Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Edukasi
icon featured
Edukasi
Politeknik Negeri Banyuwangi

Sosialisasi Pengolahan Chips Porang untuk Tingkatkan Kelompok Tani

17 September 2021, 08: 33: 21 WIB | editor : Ali Sodiqin

Sosialisasi Pengolahan Chips Porang untuk Tingkatkan Kelompok Tani

DISERAHKAN: Ketua tim PKM Ika Yuniwati bersama anggota Ely Trianasari dan Aldy Bahaduri Indraloka menyerahkan mesin perajang ubi kepada kelompok tani di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng.

Share this      

Pandemi bukan penghalang bagi tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat. Mereka melakukan pendampingan pengolahan chips dari umbi porang melalui online dan offline.

Sosialiasi pengolahan chips porang secara online, dilakukan oleh tim PKM yang dipimpin Ika Yuniwati, S.Pd., M.Si, dengan anggota Ely Trianasari, S.Pd., M.Pd dan Aldy Bahaduri Indraloka, S.Si., M.P dengan tema, Peningkatan Produktivitas Petani Umbi Porang Melalui Proses Perajangan Umbi Porang yang Berkualitas Pada Kelompok Tani Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng. “Ini untuk mengatasi permasalahan kelompok tani dalam pengolahan umbi porang,” kata anggota tim PKM, Ely Trianasari.

Sosialiasi online yang digelar pada Jumat (7/7), itu berjalan lancar dengan dihadiri tim PKM dan kelompok tani. Materi dalam acara itu, pengolahan chips porang, “Kami ambil topik ini karena mitra masih merajang umbi porang secara manual, menggunakan pisau,” terangnya.

Baca juga: Pegiat Kopi Minati Buku Man Nahnu-3

Ketua tim PKM Poliwangi, Ika Yuniwati mengatakan untuk mengatasi permasalahan mitra, diperlukan sosialisasi dan pelatihan terkait pemilihan umbi porang yang baik, penggunaan mesin perajang porang, dan perawatan mesin perajang umbi porang yang mampu meningkatkan kualitas chips porang.

Anggota tim PKM Aldy Bahaduri Indraloka yang juga narasumber dalam sosialisasi online menyampaikan, dalam meningkatkan kualitas umbi porang, diperlukan beberapa tahapan, yaitu penyortiran, pencucian umbi, perajangan, dan pengeringan chips porang. “Tahap perajangan umbi porang tahap yang sangat krusial, karena hasil potongan umbi akan menentukan kualitas chips porang yang terbentuk,” ujarnya.

Perajangan umbi porang secara manual, jelas dia, menghasilkan  potongan chips yang tidak rapi, ketebalan potongan berbeda-beda, membutuhkan waktu yang relatif lama, dan membutuhkan tenaga yang lebih besar. “Perajangan secara manual, ketebalan irisan tidak sama, ini akan mempengaruhi dalam proses pengeringan,” jelasnya.

Bila merajang umbi porang dengan mesin perajang, terang dia, maka hasil ketebalan atau potongan umbi bisa sama, perajangan menggunakan mesin tidak memerlukan waktu yang lama, lebih cepat, dan efisien. “Tidak banyak membutuhkan tenaga,” terangnya.

Untuk sosialisasi kedua terkait efektifitas dan efisiensi, disampaikan ketua tim PKM, Ika Yuniwati. Menurutnya, mesin perajangan umbi ini  dikembangkan oleh tim dosen dan mahasiswa, Dadick Ardian Tinta dan Fizar Candra Gumiwang. Mesin ini menggunakan bensin sebagai bahan bakarnya. “Lebih mudah dipindahkan dibandingkan mesin di pasaran yang masih membutuhkan listrik dalam pengoperasiannya,” katanya.

Menurut Ika, mesin ini memiliki keunggulan pisau potong dapat disesuaikan keinginan perajang, yakni antara 0,6 milimeter hingga satu centimeter; memiliki dua hopper input dan dua  hopper output, sehingga dalam perajangan umbi porang menghasilkan 320 kilogram chip per jam dengan kualitas yang utuh. Bila perajangan secara manual, dalam satu jam hanya dapat merajang 150 kilogram. “Bisa menghemat biaya produksi chip porang,” ujarnya.

Pelatihan perajangan umbi porang dan perawatan mesin perajang umbi porang, dilakukan di rumah Mujiono pada Kamis (9/9) di Desa Kembiritan. Untuk narasumber perawatan mesin perajang umbi porang, Dian Ridlo Pamuji, S.T., M.T. Dalam paparannya menyampaikan perawatan pisau potong, ruang perajangan, pulley, sabuk V, dan motor. Setelah dilakukan pelatihan, dilakukan serah terima alat kepada mitra.

Harapan besar penggunaan mesin perajang porang pada kelompok tani Desa Kembiritan, mampu menghasilkan ketebalan chips porang yang merata, tingkat kekeringan chips sama, tidak berjamur, chips porang tidak remuk ketika sudah mongering, dan irisan yang diperoleh lebih banyak. Semua keuntungan ini dapat meningkatkan gairah kelompok tani untuk kontinyu dalam memproduksi dan mengelola umbi porang mereka.(abi)

(bw/sli/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia