alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Pilih Bahan Logam Pipih agar Lebih Ringan

Salah satu alat yang paling penting dalam proses sangrai kopi tradisional adalah sutil. Alat ini terus dipegang untuk mengaduk biji kopi selama proses berlangsung.

Mempertahankan teknik sangrai tradisional memang tak mudah. Apalagi, kini juga banyak mesin sangrai kopi yang lebih praktis dan modern. Namun, menyangrai kopi tradisional memiliki keunikan dan cita rasa khas bagi penikmat kopi.

Menyangrai kopi secara manual dilakukan dengan memanaskan biji-biji kopi di atas penggorengan tanpa dibubuhi minyak. Seseorang harus standby mengaduk-aduk biji kopi agar permukaan kopi benar-benar matang merata, tidak hanya bagian bawah saja yang matang dan justru gosong.

Proses pemanasan ini dilakukan di atas tungku menggunakan kayu bakar hingga biji kopi berwarna kecokelatan. Proses pemanasan menggunakan kayu bakar inilah yang akan membuat kopi semakin nikmat. ”Ada sebagian orang yang menilai jika aroma kayu bakar akan menempel pada biji kopi, tetap terasa ketika biji kopi sudah diseduh menjadi minuman,” ujar Yanti, salah seorang pekerja sangrai kopi tradisional di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Teknik sangrai tradisional inilah yang membuat cita rasa kopi lebih nikmat dan harus tetap dipertahankan sebagai teknik sangrai kopi warisan tempo dulu. ”Kopi Banyuwangi memang cukup nikmat dengan roasting manual. Cita rasanya berbeda, nikmat dan aromanya lebih harum,” ungkap Yanti.

Untuk mendapatkan kopi Banyuwangi yang disangrai manual, tidak terlalu sulit. Bisa mengambil stok dari sejumlah daerah kebun penghasil kopi, seperti dari wilayah Kecamatan Kalipuro, Kecamatan Kalibaru, Kecamatan Licin, dan Kecamatan Songgon.

Cara menyangrai kopi tradisional juga dinilai cukup mudah. Tinggal menyiapkan tungku dan bahan bakar kayu. Panas apinya harus merata dengan menyisakan bara api, sehingga proses sangrai lebih sempurna. ”Kalau sangrai kopi butuh waktu 10–15 menit saja, dan harus duduk sambil terus mengaduk-aduk biji kopi agar masak merata,” katanya.

Agar proses pematangan biji kopi lebih merata, Yanti kerap menggunakan wajan dari gerabah tanah liat dan menggunakan sutil dengan gagang berbahan kayu. Tetapi bagian depan sutil terbuat dari logam. ”Kalau dari logam permukaannya pipih dan lebih kuat, tahan panas,” katanya.

Jika menggunakan kayu, permukaan biji kopi yang sedang disangrai tidak teraduk dengan maksimal dan dikhawatirkan kurang merata karena bagian depan sutil tidak pipih. 

Salah satu alat yang paling penting dalam proses sangrai kopi tradisional adalah sutil. Alat ini terus dipegang untuk mengaduk biji kopi selama proses berlangsung.

Mempertahankan teknik sangrai tradisional memang tak mudah. Apalagi, kini juga banyak mesin sangrai kopi yang lebih praktis dan modern. Namun, menyangrai kopi tradisional memiliki keunikan dan cita rasa khas bagi penikmat kopi.

Menyangrai kopi secara manual dilakukan dengan memanaskan biji-biji kopi di atas penggorengan tanpa dibubuhi minyak. Seseorang harus standby mengaduk-aduk biji kopi agar permukaan kopi benar-benar matang merata, tidak hanya bagian bawah saja yang matang dan justru gosong.

Proses pemanasan ini dilakukan di atas tungku menggunakan kayu bakar hingga biji kopi berwarna kecokelatan. Proses pemanasan menggunakan kayu bakar inilah yang akan membuat kopi semakin nikmat. ”Ada sebagian orang yang menilai jika aroma kayu bakar akan menempel pada biji kopi, tetap terasa ketika biji kopi sudah diseduh menjadi minuman,” ujar Yanti, salah seorang pekerja sangrai kopi tradisional di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Teknik sangrai tradisional inilah yang membuat cita rasa kopi lebih nikmat dan harus tetap dipertahankan sebagai teknik sangrai kopi warisan tempo dulu. ”Kopi Banyuwangi memang cukup nikmat dengan roasting manual. Cita rasanya berbeda, nikmat dan aromanya lebih harum,” ungkap Yanti.

Untuk mendapatkan kopi Banyuwangi yang disangrai manual, tidak terlalu sulit. Bisa mengambil stok dari sejumlah daerah kebun penghasil kopi, seperti dari wilayah Kecamatan Kalipuro, Kecamatan Kalibaru, Kecamatan Licin, dan Kecamatan Songgon.

Cara menyangrai kopi tradisional juga dinilai cukup mudah. Tinggal menyiapkan tungku dan bahan bakar kayu. Panas apinya harus merata dengan menyisakan bara api, sehingga proses sangrai lebih sempurna. ”Kalau sangrai kopi butuh waktu 10–15 menit saja, dan harus duduk sambil terus mengaduk-aduk biji kopi agar masak merata,” katanya.

Agar proses pematangan biji kopi lebih merata, Yanti kerap menggunakan wajan dari gerabah tanah liat dan menggunakan sutil dengan gagang berbahan kayu. Tetapi bagian depan sutil terbuat dari logam. ”Kalau dari logam permukaannya pipih dan lebih kuat, tahan panas,” katanya.

Jika menggunakan kayu, permukaan biji kopi yang sedang disangrai tidak teraduk dengan maksimal dan dikhawatirkan kurang merata karena bagian depan sutil tidak pipih. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/