alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Mahasiswa UMS Pelajari Arsitektur Grha Pena Banyuwangi

BANYUWANGI – Belasan orang mahasiswa dari Prodi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta menjelajahi bangunan Gedung Grha Pena, kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), Selasa (17/5) lalu. Sebagai salah satu bangunan ikonik berarsitektur unik di Banyuwangi, Grha Pena kembali menjadi jujugan untuk studi di kalangan akademisi ilmu arsitektur.

Empat belas orang mahasiswa yang dipandu Staf Pemasaran JP-RaBa Beny Siswanto mengawali praktik Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mereka di Grha Pena dengan berdiskusi di Kafe Pena. Lalu satu per satu mereka memasuki ruang front office, ruang redaksi JP-RaBa dan JTV Banyuwangi, Seblang Room, sampai ruang kerja GM JP-RaBa. Para mahasiswa tampak mengabadikan beberapa detail bangunan yang mereka anggap menarik bagi ilmu yang tengah mereka pelajari.

Salah seorang perwakilan mahasiswa, Farid Maftuh Farhan, 20, mengatakan, Grha Pena menjadi salah satu objek andalan mereka dalam KKL tahun ini selain bangunan tradisional yang juga mereka kunjungi di Desa Kemiren dan Tamansari. Setelah berkeliling, Farid menilai jika bangunan bergaya industrial yang menjadi markas bagi JP-RaBa ini cukup menarik, terutama dari segi penggunaan tangga dan efisiensi energi bangunan.

TUR SINGKAT: Sebanyak 14 orang mahasiswa dari Prodi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta mengelilingi kantor Grha Pena dipandu Karyawan JP-RaBa, Beny Siswanto, Selasa (17/5). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

”Bentuknya berbeda dengan kantor pada umumnya. Banyak ruangan terbuka sehingga view sawah bisa dilihat jelas. Penggunaan tangga juga ramah difabel, padahal biasanya untuk kantor semacam ini menggunakan lift,” kata mahasiswa asal Ngawi itu.

Dhea Amanda, 21, mahasiswi lainnya yang ikut tur berkeliling Grha Pena menambahkan, fasad gedung tampak simpel dari depan. Namun, begitu masuk ke dalam, barulah tampak betapa rumitnya bangunan yang diarsiteki Andra Matin itu.

Dhea melihat ada banyak hal yang bisa dipelajarinya dari Grha Pena. Gedung yang menurutnya memfasilitasi kebutuhan kantor dan public space itu tetap memberikan efek nyaman bagi pengunjungnya. Dan yang paling menarik, mahasiswi asal Madiun itu melihat konsep green building dengan kombinasi kolom bangunan yang efektif sehingga bangunan tetap terasa luas, bisa dijadikan inspirasinya ke depan.

”Bangunan ini hemat energi, ramah difabel. Jadi meskipun kantor, konsepnya membuat pengunjung nyaman. Ini akan menjadi inspirasi kami untuk merancang bangunan ke depan,” tutup Dhea. (fre/afi/c1)

BANYUWANGI – Belasan orang mahasiswa dari Prodi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta menjelajahi bangunan Gedung Grha Pena, kantor Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), Selasa (17/5) lalu. Sebagai salah satu bangunan ikonik berarsitektur unik di Banyuwangi, Grha Pena kembali menjadi jujugan untuk studi di kalangan akademisi ilmu arsitektur.

Empat belas orang mahasiswa yang dipandu Staf Pemasaran JP-RaBa Beny Siswanto mengawali praktik Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mereka di Grha Pena dengan berdiskusi di Kafe Pena. Lalu satu per satu mereka memasuki ruang front office, ruang redaksi JP-RaBa dan JTV Banyuwangi, Seblang Room, sampai ruang kerja GM JP-RaBa. Para mahasiswa tampak mengabadikan beberapa detail bangunan yang mereka anggap menarik bagi ilmu yang tengah mereka pelajari.

Salah seorang perwakilan mahasiswa, Farid Maftuh Farhan, 20, mengatakan, Grha Pena menjadi salah satu objek andalan mereka dalam KKL tahun ini selain bangunan tradisional yang juga mereka kunjungi di Desa Kemiren dan Tamansari. Setelah berkeliling, Farid menilai jika bangunan bergaya industrial yang menjadi markas bagi JP-RaBa ini cukup menarik, terutama dari segi penggunaan tangga dan efisiensi energi bangunan.

TUR SINGKAT: Sebanyak 14 orang mahasiswa dari Prodi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta mengelilingi kantor Grha Pena dipandu Karyawan JP-RaBa, Beny Siswanto, Selasa (17/5). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

”Bentuknya berbeda dengan kantor pada umumnya. Banyak ruangan terbuka sehingga view sawah bisa dilihat jelas. Penggunaan tangga juga ramah difabel, padahal biasanya untuk kantor semacam ini menggunakan lift,” kata mahasiswa asal Ngawi itu.

Dhea Amanda, 21, mahasiswi lainnya yang ikut tur berkeliling Grha Pena menambahkan, fasad gedung tampak simpel dari depan. Namun, begitu masuk ke dalam, barulah tampak betapa rumitnya bangunan yang diarsiteki Andra Matin itu.

Dhea melihat ada banyak hal yang bisa dipelajarinya dari Grha Pena. Gedung yang menurutnya memfasilitasi kebutuhan kantor dan public space itu tetap memberikan efek nyaman bagi pengunjungnya. Dan yang paling menarik, mahasiswi asal Madiun itu melihat konsep green building dengan kombinasi kolom bangunan yang efektif sehingga bangunan tetap terasa luas, bisa dijadikan inspirasinya ke depan.

”Bangunan ini hemat energi, ramah difabel. Jadi meskipun kantor, konsepnya membuat pengunjung nyaman. Ini akan menjadi inspirasi kami untuk merancang bangunan ke depan,” tutup Dhea. (fre/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/