alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Alat Bor Tanah Mempermudah Proses Pemupukan Biopori–Sludge untuk Gerak

SONGGON, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset, Bahasa, dan Budaya (RBB) melaksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat Desa (P2MD). Dalam program tersebut, tim dari Poliwangi menciptakan terobosan teknologi untuk membantu proses pembuatan lubang tanah (biopori) untuk menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan (ecofarming) menggunakan pupuk organik limbah cair hewan ternak yang diserahkan kepada petani yang ada di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, kemarin.

Serah terima alat untuk kali kedua itu, disertai sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk cair organik dengan dihadiri langsung oleh Ika Yuniwati SPd MSi selaku dosen pembimbing, Akma selaku Kepala Dusun, serta ketua karang taruna dan kelompok tani beserta perwakilan dari masyarakat Desa Bayu.

Sosialisasi dan pelatihan tersebut merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan yang sebelumnya. Di mana pada kegiatan yang pertama hanya berfokus pada materi teoretis tentang biopori-sludge dan pengenalan alat pengebor tanah serta cara pengoperasian sampai pada perawatan alat.

”Ini kegiatan yang ke-2 yakni sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk cair organik yang dipandu oleh Saudara Lugas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Bayu tentang pemanfaatan urine hewan yang difermentasi sebagai pupuk cair yang ramah lingkungan untuk menerapkan ecofarming,” ujar Ika Yuniwati.

Selain itu, jelas Ika, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penanaman pohon kopi dan pembuatan lubang resapan menggunakan alat pengebor tanah oleh masyarakat Desa Bayu. Dalam kegiatan itu, masyarakat Desa Bayu dapat mengoperasikan alat dan cara mengganti bor tanah sesuai kebutuhan diameter yang dibutuhkan. ”Dengan alat ini proses pengeboran hanya memakan waktu 36 detik dibandingkan dengan cara manual yang memakan waktu sampai 2 menit,” katanya.

Ika menambahkan, dalam kesempatan tersebut pihaknya juga menyerahkan alat pengebor tanah yang kedua dan bahan-bahan untuk membuat pupuk organik. Di antaranya, Em4 3 liter, molase 3 liter, terpal, drum 60 liter 3 buah, dan sekop kecil. ”Semoga dengan alat ini, bisa bermanfaat bagi para petani yang ada di Desa Bayu,” harapnya.

Akma selaku Kepala Dusun mengucapkan terima kasih dengan adanya kegiatan adik-adik Poliwangi di kampungnya. Kedatangan mereka sangat membantu warga. Dia berharap kegiatan yang telah dilaksanakan dapat bermanfaat bagi masyarakat dan bantuan alat yang diberikan (alat pengebor tanah) bisa digunakan semaksimal mungkin.

”Saya sebagai perwakilan dari masyarakat desa yang bersangkutan atas nama kelompok tani kopi sangat berterima kasih kepada Adik-Adik mahasiswa yang telah memberikan solusi, agar para petani lebih maju untuk menghasilkan panenan yang lebih besar,” ujar Akma.

Akma juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Poliwangi yang telah mengadakan acara tersebut. Semoga apa yang telah diberikan Poliwangi bisa bermanfaat bagi masyarakat. ”Semoga dengan menggunakan alat ini, bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak khususnya di pertanian kopi,” harapnya. 

SONGGON, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset, Bahasa, dan Budaya (RBB) melaksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat Desa (P2MD). Dalam program tersebut, tim dari Poliwangi menciptakan terobosan teknologi untuk membantu proses pembuatan lubang tanah (biopori) untuk menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan (ecofarming) menggunakan pupuk organik limbah cair hewan ternak yang diserahkan kepada petani yang ada di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, kemarin.

Serah terima alat untuk kali kedua itu, disertai sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk cair organik dengan dihadiri langsung oleh Ika Yuniwati SPd MSi selaku dosen pembimbing, Akma selaku Kepala Dusun, serta ketua karang taruna dan kelompok tani beserta perwakilan dari masyarakat Desa Bayu.

Sosialisasi dan pelatihan tersebut merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan yang sebelumnya. Di mana pada kegiatan yang pertama hanya berfokus pada materi teoretis tentang biopori-sludge dan pengenalan alat pengebor tanah serta cara pengoperasian sampai pada perawatan alat.

”Ini kegiatan yang ke-2 yakni sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk cair organik yang dipandu oleh Saudara Lugas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Bayu tentang pemanfaatan urine hewan yang difermentasi sebagai pupuk cair yang ramah lingkungan untuk menerapkan ecofarming,” ujar Ika Yuniwati.

Selain itu, jelas Ika, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penanaman pohon kopi dan pembuatan lubang resapan menggunakan alat pengebor tanah oleh masyarakat Desa Bayu. Dalam kegiatan itu, masyarakat Desa Bayu dapat mengoperasikan alat dan cara mengganti bor tanah sesuai kebutuhan diameter yang dibutuhkan. ”Dengan alat ini proses pengeboran hanya memakan waktu 36 detik dibandingkan dengan cara manual yang memakan waktu sampai 2 menit,” katanya.

Ika menambahkan, dalam kesempatan tersebut pihaknya juga menyerahkan alat pengebor tanah yang kedua dan bahan-bahan untuk membuat pupuk organik. Di antaranya, Em4 3 liter, molase 3 liter, terpal, drum 60 liter 3 buah, dan sekop kecil. ”Semoga dengan alat ini, bisa bermanfaat bagi para petani yang ada di Desa Bayu,” harapnya.

Akma selaku Kepala Dusun mengucapkan terima kasih dengan adanya kegiatan adik-adik Poliwangi di kampungnya. Kedatangan mereka sangat membantu warga. Dia berharap kegiatan yang telah dilaksanakan dapat bermanfaat bagi masyarakat dan bantuan alat yang diberikan (alat pengebor tanah) bisa digunakan semaksimal mungkin.

”Saya sebagai perwakilan dari masyarakat desa yang bersangkutan atas nama kelompok tani kopi sangat berterima kasih kepada Adik-Adik mahasiswa yang telah memberikan solusi, agar para petani lebih maju untuk menghasilkan panenan yang lebih besar,” ujar Akma.

Akma juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Poliwangi yang telah mengadakan acara tersebut. Semoga apa yang telah diberikan Poliwangi bisa bermanfaat bagi masyarakat. ”Semoga dengan menggunakan alat ini, bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak khususnya di pertanian kopi,” harapnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/