alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

DKB ”Tolak” Hasil Terjemahan Alquran ke Bahasa Oseng

BANYUWANGI – Dewan Kesenian Blambangan (DKB) angkat suara menyikapi rencana finalisasi penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng. Sebagai organisasi yang ”mengampu” dan bertanggung jawab atas pengembangan kebahasaan dan kesusastraan Oseng, DKB keberatan terhadap hasil terjemahan kitab suci umat Islam tersebut ke bahasa daerah Banyuwangi.

Sikap DKB itu dilecut oleh kabar yang beredar bahwa hari Kamis ini (20/4) bakal digeber focus group discussion (FGD) finalisasi terjemahan Quran bahasa Oseng Banyuwangi di salah satu hotel di Banyuwangi. FGD digelar seiring telah selesainya kegiatan penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng hasil kerja sama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dengan Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Ketua DKB Hasan Basri menyatakan, pihaknya tidak pernah dilibatkan dalam proses penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng tersebut. ”Karena itu, kalau ada pihak-pihak yang komplain terhadap isi Alquran terjemahan bahasa Oseng tersebut, misalnya ada kosakata yang dianggap tidak sesuai, maka kami tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Hasan menuturkan, dalam rundown FGD juga disebutkan bahwa Bupati Ipuk Fiestiandani bakal hadir dalam rangkaian pembukaan acara serta menyampaikan peran pemkab dalam mewujudkan terjemahan Alquran bahasa Oseng tersebut.

”Bupati merupakan representasi Pemkab Banyuwangi. Padahal, kami juga sudah berkomunikasi dengan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, pihak Disbudpar juga menyatakan tim penerjemah tidak pernah ’kulonuwun’ ke Disbudpar. Disbudpar juga tidak pernah diajak koordinasi berkaitan penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng,” tuturnya.

Lebih jauh Hasan menambahkan, DKB merupakan sebuah lembaga yang kepengurusannya telah mendapat Surat Keputusan (SK) dari bupati. Selain itu, DKB juga diberi tanggung jawab terhadap pengembangan kebahasaan dan kesusastraan Oseng. ”Namun dalam hal ini (penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng, kami tidak dilibatkan. Untuk itu, sekali lagi, kalau ada pihak-pihak yang komplain, kami tidak bertanggung jawab,” pungkasnya.

BANYUWANGI – Dewan Kesenian Blambangan (DKB) angkat suara menyikapi rencana finalisasi penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng. Sebagai organisasi yang ”mengampu” dan bertanggung jawab atas pengembangan kebahasaan dan kesusastraan Oseng, DKB keberatan terhadap hasil terjemahan kitab suci umat Islam tersebut ke bahasa daerah Banyuwangi.

Sikap DKB itu dilecut oleh kabar yang beredar bahwa hari Kamis ini (20/4) bakal digeber focus group discussion (FGD) finalisasi terjemahan Quran bahasa Oseng Banyuwangi di salah satu hotel di Banyuwangi. FGD digelar seiring telah selesainya kegiatan penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng hasil kerja sama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dengan Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Ketua DKB Hasan Basri menyatakan, pihaknya tidak pernah dilibatkan dalam proses penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng tersebut. ”Karena itu, kalau ada pihak-pihak yang komplain terhadap isi Alquran terjemahan bahasa Oseng tersebut, misalnya ada kosakata yang dianggap tidak sesuai, maka kami tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Hasan menuturkan, dalam rundown FGD juga disebutkan bahwa Bupati Ipuk Fiestiandani bakal hadir dalam rangkaian pembukaan acara serta menyampaikan peran pemkab dalam mewujudkan terjemahan Alquran bahasa Oseng tersebut.

”Bupati merupakan representasi Pemkab Banyuwangi. Padahal, kami juga sudah berkomunikasi dengan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, pihak Disbudpar juga menyatakan tim penerjemah tidak pernah ’kulonuwun’ ke Disbudpar. Disbudpar juga tidak pernah diajak koordinasi berkaitan penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng,” tuturnya.

Lebih jauh Hasan menambahkan, DKB merupakan sebuah lembaga yang kepengurusannya telah mendapat Surat Keputusan (SK) dari bupati. Selain itu, DKB juga diberi tanggung jawab terhadap pengembangan kebahasaan dan kesusastraan Oseng. ”Namun dalam hal ini (penerjemahan Alquran ke bahasa Oseng, kami tidak dilibatkan. Untuk itu, sekali lagi, kalau ada pihak-pihak yang komplain, kami tidak bertanggung jawab,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/