alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Tatap Muka Terbatas Bisa Dimulai

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Status PPKM Banyuwangi yang turun menjadi Level 3 membuka celah bagi dunia pendidikan. Melalui surat Nomor 421/4113/429.101/2021, Dinas Pendidikan Banyuwangi menerapkan kebijakan yang memungkinkan semua sekolah untuk bisa menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.

Surat yang diterbitkan pada Selasa (10/8) tersebut memberikan kesempatan kepada SD dan SMP untuk menggelar PTM dengan jumlah maksimal siswa 50 persen dari pagu reguler di setiap kelas. Begitu juga untuk jenjang PAUD (TK dan KB) diizinkan memasukkan siswanya maksimal 5 orang dengan pelaksanaan PTM yang sesuai dengan SOP pembelajaran di masa Covid- 19.

Meski sudah diperbolehkan untuk menggelar PTM terbatas, namun sekolah masih dilarang menggelar beberapa kegiatan yang dianggap dapat memicu kerumunan. Seperti kegiatan olahraga, pembukaan kantin sekolah, rapat wali murid, dan upacara bendera.

Kabid SMP Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian mengatakan, secara umum ada beberapa penyesuaian yang dilakukan dalam aturan PTM kali ini dibanding dengan aturan sebelumnya. Bagi sekolah yang akan menggelar PTM harus memastikan semua guru sudah menjalani vaksinasi secara lengkap, baik dosis satu maupun dua.

Sekolah juga diharuskan berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 Kecamatan untuk memastikan peta lingkungan mereka dari penyebaran Covid sebelum membuka PTM. ”Kita harap sekolah tidak buru-buru membuka PTM. Saat ini penyebaran Covid sudah merata. Dengan acuan PPKM Mikro kemarin setidaknya kita bisa melihat pemetaan penyebaran virus sampai tingkat RT. Sekolah harus berkoordinasi dengan kecamatan, termasuk puskesmas dan kelurahan,” ungkapnya,

Alfian menambahkan, yang perlu dipahami dari pembatasan 50 persen dari siswa yang diperbolehkan masuk untuk jenjang SD dan SMP, adalah mengacu standar jumlah rombongan belajar (rombel). SD misalnya, 1 rombel standarnya berisi 28 siswa. Jadi jumlah maksimal siswa yang masuk adalah 14 orang. Kemudian SMP, standar rombelnya adalah 32 siswa. Jadi dalam satu kelas, maksimal hanya 16 siswa yang diperbolehkan masuk.

Untuk PAUD yang standar rombelnya adalah 15 siswa, jika mengacu kepada aturan yaitu maksimal 33 persen yang diperbolehkan masuk. Maka hanya 5 siswa saja yang bisa mengikuti PTM di kelas. Semua sekolah bisa memulai PTM kapan saja karena aturan sudah dikeluarkan, dengan catatan sudah memenuhi semua syarat. ”Kalau kami lihat, kemungkinan paling cepat seminggu setelah surat dikeluarkan. Sekolah juga harus berkoordinasi dengan satgas kecamatan, kemudian kembali meminta surat persetujuan dari orang tua dan komite sekolah,” katanya.

Diungkapkan Alfian, untuk siswa SMP sudah ada 13 ribu siswa yang divaksin. Jumlah itu masih terus bertambah karena vaksinasi masih berlanjut. Dia meminta sekolah untuk berkoordinasi dengan faskes atau puskesmas terdekat agar para siswa yang belum divaksin bisa segera tervaksin. ”Sudah 13 ribu, berarti 30 persen dari siswa SMP di Banyuwangi sudah divaksin,” pungkasnya.

Koordinator Pengawas SD Kecamatan Banyuwangi Momon Suhandoyo menambahkan, digelarnya PTM menjadi kabar yang ditunggu banyak pihak, terutama dari pihak sekolah. Selama ini, pembelajaran daring membuat sekolah kesulitan untuk melihat karakter dan kemampuan siswa secara utuh.

Di sisi lain banyak wali murid tidak ingin anaknya mendapat nilai jelek. Mereka ikut membantu mengerjakan soal-soal yang seharusnya dikerjakan anak didik. Hal tersebut membuat kompetisi antarsiswa menjadi tidak sehat. ”Ini yang akhirnya membuat sekolah tidak bisa melihat kemampuan siswa secara langsung,” pungkasnya

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Status PPKM Banyuwangi yang turun menjadi Level 3 membuka celah bagi dunia pendidikan. Melalui surat Nomor 421/4113/429.101/2021, Dinas Pendidikan Banyuwangi menerapkan kebijakan yang memungkinkan semua sekolah untuk bisa menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.

Surat yang diterbitkan pada Selasa (10/8) tersebut memberikan kesempatan kepada SD dan SMP untuk menggelar PTM dengan jumlah maksimal siswa 50 persen dari pagu reguler di setiap kelas. Begitu juga untuk jenjang PAUD (TK dan KB) diizinkan memasukkan siswanya maksimal 5 orang dengan pelaksanaan PTM yang sesuai dengan SOP pembelajaran di masa Covid- 19.

Meski sudah diperbolehkan untuk menggelar PTM terbatas, namun sekolah masih dilarang menggelar beberapa kegiatan yang dianggap dapat memicu kerumunan. Seperti kegiatan olahraga, pembukaan kantin sekolah, rapat wali murid, dan upacara bendera.

Kabid SMP Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian mengatakan, secara umum ada beberapa penyesuaian yang dilakukan dalam aturan PTM kali ini dibanding dengan aturan sebelumnya. Bagi sekolah yang akan menggelar PTM harus memastikan semua guru sudah menjalani vaksinasi secara lengkap, baik dosis satu maupun dua.

Sekolah juga diharuskan berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 Kecamatan untuk memastikan peta lingkungan mereka dari penyebaran Covid sebelum membuka PTM. ”Kita harap sekolah tidak buru-buru membuka PTM. Saat ini penyebaran Covid sudah merata. Dengan acuan PPKM Mikro kemarin setidaknya kita bisa melihat pemetaan penyebaran virus sampai tingkat RT. Sekolah harus berkoordinasi dengan kecamatan, termasuk puskesmas dan kelurahan,” ungkapnya,

Alfian menambahkan, yang perlu dipahami dari pembatasan 50 persen dari siswa yang diperbolehkan masuk untuk jenjang SD dan SMP, adalah mengacu standar jumlah rombongan belajar (rombel). SD misalnya, 1 rombel standarnya berisi 28 siswa. Jadi jumlah maksimal siswa yang masuk adalah 14 orang. Kemudian SMP, standar rombelnya adalah 32 siswa. Jadi dalam satu kelas, maksimal hanya 16 siswa yang diperbolehkan masuk.

Untuk PAUD yang standar rombelnya adalah 15 siswa, jika mengacu kepada aturan yaitu maksimal 33 persen yang diperbolehkan masuk. Maka hanya 5 siswa saja yang bisa mengikuti PTM di kelas. Semua sekolah bisa memulai PTM kapan saja karena aturan sudah dikeluarkan, dengan catatan sudah memenuhi semua syarat. ”Kalau kami lihat, kemungkinan paling cepat seminggu setelah surat dikeluarkan. Sekolah juga harus berkoordinasi dengan satgas kecamatan, kemudian kembali meminta surat persetujuan dari orang tua dan komite sekolah,” katanya.

Diungkapkan Alfian, untuk siswa SMP sudah ada 13 ribu siswa yang divaksin. Jumlah itu masih terus bertambah karena vaksinasi masih berlanjut. Dia meminta sekolah untuk berkoordinasi dengan faskes atau puskesmas terdekat agar para siswa yang belum divaksin bisa segera tervaksin. ”Sudah 13 ribu, berarti 30 persen dari siswa SMP di Banyuwangi sudah divaksin,” pungkasnya.

Koordinator Pengawas SD Kecamatan Banyuwangi Momon Suhandoyo menambahkan, digelarnya PTM menjadi kabar yang ditunggu banyak pihak, terutama dari pihak sekolah. Selama ini, pembelajaran daring membuat sekolah kesulitan untuk melihat karakter dan kemampuan siswa secara utuh.

Di sisi lain banyak wali murid tidak ingin anaknya mendapat nilai jelek. Mereka ikut membantu mengerjakan soal-soal yang seharusnya dikerjakan anak didik. Hal tersebut membuat kompetisi antarsiswa menjadi tidak sehat. ”Ini yang akhirnya membuat sekolah tidak bisa melihat kemampuan siswa secara langsung,” pungkasnya

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/