 34 peserta, akan tetapi yang hadir dalam perlombaan itu hanya separo saja.

”Keinginan kami, setiap kecamatan membawa dua peserta. Yaitu perempuan satu, putra satu. Sehingga, kuota yang ditarget ada 34 peserta. Hanya saja, ketika digelar perlombaan, peserta putri secara keseluruhan ada tiga dan yang putra sekitar 12 anak. Ternyata ada teman-teman guru yang mengaku kesulitan untuk mendapatkan peserta inklusi. Kemungkinan besar banyak orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya,”  jelas Supiono.

Baca Juga :  Peringati HUT ke-77 RI, SMAN 1 Cluring Bangkitkan Semangat Siswa

Padahal, setiap anak yang memiliki keterbatasan berhak mengenyam manisnya pendidikan seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Negara telah memberikan jaminan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. ”Artinya, anak-anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak normal lainnya dalam hal pendidikan,” tegasnya.

Supiono menjelaskan, pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang diperuntukkan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. ”Semua orang tidak ada yang mau lahir sebagai ABK. Namun, begitu mereka lahir, sangat besar pahala bagi kita semua ketika mampu menfasilitasi tumbuh kembangnya ABK untuk menjadi orang yang hebat,” tegasnya. (hum/pri/c1/adv)

PANJI, Jawa Pos Radar Situbondo – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Situbondo terus memberikan ruang kepada anak didik untuk berkreasi dan berprestasi. Termasuk, bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Rabu (23/11) Dispendikbud menggelar perlombaan untuk siswa-siswi ABK di aula STKIP Situbondo.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Supiono mengatakan, kegiatan tersebut merupakan ajang kreasi dan apresiasi kepada peserta didik. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental tetap dapat berprestasi.

”Makanya, kami sediakan panggung khusus supaya ABK bisa tampil dan mengekspresikan bakatnya di depan masyarakat umum. Dengan begitu, mereka bakal memiliki keinginan yang lebih tinggi untuk menjadi orang yang lebih rajin dan berprestasi,” ungkap Supiono.

Dikatakan, setiap anak inklusi pasti memiliki kelebihan dan bakat yang diberikan oleh Tuhan. Hal itu sangat penting untuk diperhatikan. Kegiatan perdana yang digelar tersebut merupakan momentum untuk melihat bakat yang dimiliki oleh setiap ABK.

”Kami sangat terkejut pas mengadakan acara ini. Ada peserta yang memiliki bakat menguasai banyak bahasa. Ada yang bahasa Inggris dan bahasa lainnya. Malah, kami sampai kewalahan menguji nyali peserta yang mampu memahami banyak bahasa asing. Kan kami juga terbatas mengusai bahasa asing,” kata Supiono.

Baca Juga :  Siswa Masuk Sekolah Bisa Mengurangi Rasa Jenuh di Rumah

Dari festival pertama itulah, pihaknya memiliki inisiatif besar untuk mengadakan ajang perlombaan bagi tingkat SMP. Setidaknya, pihaknya bisa mengetahui bakat dari setiap anak inklusi yang memiliki kelebihan di balik keterbatasannya.

”Ke depannya, target kami yakni mengadakan event  serupa untuk anak SMP. Ini adalah inisiatif yang kami tampung untuk saat ini. Semoga nantinya kegiatan kami lebih bagus dan bermanfaat bagi semua siswa-siswi,” harap Supiono.

Dia menyebut, ajang perdana kali ini memang masih banyak kekurangan. Salah satu contoh yang menjadi catatan penting adalah target peserta yang  mendapatkan undangan dalam mengikuti perlombaan tersebut. Pihaknya sudah menarget sebanyak 34 peserta, akan tetapi yang hadir dalam perlombaan itu hanya separo saja.

”Keinginan kami, setiap kecamatan membawa dua peserta. Yaitu perempuan satu, putra satu. Sehingga, kuota yang ditarget ada 34 peserta. Hanya saja, ketika digelar perlombaan, peserta putri secara keseluruhan ada tiga dan yang putra sekitar 12 anak. Ternyata ada teman-teman guru yang mengaku kesulitan untuk mendapatkan peserta inklusi. Kemungkinan besar banyak orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya,”  jelas Supiono.

Baca Juga :  Kolaborasikan Pemasaran Beras Organik Lewat Website dan Medsos

Padahal, setiap anak yang memiliki keterbatasan berhak mengenyam manisnya pendidikan seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Negara telah memberikan jaminan kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. ”Artinya, anak-anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan kesempatan yang sama dengan anak-anak normal lainnya dalam hal pendidikan,” tegasnya.

Supiono menjelaskan, pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang diperuntukkan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. ”Semua orang tidak ada yang mau lahir sebagai ABK. Namun, begitu mereka lahir, sangat besar pahala bagi kita semua ketika mampu menfasilitasi tumbuh kembangnya ABK untuk menjadi orang yang hebat,” tegasnya. (hum/pri/c1/adv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/