alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Meski Tak Diangkat CPNS, Guru Honorer Diminta Tetap Semangat Mengajar

BANYUWANGI –Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Banyuwangi mendorong anggota PGRI dari kalangan guru honorer, untuk tetap semangat melaksanakan aktivitas dan pengabdian sebagai guru walau gagal mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Pengurus PGRI menyampaikan komitmennya untuk terus berjuang agar guru honorer bisa diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)

Komitmen PGRI itu disampaikan Ketua PGRI Banyuwangi Teguh Sumarno pada upacara Hari Guru di Taman Blambangan, Selasa (13/11). ”Pengurus PGRI terus melakukan langkah-langkah dan pendekatan agar guru honorer bisa diangkat jadi PNS,” kata Teguh.

Keputusan pengangkatan guru honorer menjadi CPNS, kata Teguh, merupakan kewenangan penuh dari pemerintah pusat. Karena itu, PGRI terus melakukan lobi agar guru honorer memiliki kesempatan mengikuti seleksi CPNS. ”Ayo jadikan Hari Guru untuk bisa menghayati peran mereka baik di dunia pendidikan maupun dunia sosial,” ajak Teguh.

Teguh juga mengajak guru honorer untuk terus tersenyum. Sebab, Pemkab Banyuwangi masih memberikan perhatian berupa anggaran untuk guru.

Baca Juga :  Gelar Kejurkab, PSTI Nilai Skill Atlet Sepak Takraw Meningkat Pesat

Perhatian yang diberikan Pemkab Banyuwangi ini hendaknya menjadi penyemangat bagi para guru untuk tetap semangat dalam mengemban tugasnya. ”Peran guru ke depan semakin besar untuk berpartisipasi di dalam dan luar dunia pendidikan kita juga terus mengupayakan nasib kawan-kawan ini, termasuk meminta pemkab menyediakan reward-reward untuk peran guru yang aktif di luar kegiatan sekolah,” tegasnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas terkait tantangan pendidikan ke depan, terutama dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi revolusi industri 4.0. ”Saat ini tantangannya sudah berubah, nilai akademis bagus tapi tidak kreatif maka susah bisa berhasil. Kreativitas perlu ditumbuhkembangkan,” kata Anas.

Anas, di era sekarang ini pendidikan karakter dan akademis saja tidak cukup. Tapi juga perlu penguasaan skill yang relevan dengan tren revolusi industri 4.0. ”Guru SMK bisa memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitarnya untuk mengajari siswanya kreatif,” ujarnya.

Baca Juga :  Bersiap Berdiri Pesantren Tahfidz Spectakuler

mengingatkan tantangan memasuki era revolusi digital. Berdasar kajian Organisasi Buruh Dunia maupun lembaga manajemen global McKinsey, digitalisasi bakal menggerus peluang kerja secara formal. ”Otot-otot terancam diganti kemampuan robotik. Pada 2030, diperkirakan ada 800 juta pekerja diganti robot. Beberapa tahun ke depan secara global juga akan ada alih profesi sampai 375 juta pekerja. Misalnya, sekarang penjaga toko berkurang karena semua belanja online,” kata Anas.

hanya meminta kreatif, dalam kesempatan ini, Anas juga mengapresiasi kerja keras para pendidik ini dengan meningkatkan insentif guru non-PNS dari Rp 300 ribu menjadi Rp 1 juta dengan jumlah total Rp 50,5 miliar. ”Kami sengaja berikan insentif kepada guru non-PNS Rp 1 juta. Harapan kami, ini bisa memotivasi untuk bekerja lebih baik, meskipun honor ini tidak sebanding dengan pengorbanan yang para guru,” ujarnya.

BANYUWANGI –Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Banyuwangi mendorong anggota PGRI dari kalangan guru honorer, untuk tetap semangat melaksanakan aktivitas dan pengabdian sebagai guru walau gagal mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Pengurus PGRI menyampaikan komitmennya untuk terus berjuang agar guru honorer bisa diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)

Komitmen PGRI itu disampaikan Ketua PGRI Banyuwangi Teguh Sumarno pada upacara Hari Guru di Taman Blambangan, Selasa (13/11). ”Pengurus PGRI terus melakukan langkah-langkah dan pendekatan agar guru honorer bisa diangkat jadi PNS,” kata Teguh.

Keputusan pengangkatan guru honorer menjadi CPNS, kata Teguh, merupakan kewenangan penuh dari pemerintah pusat. Karena itu, PGRI terus melakukan lobi agar guru honorer memiliki kesempatan mengikuti seleksi CPNS. ”Ayo jadikan Hari Guru untuk bisa menghayati peran mereka baik di dunia pendidikan maupun dunia sosial,” ajak Teguh.

Teguh juga mengajak guru honorer untuk terus tersenyum. Sebab, Pemkab Banyuwangi masih memberikan perhatian berupa anggaran untuk guru.

Baca Juga :  Gelar Kejurkab, PSTI Nilai Skill Atlet Sepak Takraw Meningkat Pesat

Perhatian yang diberikan Pemkab Banyuwangi ini hendaknya menjadi penyemangat bagi para guru untuk tetap semangat dalam mengemban tugasnya. ”Peran guru ke depan semakin besar untuk berpartisipasi di dalam dan luar dunia pendidikan kita juga terus mengupayakan nasib kawan-kawan ini, termasuk meminta pemkab menyediakan reward-reward untuk peran guru yang aktif di luar kegiatan sekolah,” tegasnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas terkait tantangan pendidikan ke depan, terutama dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi revolusi industri 4.0. ”Saat ini tantangannya sudah berubah, nilai akademis bagus tapi tidak kreatif maka susah bisa berhasil. Kreativitas perlu ditumbuhkembangkan,” kata Anas.

Anas, di era sekarang ini pendidikan karakter dan akademis saja tidak cukup. Tapi juga perlu penguasaan skill yang relevan dengan tren revolusi industri 4.0. ”Guru SMK bisa memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitarnya untuk mengajari siswanya kreatif,” ujarnya.

Baca Juga :  Polisi Ringkus Pembawa Kabur Motor

mengingatkan tantangan memasuki era revolusi digital. Berdasar kajian Organisasi Buruh Dunia maupun lembaga manajemen global McKinsey, digitalisasi bakal menggerus peluang kerja secara formal. ”Otot-otot terancam diganti kemampuan robotik. Pada 2030, diperkirakan ada 800 juta pekerja diganti robot. Beberapa tahun ke depan secara global juga akan ada alih profesi sampai 375 juta pekerja. Misalnya, sekarang penjaga toko berkurang karena semua belanja online,” kata Anas.

hanya meminta kreatif, dalam kesempatan ini, Anas juga mengapresiasi kerja keras para pendidik ini dengan meningkatkan insentif guru non-PNS dari Rp 300 ribu menjadi Rp 1 juta dengan jumlah total Rp 50,5 miliar. ”Kami sengaja berikan insentif kepada guru non-PNS Rp 1 juta. Harapan kami, ini bisa memotivasi untuk bekerja lebih baik, meskipun honor ini tidak sebanding dengan pengorbanan yang para guru,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/