Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Edukasi
icon featured
Edukasi

Seniman, Budayawan, dan Akademisi Sepakat Bentuk Lembaga Studi Bahasa

22 September 2021, 12: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Seniman, Budayawan, dan Akademisi Sepakat Bentuk Lembaga Studi Bahasa

DISKUSI BAHASA OSENG: Tim Balai Bahasa Jawa Timur Puspa Ruriana merespons pendapat peserta diskusi di Seblang Room Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin (20/9). (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

BANYUWANGI – Forum Diskusi 77 Jawa Pos Radar Banyuwangi yang sebelumnya sempat ”istirahat” karena pandemi Covid-19,  kini mulai aktif lagi. Diskusi kali ini mengangkat tema ”Kedudukan Bahasa Oseng Secara Linguistik”.  Forum sepakat menjadikan bahasa Oseng sebagai bahasa daerah Banyuwangi.

Diskusi yang berlangsung di Seblang Room Grha Pena Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin dihadiri tim dari Balai Bahasa Jawa Timur. Hadir pula kalangan akademisi dari Untag 1945 Banyuwangi, Uniba, kepala adat Desa Kemiren, pencipta lagu Oseng Yons DD, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, dan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Choliqul Ridho.

Hadir pula Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wiwin Indiarti dan Ketua Adat Desa Kemiren Suhaimi. Diskusi tersebut dibuka oleh Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi. ”Semoga melalui forum ini dapat memberikan kontribusi bagi keberlangsungan bahasa daerah Banyuwangi,” harap Samsudin.

Baca juga: Jaran Goyang Ramaikan Inaugurasi Opspek Untag

Acara yang dipandu Ketua DKB Hasan Basri kemarin berlangsung gayeng. Menurut Hasan Basri sejauh ini masyarakat Banyuwangi sangat menyayangi bahasa Oseng, namun hanya punya semangat tanpa punya dasar linguistik yang baik. Sebagai bukti, sejak tahun 1997 bahasa Oseng telah masuk sebagai muatan lokal diawali tiga kecamatan di sepuluh desa di Banyuwangi.

Kemudian pada tahun 2001, bahasa Oseng mulai diberlakukan di sekolah-sekolah dasar se-Kabupaten Banyuwangi dan juga di SMP. ”Sayangnya posisi bahasa Oseng secara konstruktif di Jawa Timur amat terlukai dengan tidak masuknya bahasa Oseng sebagai bahasa daerah. Yang masuk masih bahasa Jawa dan Madura,” beber Hasan Basri.

Penggunaan bahasa Oseng juga masih terus berlangsung hingga kini dan menjadi bahasa sehari-hari oleh masyarakat Oseng di Banyuwangi. Sebagai bentuk keseriusan, Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banyuwangi juga sedang membuat bahan ajar muatan lokal bahasa Oseng yang kemudian akan menjadi modal penting penguatan identitas kebudayaan daerah serta memperkuat posisi bahasa Oseng.

Abdullah Fauzi, budayawan yang juga staf Disbudpar Banyuwangi mengungkapkan, bahasa Oseng boleh dibilang seperti anak liar yang tidak boleh masuk dan naik kelas. Sejak dulu, bahasa Oseng dihadapkan pada teori-teori tertentu sehingga dianggap masih sebagai dialek, bukan bahasa. ”Mestinya yang ada ini diteorikan, bukan malah harus mengikuti teori,” usulnya.

Seniman Banyuwangi yang juga pencipta lagu berbahasa Oseng, Yons DD memiliki pandangan lain bahwa di Jawa Timur khususnya, hingga kini belum ada lagu khas Kediri, Tulungagung, Blitar, atau pun Ngawi. Yang ada yakni lagu Jawa dan Madura karena dua daerah tersebut memang ada perbedaan, yakni bahasa.

Begitupun dengan Banyuwangi, perkembangan lagu Banyuwangi berkembang begitu pesat dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya di Banyuwangi melainkan juga di Indonesia. ”Itu artinya di Banyuwangi ada sesuatu perbedaan, entah bahasa atau dialek yang jelas ada sesuatu yang berbeda,” tandasnya.

Tim Balai Bahasa Jawa Timur Puspa Ruriana mengatakan, tujuan Balai Bahasa ke Banyuwangi tak lain dalam rangka pengambilan data penelitian kajian tematik leksikografi penelitian kebutuhan kamus di Jawa Timur. Nantinya, tim Balai Bahasa Jawa Timur akan mendatangi sekolah-sekolah di Banyuwangi dengan menyiapkan kuesioner.

Sejumlah pertanyaan itu di antaranya, apakah kamus bahasa Oseng masih digunakan? Perlukah kamus bahasa Oseng diperbaiki? Apakah sekolah masih membutuhkan kamus bahasa Oseng atau tidak? ”Seperti apa yang dibutuhkan nanti, kami akan melakukan penyusunan kamus bahasa daerah. Kami akan mendatangi SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi dengan jumlah responden 80 siswa,” kata Puspa.

Melihat kondisi itu, melalui Forum Diskusi 77 tercetus untuk membentuk Lembaga Studi Bahasa Daerah Banyuwangi yang isinya adalah para peneliti linguistik. Harapannya lembaga tersebut dapat menyusun tata bahasa Oseng melalui penelitian. Dengan demikian bisa menjadi kurikulum muatan lokal bahasa Oseng, bahan ajar, dan mendirikan program studi (prodi) Sastra Daerah Bahasa Oseng di perguruan tinggi. 

(bw/ddy/aif/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia