alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Peserta Pondok Ramadan Diajak Bijak Bermedsos

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Memasuki hari kesepuluh di bulan Suci Ramadan, kegiatan Pondok Ramadan bagi para pelajar SMP di Banyuwangi masih terus berlangsung di Grha Pena Jawa Pos Radar Banyuwangi. Kemarin (22/4) giliran pelajar SMPN 4 Banyuwangi yang menjalani kegiatan tersebut.

Puluhan pelajar SMPN 4 Banyuwangi tampak antusias berdatangan di gedung Grha Pena Jawa Pos Radar Banyuwangi. Saat memasuki halaman, para siswa yang datang diperiksa suhu tubuh terlebih dahulu. Mereka juga diwajibkan mengenakan masker.

Para siswa kemudian langsung menuju ruang rapat seblang Jawa Pos Radar Banyuwangi. Tepat pukul 08.00 kegiatan pondok Ramadan dimulai dengan pemberian materi oleh para dewan guru dan ustad.

Kegiatan diawali dengan salat Duha berjamaah. Sesudah melaksanakan salat Duha, para siswa diajak tadarus Alquran secara berkelompok. Sekitar 30 menit kemudian, kegiatan siswa dilanjutkan dengan penyampaian materi yang diberikan oleh Ustad Ahmad Hamim Hidayat.

Dalam materinya, Ustad Hamim menyampaikan mengenai hikmah puasa di bulan suci Ramadan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pada sepuluh hari pertama awal Ramadan Allah memberikan rahmat, memberikan kasih sayangnya.

”Lalu di pertengahan sepuluh hari kedua itu Allah memberikan maghfirah atau ampunan, dan sepuluh hari yang terakhir Allah memberikan pembebasan dari neraka,” ungkap Ustad Hamim.

Baca Juga :  Rayyan Internasional College Seleksi Siswa Kapal Pesiar

Namun sayangnya, yang terjadi semakin hari justru barisan saf salat di masjid maupun musala semakin maju. Dengan kata lain jamaahnya semakin berkurang. Sebab, banyak yang mengalihkan kegiatannya ke pusat perbelanjaan untuk menyambut Lebaran. ”Ini kesempatan kita selama bulan Ramadan, kita isi dengan kegiatan ibadah. Eman jika dilewatkan,”  ujar Ustad Hamim di hadapan para pelajar SMPN 4 Banyuwangi.

Sebagai pelajar muslim, kata Ustad Hamim, ada enam perkara kewajiban antar sesama muslim yang harus dilakukan. Enam perkara itu di antaranya yakni mengucap salam ketika berjumpa, memenuhi undangan saudaranya, saling menasihati, mendoakan saudaranya yang sedang bersin, menjenguk dan mendoakan saudaranya yang sakit, serta  mengurus kematian saudaranya.

Ustad Hamim juga menyinggung mengenai dampak dari bahaya mengonsumsi minuman keras dan narkoba. Minum-minuman keras yang memabukkan dilarang oleh agama Islam. Minum-minuman keras adalah perbuatan setan. ”Jangankan mengonsumsi, mendekati saja sudah dilarang. Sehingga sudah sepatutnya sebagai muslim kita menjauhi minum-minuman keras yang memabukkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Taman Baca Sekaligus Tempat Selfie

Dalam sesi terakhir Pondok Ramadan kemarin, para siswa juga diberikan materi tentang pengenalan dasar jurnalistik yang disampaikan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Banyuwangi Syaifuddin Mahmud. Para siswa dikenalkan tentang ilmu dasar jurnalistik. Seperti proses mencari berita, wawancara, menulis menjadi sebuah berita, kemudian diedit, hingga menjadi sebuah berita di koran.

”Jadi prosesnya panjang, wartawan yang melakukan peliputan, menulis, setelah itu diedit oleh redaktur. Selanjutnya disempurnakan tata bahasaya oleh editor bahasa, proses layout, pracetak dikirim ke percetakan, dan akhirnya bisa dinikmati dan dibaca dalam bentuk koran,” jelas Syaifuddin.

Lelaki yang akrab disapa Aif ini menambahkan, berita dari media-media mainstream bisa dipertanggungjawabkan karena sesuai fakta. Menurutnya, yang berbahaya justru media sosial. Jadi, ketika menulis di media sosial harus hati-hati, apalagi di era digital saat ini.

”Kalau di media sosial, jika mengunggah infomasi yang belum tentu kebenarannya maka akan timbul namanya hoaks dan yang bertanggung jawab adalah pemilik akun itu sendiri. Makanya harus hati-hati dan bijak dalam bermedia sosial,” pungkas Aif. (ddy/afi/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Memasuki hari kesepuluh di bulan Suci Ramadan, kegiatan Pondok Ramadan bagi para pelajar SMP di Banyuwangi masih terus berlangsung di Grha Pena Jawa Pos Radar Banyuwangi. Kemarin (22/4) giliran pelajar SMPN 4 Banyuwangi yang menjalani kegiatan tersebut.

Puluhan pelajar SMPN 4 Banyuwangi tampak antusias berdatangan di gedung Grha Pena Jawa Pos Radar Banyuwangi. Saat memasuki halaman, para siswa yang datang diperiksa suhu tubuh terlebih dahulu. Mereka juga diwajibkan mengenakan masker.

Para siswa kemudian langsung menuju ruang rapat seblang Jawa Pos Radar Banyuwangi. Tepat pukul 08.00 kegiatan pondok Ramadan dimulai dengan pemberian materi oleh para dewan guru dan ustad.

Kegiatan diawali dengan salat Duha berjamaah. Sesudah melaksanakan salat Duha, para siswa diajak tadarus Alquran secara berkelompok. Sekitar 30 menit kemudian, kegiatan siswa dilanjutkan dengan penyampaian materi yang diberikan oleh Ustad Ahmad Hamim Hidayat.

Dalam materinya, Ustad Hamim menyampaikan mengenai hikmah puasa di bulan suci Ramadan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pada sepuluh hari pertama awal Ramadan Allah memberikan rahmat, memberikan kasih sayangnya.

”Lalu di pertengahan sepuluh hari kedua itu Allah memberikan maghfirah atau ampunan, dan sepuluh hari yang terakhir Allah memberikan pembebasan dari neraka,” ungkap Ustad Hamim.

Baca Juga :  Siswa SMPN 2 Dilatih Jurnalistik saat Pondok Ramadan

Namun sayangnya, yang terjadi semakin hari justru barisan saf salat di masjid maupun musala semakin maju. Dengan kata lain jamaahnya semakin berkurang. Sebab, banyak yang mengalihkan kegiatannya ke pusat perbelanjaan untuk menyambut Lebaran. ”Ini kesempatan kita selama bulan Ramadan, kita isi dengan kegiatan ibadah. Eman jika dilewatkan,”  ujar Ustad Hamim di hadapan para pelajar SMPN 4 Banyuwangi.

Sebagai pelajar muslim, kata Ustad Hamim, ada enam perkara kewajiban antar sesama muslim yang harus dilakukan. Enam perkara itu di antaranya yakni mengucap salam ketika berjumpa, memenuhi undangan saudaranya, saling menasihati, mendoakan saudaranya yang sedang bersin, menjenguk dan mendoakan saudaranya yang sakit, serta  mengurus kematian saudaranya.

Ustad Hamim juga menyinggung mengenai dampak dari bahaya mengonsumsi minuman keras dan narkoba. Minum-minuman keras yang memabukkan dilarang oleh agama Islam. Minum-minuman keras adalah perbuatan setan. ”Jangankan mengonsumsi, mendekati saja sudah dilarang. Sehingga sudah sepatutnya sebagai muslim kita menjauhi minum-minuman keras yang memabukkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Bergembira di Puncak Acara Peduli Disabilitas

Dalam sesi terakhir Pondok Ramadan kemarin, para siswa juga diberikan materi tentang pengenalan dasar jurnalistik yang disampaikan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Banyuwangi Syaifuddin Mahmud. Para siswa dikenalkan tentang ilmu dasar jurnalistik. Seperti proses mencari berita, wawancara, menulis menjadi sebuah berita, kemudian diedit, hingga menjadi sebuah berita di koran.

”Jadi prosesnya panjang, wartawan yang melakukan peliputan, menulis, setelah itu diedit oleh redaktur. Selanjutnya disempurnakan tata bahasaya oleh editor bahasa, proses layout, pracetak dikirim ke percetakan, dan akhirnya bisa dinikmati dan dibaca dalam bentuk koran,” jelas Syaifuddin.

Lelaki yang akrab disapa Aif ini menambahkan, berita dari media-media mainstream bisa dipertanggungjawabkan karena sesuai fakta. Menurutnya, yang berbahaya justru media sosial. Jadi, ketika menulis di media sosial harus hati-hati, apalagi di era digital saat ini.

”Kalau di media sosial, jika mengunggah infomasi yang belum tentu kebenarannya maka akan timbul namanya hoaks dan yang bertanggung jawab adalah pemilik akun itu sendiri. Makanya harus hati-hati dan bijak dalam bermedia sosial,” pungkas Aif. (ddy/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/