alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Segera Dikipas agar Tidak Gosong

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Proses sangrai biji kopi sebetulnya memegang peran penting pada seluruh rantai perjalanan kopi. Termasuk, jangan lupa langsung mengipasi begitu selesai proses sangrai. Sebab, proses inilah yang umumnya menentukan akan senikmat apa kopi yang dihasilkan nantinya.

Proses roasting ini boleh dibilang mengolah biji kopi yang sebelumnya tidak ada-apanya, diolah hingga menjadi ada apa-apanya. Segala notes, flavor, after taste, dan rasa-rasa ajaib pada kopi dipengaruhi oleh proses ini.

Untuk menyangrai kopi agar mengeluarkan karakter terbaik dan terasa nikmat memang tidak mudah. Banyak specialty coffee roasters yang harus mengalami beberapa kali percobaan, proses gagal, dan trial and error dulu sebelum mendapat pola roasting terbaik untuk masing-masing kopi yang disangrai.

Biji kopi mentah biasanya mengandung sekitar 12 persen kadar air yang terbagi merata di seluruh struktur padat biji kopi. Biji kopi tidak akan berubah warna menjadi kecokelatan selama kandungan air masih ada. ”Jadi, ketika biji kopi yang masih mentah dimasukkan ke dalam wajan penggorengan, tahap awal yang terjadi adalah biji kopi akan mulai menyerap sejumlah panas, lalu mulai menguapkan kandungan air tadi. Proses pengeringan ini cenderung membutuhkan panas dan energi yang cukup besar,” ujar Setiawan Subekti, pakar kopi internasional asal Banyuwangi.

Baca Juga :  Wajan Tanah Liat Lebih Nikmat

Setelah kandungan air yang tersisa terlepas dari biji kopi, reaksi pencokelatan pun dimulai. Pada tahap ini, biji kopi biasanya masih padat dan sedikit beraroma beras basmati. Biji kopi akan mulai mengembang dan kulit biji kopi yang tipis mulai mengelupas. ”Saat proses ini, sudah mulai harus dikipas untuk memisahkan biji kopi dengan kulit ari kopi,” katanya.

Dua tahap pertama pengeringan (drying) dan yellowing ini termasuk fase yang penting dalam proses roasting. Jika kopi tidak mengalami pengeringan secara tepat, maka biji kopi tidak akan tersangrai secara merata selama tahap-tahap berikutnya. ”Biasanya pada tahap awal pengeringan ini terjadi pada menit keempat dan kelima,” katanya.

Maka jika sangrai kopi menggunakan tungku dan wajan gerabah, gerakan tangan harus cepat, teratur, dan stabil agar panas pada permukaan biji kopi bisa merata. Ketika biji kopi mulai berubah kecokelatan pada proses yellowing, ada semacam percampuran antara gas karbondioksida dan air yang sama-sama menguap di dalam biji kopi. Ketika tekanan kedua elemen ini mencapai puncaknya, biji kopi akan mulai terbuka dan pada saat inilah biji-biji kopi akan memecah atau cracking.

Baca Juga :  Penerima Education Award Diajak Ziarah Wiyata Kebangsaan

Fase kecokelatan karamel atau first crack ini terjadi pada menit kelima dan keenam. Kemudian pada menit kedelapan, kemelethek (crack) pada temperatur 180 derajat. Proses ini bisa kita kenal melalui bunyi yang renyah, seperti bunyi kacang yang pecah. Pada tahap ini pula, segala karakter dan rasa-rasa yang familiar dari biji kopi akan mulai berkembang dan ”terbentuk”.

Setelah cracking pertama, biji kopi cenderung memiliki tekstur lebih lembut di permukaannya, tapi belum secara keseluruhan. Fase roasting ini menentukan warna akhir dari biji kopi dan termasuk juga ”derajat” roasting-nya. Pada tahap second cracking ini biasanya asapnya banyak dan sedikit berminyak.

Pada poin ini, biji kopi mulai memecah kembali kedua kali, tapi dengan bunyi yang lebih ringan dan lembut. Ketika biji kopi mencapai fase ini, minyak alami (oil) kopi biasanya akan muncul ke permukaan biji. Banyak karakter kopi telah hilang di fase ini, rasa-rasa jenis baru sekaligus juga berkembang pada tahap ini. ”Panas pada permukaan biji kopi harus segera dikipas. Karena jika tidak segera dikipas, panas akan terus membakar seluruh permukaan kopi dan berubah warna hitam legam menjadi gosong,” jelasnya. 

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Proses sangrai biji kopi sebetulnya memegang peran penting pada seluruh rantai perjalanan kopi. Termasuk, jangan lupa langsung mengipasi begitu selesai proses sangrai. Sebab, proses inilah yang umumnya menentukan akan senikmat apa kopi yang dihasilkan nantinya.

Proses roasting ini boleh dibilang mengolah biji kopi yang sebelumnya tidak ada-apanya, diolah hingga menjadi ada apa-apanya. Segala notes, flavor, after taste, dan rasa-rasa ajaib pada kopi dipengaruhi oleh proses ini.

Untuk menyangrai kopi agar mengeluarkan karakter terbaik dan terasa nikmat memang tidak mudah. Banyak specialty coffee roasters yang harus mengalami beberapa kali percobaan, proses gagal, dan trial and error dulu sebelum mendapat pola roasting terbaik untuk masing-masing kopi yang disangrai.

Biji kopi mentah biasanya mengandung sekitar 12 persen kadar air yang terbagi merata di seluruh struktur padat biji kopi. Biji kopi tidak akan berubah warna menjadi kecokelatan selama kandungan air masih ada. ”Jadi, ketika biji kopi yang masih mentah dimasukkan ke dalam wajan penggorengan, tahap awal yang terjadi adalah biji kopi akan mulai menyerap sejumlah panas, lalu mulai menguapkan kandungan air tadi. Proses pengeringan ini cenderung membutuhkan panas dan energi yang cukup besar,” ujar Setiawan Subekti, pakar kopi internasional asal Banyuwangi.

Baca Juga :  Hasil Panen Kopi Menurun karena Cuaca Tak Menentu

Setelah kandungan air yang tersisa terlepas dari biji kopi, reaksi pencokelatan pun dimulai. Pada tahap ini, biji kopi biasanya masih padat dan sedikit beraroma beras basmati. Biji kopi akan mulai mengembang dan kulit biji kopi yang tipis mulai mengelupas. ”Saat proses ini, sudah mulai harus dikipas untuk memisahkan biji kopi dengan kulit ari kopi,” katanya.

Dua tahap pertama pengeringan (drying) dan yellowing ini termasuk fase yang penting dalam proses roasting. Jika kopi tidak mengalami pengeringan secara tepat, maka biji kopi tidak akan tersangrai secara merata selama tahap-tahap berikutnya. ”Biasanya pada tahap awal pengeringan ini terjadi pada menit keempat dan kelima,” katanya.

Maka jika sangrai kopi menggunakan tungku dan wajan gerabah, gerakan tangan harus cepat, teratur, dan stabil agar panas pada permukaan biji kopi bisa merata. Ketika biji kopi mulai berubah kecokelatan pada proses yellowing, ada semacam percampuran antara gas karbondioksida dan air yang sama-sama menguap di dalam biji kopi. Ketika tekanan kedua elemen ini mencapai puncaknya, biji kopi akan mulai terbuka dan pada saat inilah biji-biji kopi akan memecah atau cracking.

Baca Juga :  Pelaksanaan UNBK di Tegaldlimo Aman dan Lancar

Fase kecokelatan karamel atau first crack ini terjadi pada menit kelima dan keenam. Kemudian pada menit kedelapan, kemelethek (crack) pada temperatur 180 derajat. Proses ini bisa kita kenal melalui bunyi yang renyah, seperti bunyi kacang yang pecah. Pada tahap ini pula, segala karakter dan rasa-rasa yang familiar dari biji kopi akan mulai berkembang dan ”terbentuk”.

Setelah cracking pertama, biji kopi cenderung memiliki tekstur lebih lembut di permukaannya, tapi belum secara keseluruhan. Fase roasting ini menentukan warna akhir dari biji kopi dan termasuk juga ”derajat” roasting-nya. Pada tahap second cracking ini biasanya asapnya banyak dan sedikit berminyak.

Pada poin ini, biji kopi mulai memecah kembali kedua kali, tapi dengan bunyi yang lebih ringan dan lembut. Ketika biji kopi mencapai fase ini, minyak alami (oil) kopi biasanya akan muncul ke permukaan biji. Banyak karakter kopi telah hilang di fase ini, rasa-rasa jenis baru sekaligus juga berkembang pada tahap ini. ”Panas pada permukaan biji kopi harus segera dikipas. Karena jika tidak segera dikipas, panas akan terus membakar seluruh permukaan kopi dan berubah warna hitam legam menjadi gosong,” jelasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/