alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Akreditasi Sekolah Jadi Syarat Daftar PPDB Jalur Prestasi

BANYUWANGI – Berbagai upaya dilakukan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi untuk meratakan penyebaran kualitas siswa pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMP tahun ini. Agar tidak terjadi lagi dominasi siswa asal sekolah tertentu, tahun ini nilai rapor harus dipadukan dengan nilai akreditasi sekolah.

Untuk gelombang pertama, Dispendik membuka jalur prestasi. Pada jalur prestasi, ada 30 persen kuota yang disediakan. Prestasi akademik 5 persen yang dibuktikan dengan uji petik, lalu prestasi non-akademik 5 persen, serta jalur rerata rapor dan akreditasi sebesar 20 persen.

Jalur prestasi dibuka selama dua hari, yaitu tanggal 18 sampai 19 April. Pengumuman diterima atau tidak tanggal 20 April. Pendaftar hanya boleh memilih satu sekolah saja selama proses pendaftaran. Siswa baru boleh kembali mendaftar di jalur lain setelah dipastikan tidak lolos ketika melakukan pendaftaran di sekolah awal. ”Yang berbeda tahun ini kita menyandingkan nilai rapor dengan akreditasi sekolah. Jadi, siswa tidak bisa mendaftar hanya berbekal nilai rapor saja,” ujar Kabid SMP Dispendik Banyuwangi Alfian.

Tahun lalu, jalur rerata rapor dianggap menjadi salah satu titik lemah dalam PPDB. Kala itu, siswa lulusan SDN 1 Panderejo menguasai beberapa kursi SMP negeri di kota Banyuwangi.

Alfian mengatakan, tahun ini skor nilai rapor dibagi dengan skor akreditasi sekolah. Untuk penilaian, 60 persen diambil dari nilai rapor dan 40 persen diambil dari nilai akreditasi. ”Kita sudah rumuskan dan simulasikan. Seharusnya dengan tambahan angka akreditasi, tidak ada sekolah yang mendominasi lagi,” jelasnya.

Nilai akreditasi sekolah diambil dari penilaian selama lima tahun terakhir terhadap lembaga sekolah yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN). Penilaian itu meliputi delapan standar nasional. Mulai dari standar isi, kompetensi lulusan, standar proses, pengelolaan pembiayaan, standar pengelolaan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, serta standar penilaian.    

Dengan adanya nilai akreditasi, Alfian optimistis penyebaran siswa sekolah akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika cara ini kembali gagal, pihaknya akan kembali melakukan perubahan jalur masuk PPDB SMP untuk nilai rapor. Salah satunya dengan pembatasan kuota untuk setiap sekolah. ”Kalau kembali jebol, kita akan lakukan perubahan aturan lagi. Mungkin untuk kuota masing-masing sekolah maksimal yang akan kita batasi,” tegasnya.

Sementara itu, untuk mempermudah proses PPDB, Dispendik kembali mengaktifkan layanan pengaduan PPDB. Keluhan atau pengaduan bisa dilakukan mulai jam buka Dinas Pendidikan hingga pukul 15.00. Pengaduan yang dilakukan bisa seputar kesalahan sistem atau pendaftaran yang dilakukan oleh pendaftar. ”Kita siapkan pengaduan untuk mempermudah masyarakat. Yang jelas kita ingin masyarakat tidak hanya fokus kepada satu jalur PPDB saja,” pungkas Alfian. 

BANYUWANGI – Berbagai upaya dilakukan Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi untuk meratakan penyebaran kualitas siswa pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMP tahun ini. Agar tidak terjadi lagi dominasi siswa asal sekolah tertentu, tahun ini nilai rapor harus dipadukan dengan nilai akreditasi sekolah.

Untuk gelombang pertama, Dispendik membuka jalur prestasi. Pada jalur prestasi, ada 30 persen kuota yang disediakan. Prestasi akademik 5 persen yang dibuktikan dengan uji petik, lalu prestasi non-akademik 5 persen, serta jalur rerata rapor dan akreditasi sebesar 20 persen.

Jalur prestasi dibuka selama dua hari, yaitu tanggal 18 sampai 19 April. Pengumuman diterima atau tidak tanggal 20 April. Pendaftar hanya boleh memilih satu sekolah saja selama proses pendaftaran. Siswa baru boleh kembali mendaftar di jalur lain setelah dipastikan tidak lolos ketika melakukan pendaftaran di sekolah awal. ”Yang berbeda tahun ini kita menyandingkan nilai rapor dengan akreditasi sekolah. Jadi, siswa tidak bisa mendaftar hanya berbekal nilai rapor saja,” ujar Kabid SMP Dispendik Banyuwangi Alfian.

Tahun lalu, jalur rerata rapor dianggap menjadi salah satu titik lemah dalam PPDB. Kala itu, siswa lulusan SDN 1 Panderejo menguasai beberapa kursi SMP negeri di kota Banyuwangi.

Alfian mengatakan, tahun ini skor nilai rapor dibagi dengan skor akreditasi sekolah. Untuk penilaian, 60 persen diambil dari nilai rapor dan 40 persen diambil dari nilai akreditasi. ”Kita sudah rumuskan dan simulasikan. Seharusnya dengan tambahan angka akreditasi, tidak ada sekolah yang mendominasi lagi,” jelasnya.

Nilai akreditasi sekolah diambil dari penilaian selama lima tahun terakhir terhadap lembaga sekolah yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN). Penilaian itu meliputi delapan standar nasional. Mulai dari standar isi, kompetensi lulusan, standar proses, pengelolaan pembiayaan, standar pengelolaan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, serta standar penilaian.    

Dengan adanya nilai akreditasi, Alfian optimistis penyebaran siswa sekolah akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika cara ini kembali gagal, pihaknya akan kembali melakukan perubahan jalur masuk PPDB SMP untuk nilai rapor. Salah satunya dengan pembatasan kuota untuk setiap sekolah. ”Kalau kembali jebol, kita akan lakukan perubahan aturan lagi. Mungkin untuk kuota masing-masing sekolah maksimal yang akan kita batasi,” tegasnya.

Sementara itu, untuk mempermudah proses PPDB, Dispendik kembali mengaktifkan layanan pengaduan PPDB. Keluhan atau pengaduan bisa dilakukan mulai jam buka Dinas Pendidikan hingga pukul 15.00. Pengaduan yang dilakukan bisa seputar kesalahan sistem atau pendaftaran yang dilakukan oleh pendaftar. ”Kita siapkan pengaduan untuk mempermudah masyarakat. Yang jelas kita ingin masyarakat tidak hanya fokus kepada satu jalur PPDB saja,” pungkas Alfian. 

Artikel Terkait

Most Read

Masih Ada Warga yang Membawa Arak

Kunjungi Mahasiswa Papua di Asrama

Rumah Penjual Miras Digerebek Polisi

Artikel Terbaru

/