Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Edukasi
icon featured
Edukasi

DPRD Anggap Pemilihan Direktur Poliwangi Cacat Prosedur

22 September 2021, 14: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DPRD Anggap Pemilihan Direktur Poliwangi Cacat Prosedur

HEARING: Komisi IV DPRD memanggil panitia Pildir Poliwangi dan Ketua Senat kemarin. Rapat dengar pendapat itu membahas masalah pemilihan Direktur Poliwangi. (Rino Bakhtiar/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

BANYUWANGI – Komisi IV DPRD Banyuwangi menggelar rapat dengar pendapat (hearing) terkait proses Pemilihan Direktur Politeknik Negeri Banyuwangi (Pildir Poliwangi) kemarin (20/9). Hasil rapat memutuskan akan dilakukan kajian ulang dari DPRD dan segera ditindaklanjuti.

Permohonan hearing diajukan oleh Masyarakat Peduli Pendidikan Banyuwangi (MPPB). Mereka menilai Pildir Poliwangi tak mencerminkan demokrasi. Ketua MPPB Danu Budiono mempermasalahkan aturan Pildir Poliwangi yang tumpang tindih. Menurutnya, peraturan senat dibuat bertentangan dengan juklak dan juknis.

Danu menduga ada salah satu kandidat yang telah menyusun kabinet, kemudian kalah dalam kontestasi sehingga juklak dan juknis yang telah dibuat tidak dipakai. Danu menjelaskan, Poliwangi belum membuat peraturan turunan dari Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2017 tentang Statuta Politeknik Negeri Banyuwangi. ”Ketika ada mahasiswa yang mendapat tindakan diskriminasi oleh dosen tidak ada pelanggarannya. Karena peraturan direktur belum dibuat,” kata Danu.

Baca juga: Sosialisasi Pengolahan Chips Porang untuk Tingkatkan Kelompok Tani

Danu menambahkan, di dalam statuta Poliwangi terdapat Dewan Pertimbangan yang anggotanya terdiri satu unsur pemerintah daerah, alumni, pengusaha, pakar pendidikan, purnabakti pimpinan Poliwangi, dan yayasan pendidikan tinggi Banyuwangi. ”Dewan Pertimbangan berfungsi memberikan masukan kepada direktur untuk pengembangan Poliwangi. Itu juga belum dibentuk selama Poliwangi berdiri,” tambah Danu.

Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi Ficky Septalinda menilai proses Pildir Poliwangi cacat prosedur. Menurut Ficky, terdapat dua peraturan yang tumpang tindih. ”Akan kami kaji ulang dengan pimpinan, karena kewenangan yang mengatur Perguruan Tinggi ada pada Kemendikbud-Ristek. Namun, saya menilai ini cacat prosedur. Jika disepakati, kita kawal proses ini sampai ke kementerian,” kata Ficky.

Ketua Panitia Pildir Poliwangi Masetya Mukti mengatakan, pihaknya sudah menjalankan prosedur sesuai dengan peraturan yang berlaku. Masetya menganggap hanya terdapat interpretasi yang berbeda dari pihak eksternal. Tiga nama yang telah lolos tahap penyaringan sedang dalam proses pengiriman berkas kepada Kemdikbud-Ristek.  ”Kami ikuti aturan dari Kementerian, proses itu tetap berjalan. Pada prinsipnya segala sesuatu yang kami lakukan akan kami laporkan,” ujar Masetya.

Rapat dengar pendapat kemarin dihadiri oleh Plt Direktur Poliwangi Fuad Al Haris, Ketua Senat Poliwangi M. Abdul Wahid, Ketua Panitia Pildir Masetya Mukti, Sekkab Mujiono, Kepala Dispendik Suratno, perwakilan MPPB, dan perwakilan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Poliwangi. Hearing dimulai dari pukul 13.30 sampai pukul 5.00 yang dipimpin oleh Basuki Rachmad dan Ficky Septalinda.

Sebagaimana diketahui, tahap penyaringan Pemilihan Direktur (Pildir) Poliwangi menuai kontroversi. Keputusan senat menetapkan tiga calon direktur dinilai tidak mencerminkan pilihan civitas academica Poliwangi. Perbedaan hasil popular polling dengan keputusan senat disebut-sebut sebagai pemicunya.  

Panitia Pildir menggelar popular polling sebagai bahan pertimbangan jajaran senat dalam memilih calon direktur. Namun, dua bakal calon (balon) direktur yang mendapat suara terendah dalam popular polling justru ditetapkan menjadi calon direktur. Mereka adalah Hadi Supriyanto MT dan Alfin Hidayat MT. Hadi dapat suara 6 persen, sedangkan Alfin 3 persen.

Sebaliknya, dua balon direktur yang menempati tiga teratas hasil polling justru terpental.  Keduanya adalah Dr Zainal Arief dan M. Fuad Al Haris MT. Dalam polling tersebut, Zainal meraih suara 38 persen, sedangkan Fuad 24 persen. Zainal disebut-sebut cukup berpengalaman mengelola pendidikan Politeknik. Dia pernah menjabat sebagai Direktur Politeknik Elektro Negeri Surabaya (PENS) selama dua periode. Saat ini dipercaya sebagai Ketua Forum Direktur Politeknik se-Indonesia (FDPNI) 2020–2022.

Sedangkan Fuad Al Haris tercatat sebagai balon dari internal Poliwangi. Dia menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Informatika dan Wakil Direktur Bidang Umum dan Keuangan Poliwangi. Pria asli Banyuwangi itu juga dipercaya oleh Kemendikbud-Ristek menjadi Plt Direktur Poliwangi.

Terpentalnya nama Zainal dan Fuad disebut-sebut ada intervensi kuat dari internal senat. Ada indikasi oknum senat mengarahkan pilihan kepada beberapa kandidat. Sebagai senat mestinya netral dalam menentukan pilihan. Dugaan kecurangan lainnya, tata tertib penyaringan dibuat mendadak saat proses penyaringan berlangsung. (mg2/aif/c1)

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia