alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbud Kunjungi Kampung Batara

KALIPURO – Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) mengunjungi Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara) di Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Rabu (21/12).

Kedatangan Direktur SD Kemendikbud Dra Sri Wahyuningsih MPd itu disambut Plt Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Suratno dan Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dispendik Banyuwangi Nuriyatus Sholeha dan Pendiri Kampoeng Batara Widie Nurmahmudy.

Kedatangan rombongan disambut anak-anak Kampoeng Batara dengan sejumlah permainan tradisional seperti permainan egrang, kasti, engklek, patheng dudu, dakon, egrang batok kelapa, lompat tali, dan beragam jenis permainan tradisional lain. Bahkan, Direktur SD Kemendikbud Sri Wahyuningsih juga terlibat dengan ikut bermain patheng dudu bersama anak-anak.

Direktur SD Kemendikbud Dra Sri Wahyuningsih MPd  mengatakan, pendidikan merupakan hal fundamental yang patut diperjuangkan. Visi Pendidikan Indonesia adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri,beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global.

Dalam rangka mewujudkan visi pendidikan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyusun misi di antaranya mewujudkan pendidikan yang relevan dan berkualitas tinggi, merata, dan berkelanjutan, didukung oleh infrastruktur dan teknologi; mewujudkan pelestarian dan pemajuan kebudayaan serta pengembangan bahasa dan sastra; dan mengoptimalkan peran serta seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung transformasi dan reformasi pengelolaan pendidikan dan kebudayaan.

Implementasi dari visi dan misi pendidikan Indonesia, kata Sri Wahyuningsih, disusun dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2020–2024. ”Direktorat Sekolah Dasar sebagai salah satu institusi di bawah Kemendikbud, mendukung penuh visi dan misi pendidikan Indonesia,” jelasnya.

Adapun tujuan yang menjadi fokus Direktorat Sekolah Dasar tahun 2020–2024 adalah percepatan pemerataan peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar melalui transformasi pembinaan sekolah dasar dengan Restrukturisasi Tata kelola Pendidikan Sekolah Dasar, pemerataan layanan dan akses pendidikan yang berkualitas, peningkatan hasil belajar, dan penguatan karakter peserta didik.

”Kebijakan Merdeka Belajar menjadi pedoman Direktorat Sekolah Dasar dalam mencapai tujuan, di mana semua pemangku kepentingan terlibat aktif dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas,” tegas Sri.

Strategi Direktorat Sekolah Dasar dalam mewujudkan Pelajar Pancasila atau pada jenjang sekolah dasar dikenal sebagai Tunas Pancasila, adalah memperkuat implementasi 6 literasi dasar dan 6 Indikator Profil Pelajar Pancasila, agar dapat menjadi bekal bagi peserta didik untuk menjadi pribadi yang dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

Budaya dan kearifan lokal menjadi potensi daerah yang dapat dioptimalkan sebagai sarana edukasi bagi peserta didik sekolah dasar. Mengingat, seberapa pun kemajuan perkembangan zaman, nilai-nilai budaya bangsa hendaknya tetap dilestarikan bagi generasi Indonesia.

Oleh karena itu, selama di Kampoeng Batara ini Direktorat Sekolah Dasar melakukan talk show yang mengangkat tema tentang Strategi Perwujudan Pelajar Pancasila melalui Permainan Tradisional dan Kearifan Lokal. ”Tujuannya yakni memperkuat implementasi permainan tradisional sebagai strategi penanaman 6 literasi dasar dan perwujudan Pelajar Pancasila, mengoptimalkan kearifan lokal sebagai sarana edukasi peserta didik khususnya jenjang sekolah dasar, serta mendorong peningkatan layanan pendidikan yang berkeadilan dan inklusif melalui best practice optimalisasi pendidikan layanan khusus,” tandas Sri.

Sementara itu, Pendiri Kampoeng Batara Widie Nurmahmudy mengatakan bahwa selama ini anak-anak yang belajar di Kampoeng Batara adalah anak warga sekitar yang tinggal di tepian hutan. Awal berdiri tahun 2015 lalu hanya empat orang anak dan bertambah tiga bulan kemudian menjadi 20 anak.

Jumlah itu lambat laun terus bertambah, pada tahun 2018 lalu ada 30 anak. Kemudian di tahun 2020 ada 43 anak dan saat ini ada 56 anak yang belajar di Kampoeng Batara tersebut. ”Sebagian besar warga sekitar Lingkungan Papring. Mereka datang dengan sukarela, begitupun dengan para pengajar juga relawan. Karena prinsipnya keterpanggilan, tidak bersifat mengajak atau mengundang,” ujarnya.

Yang mendasari pendirian Kampoeng Batara itu tak lain karena menurunnya minat baca (literasi) yang rendah di kalangan anak-anak, termasuk keinginan untuk melanjutkan sekolah juga rendah. Apalagi, juga hidup di tepi hutan dengan segala keterbatasan.

Tak heran, jika metode pembelajaran yang selama ini dikembangkan adalah pola pembelajaran yang mengikuti keinginan anak-anak dengan menjaring potensi bakat minat serta membangun karakter anak didik.

Kurikulum Kampoeng Batara lebih pada kesepakatan yang dibangun, diinisiasi oleh anak-anak sendiri. Tujuannya agar mereka mandiri berpikir, berkreasi, aksi, dan tanggung jawab. Poin tanggung jawab mereka tidak hanya ide, tapi langsung eksekusi.

Sekarang Kampoeng Batara sudah mulai memiliki kurikulum, di mana untuk baca tulis hitung (calistung) diberi istilah Maca Kahanan artinya tidak hanya membaca, menulis, dan menghitung angka dan aksara, tapi juga situasi dan kondisi sekitar. Selain itu juga ada bahasa ibu dan sastra, permainan rakyat, dan olahraga tradisional serta olahan tradisional.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno menambahkan, metode pembelajaran yang dilakukan di Kampoeng Batara tersebut dampaknya sangat luar biasa. Karena saat ini puluhan anak-anak yang tinggal di pinggir hutan mulai percaya diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan angka pernikahan dini juga menurun.

Tak heran, jika Kampoeng Batara akan dijadikan sebagai salah satu dari tiga pilot project pola pendidikan berbasis merdeka belajar di Indonesia. ”Karena pola merdeka belajar ini tidak lagi kaku, saklek, lebih fleksibel, menjaring potensi membangun karakter anak,” jelasnya.

Salah satu media yang digunakan sebagai objek ruang merdeka belajar di Kampoeng Batara, lanjut Suratno, adalah permainan tradisional. Dengan permainan tradisional ini tidak hanya membentuk orang untuk membangun kuat secara fisik, tetapi juga secara mental. Karena dalam permainan anak ada ruang sportivitas dan solidaritas.

Permainan tradisional yang dilakukan di Kampoeng Batara ada 17 jenis, di antaranya berbasis olahraga dan berbasis kompetisi seperti permainan gobak sodor atau selodoran, egrang, kasti, engklek, patheng dudu, dakon, egrang batok kelapa, lompat tali, dan banyak lagi jenis permainan tradisional lain. ”Dengan permainan tradisional ini anak akan lebih merasa nyaman, karena mereka belajar sambil bermain,” tandasnya.

KALIPURO – Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) mengunjungi Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara) di Lingkungan Papring, Kelurahan/Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Rabu (21/12).

Kedatangan Direktur SD Kemendikbud Dra Sri Wahyuningsih MPd itu disambut Plt Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Suratno dan Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dispendik Banyuwangi Nuriyatus Sholeha dan Pendiri Kampoeng Batara Widie Nurmahmudy.

Kedatangan rombongan disambut anak-anak Kampoeng Batara dengan sejumlah permainan tradisional seperti permainan egrang, kasti, engklek, patheng dudu, dakon, egrang batok kelapa, lompat tali, dan beragam jenis permainan tradisional lain. Bahkan, Direktur SD Kemendikbud Sri Wahyuningsih juga terlibat dengan ikut bermain patheng dudu bersama anak-anak.

Direktur SD Kemendikbud Dra Sri Wahyuningsih MPd  mengatakan, pendidikan merupakan hal fundamental yang patut diperjuangkan. Visi Pendidikan Indonesia adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri,beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global.

Dalam rangka mewujudkan visi pendidikan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyusun misi di antaranya mewujudkan pendidikan yang relevan dan berkualitas tinggi, merata, dan berkelanjutan, didukung oleh infrastruktur dan teknologi; mewujudkan pelestarian dan pemajuan kebudayaan serta pengembangan bahasa dan sastra; dan mengoptimalkan peran serta seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung transformasi dan reformasi pengelolaan pendidikan dan kebudayaan.

Implementasi dari visi dan misi pendidikan Indonesia, kata Sri Wahyuningsih, disusun dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2020–2024. ”Direktorat Sekolah Dasar sebagai salah satu institusi di bawah Kemendikbud, mendukung penuh visi dan misi pendidikan Indonesia,” jelasnya.

Adapun tujuan yang menjadi fokus Direktorat Sekolah Dasar tahun 2020–2024 adalah percepatan pemerataan peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar melalui transformasi pembinaan sekolah dasar dengan Restrukturisasi Tata kelola Pendidikan Sekolah Dasar, pemerataan layanan dan akses pendidikan yang berkualitas, peningkatan hasil belajar, dan penguatan karakter peserta didik.

”Kebijakan Merdeka Belajar menjadi pedoman Direktorat Sekolah Dasar dalam mencapai tujuan, di mana semua pemangku kepentingan terlibat aktif dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas,” tegas Sri.

Strategi Direktorat Sekolah Dasar dalam mewujudkan Pelajar Pancasila atau pada jenjang sekolah dasar dikenal sebagai Tunas Pancasila, adalah memperkuat implementasi 6 literasi dasar dan 6 Indikator Profil Pelajar Pancasila, agar dapat menjadi bekal bagi peserta didik untuk menjadi pribadi yang dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

Budaya dan kearifan lokal menjadi potensi daerah yang dapat dioptimalkan sebagai sarana edukasi bagi peserta didik sekolah dasar. Mengingat, seberapa pun kemajuan perkembangan zaman, nilai-nilai budaya bangsa hendaknya tetap dilestarikan bagi generasi Indonesia.

Oleh karena itu, selama di Kampoeng Batara ini Direktorat Sekolah Dasar melakukan talk show yang mengangkat tema tentang Strategi Perwujudan Pelajar Pancasila melalui Permainan Tradisional dan Kearifan Lokal. ”Tujuannya yakni memperkuat implementasi permainan tradisional sebagai strategi penanaman 6 literasi dasar dan perwujudan Pelajar Pancasila, mengoptimalkan kearifan lokal sebagai sarana edukasi peserta didik khususnya jenjang sekolah dasar, serta mendorong peningkatan layanan pendidikan yang berkeadilan dan inklusif melalui best practice optimalisasi pendidikan layanan khusus,” tandas Sri.

Sementara itu, Pendiri Kampoeng Batara Widie Nurmahmudy mengatakan bahwa selama ini anak-anak yang belajar di Kampoeng Batara adalah anak warga sekitar yang tinggal di tepian hutan. Awal berdiri tahun 2015 lalu hanya empat orang anak dan bertambah tiga bulan kemudian menjadi 20 anak.

Jumlah itu lambat laun terus bertambah, pada tahun 2018 lalu ada 30 anak. Kemudian di tahun 2020 ada 43 anak dan saat ini ada 56 anak yang belajar di Kampoeng Batara tersebut. ”Sebagian besar warga sekitar Lingkungan Papring. Mereka datang dengan sukarela, begitupun dengan para pengajar juga relawan. Karena prinsipnya keterpanggilan, tidak bersifat mengajak atau mengundang,” ujarnya.

Yang mendasari pendirian Kampoeng Batara itu tak lain karena menurunnya minat baca (literasi) yang rendah di kalangan anak-anak, termasuk keinginan untuk melanjutkan sekolah juga rendah. Apalagi, juga hidup di tepi hutan dengan segala keterbatasan.

Tak heran, jika metode pembelajaran yang selama ini dikembangkan adalah pola pembelajaran yang mengikuti keinginan anak-anak dengan menjaring potensi bakat minat serta membangun karakter anak didik.

Kurikulum Kampoeng Batara lebih pada kesepakatan yang dibangun, diinisiasi oleh anak-anak sendiri. Tujuannya agar mereka mandiri berpikir, berkreasi, aksi, dan tanggung jawab. Poin tanggung jawab mereka tidak hanya ide, tapi langsung eksekusi.

Sekarang Kampoeng Batara sudah mulai memiliki kurikulum, di mana untuk baca tulis hitung (calistung) diberi istilah Maca Kahanan artinya tidak hanya membaca, menulis, dan menghitung angka dan aksara, tapi juga situasi dan kondisi sekitar. Selain itu juga ada bahasa ibu dan sastra, permainan rakyat, dan olahraga tradisional serta olahan tradisional.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno menambahkan, metode pembelajaran yang dilakukan di Kampoeng Batara tersebut dampaknya sangat luar biasa. Karena saat ini puluhan anak-anak yang tinggal di pinggir hutan mulai percaya diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan angka pernikahan dini juga menurun.

Tak heran, jika Kampoeng Batara akan dijadikan sebagai salah satu dari tiga pilot project pola pendidikan berbasis merdeka belajar di Indonesia. ”Karena pola merdeka belajar ini tidak lagi kaku, saklek, lebih fleksibel, menjaring potensi membangun karakter anak,” jelasnya.

Salah satu media yang digunakan sebagai objek ruang merdeka belajar di Kampoeng Batara, lanjut Suratno, adalah permainan tradisional. Dengan permainan tradisional ini tidak hanya membentuk orang untuk membangun kuat secara fisik, tetapi juga secara mental. Karena dalam permainan anak ada ruang sportivitas dan solidaritas.

Permainan tradisional yang dilakukan di Kampoeng Batara ada 17 jenis, di antaranya berbasis olahraga dan berbasis kompetisi seperti permainan gobak sodor atau selodoran, egrang, kasti, engklek, patheng dudu, dakon, egrang batok kelapa, lompat tali, dan banyak lagi jenis permainan tradisional lain. ”Dengan permainan tradisional ini anak akan lebih merasa nyaman, karena mereka belajar sambil bermain,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/