alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Bandingkan Bola Pingpong dengan Telur Penyu

BANYUWANGI – Road show Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) terus berlanjut hingga kemarin (20/3). Kali ini, tim BSTF menyambangi SDN 2 Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi.

Dengan tetap mengusung upaya pelestarian dan konservasi penyu, lima kru BSTF didukung dengan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur memberikan pengetahuan soal kehidupan penyu ini kepada puluhan siswa.

Mereka menjelaskan tentang bermacam jenis penyu di dunia hingga habitat penyu yang mendiami perairan Banyuwangi. Safari penyelamatan penyu semakin lengkap dengan dukungan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Banyuwangi. Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Banyuwangi, Purwanto turut hadir dalam kegiatan sosialisasi penyelamatan penyu siang itu.

Sementara itu, penyu sebagai hewan dilindungi ternyata menarik perhatian siswa. Tidak sedikit siswa yang penasaran dengan wujud bayi penyu alias tukik. “Penyu di dunia itu ada tujuh. Sedangkan enam jenis penyu hidup di Indonesia. Empat jenis di antaranya ada dan berkembang biak di perairan Banyuwangi,” beber relawan BSTF, Gerda  Sukarno Prayudha.

Penyu di perairan Banyuwangi antara lain jenis Belimbing, Lekang, Sisik, dan penyu Hijau. Masing-masing memiliki ciri dan khas tersendiri. Penyu belimbing misalnya, merupakan jenis penyu paling besar. Satwa dewasa jenis ini bisa memiliki bobot 1000 Kg.

Sementara itu, sebagai hewan purba , keberadaan penyu kian langka. Selain banyak perburuan, telur penyu juga banyak disalahgunakan untuk konsumsi. Kelestarian dan kebersihan lingkungan turut menjadi penentu keberadaan penyu. “Penyu tidak bisa membedakan mana sampah plasti, dank mana ubur-ubur. Akhibatnya banyak penyu mati karena makan plastik. Jadi jangan buang sampah sembarangan ya,” pesan Penasihat BSTF Purwanto. 

Usai sosialisasi, rasa penasaran siswa sekolah ini rupanya belum tuntas. Mereka mengerumuni stoples berisi sampel tukik dan telur yang diawetkan sebagai alat peraga pendidikan.  Pertanyaan dan argumentasi pun bermunculan. “Aku belum pernah lihat telur penyu. Seperti bola pingpong bentuknya,” ujar siswa kelas tiga, Silvia.

Pendiri BSTF, Wiyanto Haditanojo mengatakan, kegiatan ini akan menjadi bagian sosialisasi dan upaya pelestarian penyu di Banyuwangi.  Melalui sarana seperti ini, BSTF berharap setidaknya muncul rasa ikut memiliki dan peduli terhadap lingkungan di kalangan siswa. (nic/bay)

BANYUWANGI – Road show Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) terus berlanjut hingga kemarin (20/3). Kali ini, tim BSTF menyambangi SDN 2 Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi.

Dengan tetap mengusung upaya pelestarian dan konservasi penyu, lima kru BSTF didukung dengan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur memberikan pengetahuan soal kehidupan penyu ini kepada puluhan siswa.

Mereka menjelaskan tentang bermacam jenis penyu di dunia hingga habitat penyu yang mendiami perairan Banyuwangi. Safari penyelamatan penyu semakin lengkap dengan dukungan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Banyuwangi. Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Banyuwangi, Purwanto turut hadir dalam kegiatan sosialisasi penyelamatan penyu siang itu.

Sementara itu, penyu sebagai hewan dilindungi ternyata menarik perhatian siswa. Tidak sedikit siswa yang penasaran dengan wujud bayi penyu alias tukik. “Penyu di dunia itu ada tujuh. Sedangkan enam jenis penyu hidup di Indonesia. Empat jenis di antaranya ada dan berkembang biak di perairan Banyuwangi,” beber relawan BSTF, Gerda  Sukarno Prayudha.

Penyu di perairan Banyuwangi antara lain jenis Belimbing, Lekang, Sisik, dan penyu Hijau. Masing-masing memiliki ciri dan khas tersendiri. Penyu belimbing misalnya, merupakan jenis penyu paling besar. Satwa dewasa jenis ini bisa memiliki bobot 1000 Kg.

Sementara itu, sebagai hewan purba , keberadaan penyu kian langka. Selain banyak perburuan, telur penyu juga banyak disalahgunakan untuk konsumsi. Kelestarian dan kebersihan lingkungan turut menjadi penentu keberadaan penyu. “Penyu tidak bisa membedakan mana sampah plasti, dank mana ubur-ubur. Akhibatnya banyak penyu mati karena makan plastik. Jadi jangan buang sampah sembarangan ya,” pesan Penasihat BSTF Purwanto. 

Usai sosialisasi, rasa penasaran siswa sekolah ini rupanya belum tuntas. Mereka mengerumuni stoples berisi sampel tukik dan telur yang diawetkan sebagai alat peraga pendidikan.  Pertanyaan dan argumentasi pun bermunculan. “Aku belum pernah lihat telur penyu. Seperti bola pingpong bentuknya,” ujar siswa kelas tiga, Silvia.

Pendiri BSTF, Wiyanto Haditanojo mengatakan, kegiatan ini akan menjadi bagian sosialisasi dan upaya pelestarian penyu di Banyuwangi.  Melalui sarana seperti ini, BSTF berharap setidaknya muncul rasa ikut memiliki dan peduli terhadap lingkungan di kalangan siswa. (nic/bay)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/