alexametrics
22.3 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Untag 1945 Banyuwangi Tingkatkan Daya Saing UMKM

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi –Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi menggandeng Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Banyuwangi melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Tujuannya untuk meningkatkan kualitas produk dan pemberdayaan UMKM. Apa saja yang dilakukan

UMKM terus berkembang pesat seiring dengan meningkatnya pertambahan jumlah wisatawan di Kabupaten Banyuwangi, salah satunya yaitu UMKM Ratu Manis. UMKM yang digandeng dalam program ini memproduksi ladrang telur asin dan ladrang tempong, serta masih ada beragam varian rasa lainnya.

Namun, dalam pelaksanaanya masih ada kendala mulai dari aspek produksi hingga pemasaran. Nah, permasalahan yang diselesaikan dalam program pemberdayaan melalui skema PKM ini adalah dari sisi produksi yaitu fasilitasi mesin penipis dan pencetak adonan skala industri. Dari sisi manajemen usaha dan pemasaran yaitu dengan menggelar pelatihan dan pendampingan manajemen kualitas produksi, pelatihan dan pendampingan sistem pemasaran online (digital marketing, content marketing online dan calender content marketing online, serta website pemasaran produk).

Dengan program PKM tersebut, UMKM di Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro ini difasilitasi mesin penipis dan pencetak adonan skala industri. Bagaimana perkembangannya? Ternyata kapasitas produksi bisa meningkat tiga kali lipat menjadi 50 kg.

Sementara itu, program kerja sama yang dilakukan Untag tidak hanya pada produksi, tetapi juga pemasaran. Apalagi seiring perkembangan, teknologi selayaknya dimanfaatkan dalam sektor ekonomi digital sekarang. Pengetahuan tentang digital marketing diperlukan untuk meningkatkan jumlah penjualan produk ladrang. Salah satunya melalui akun media sosial maupun market place yang sudah ada melalui program yang umum disebut sebagai e-commerce aggregator.

Ketua Program PKM Untag Harliwanti Prisilia ST MT mengatakan, PKM merupakan program kerja sama antara Untag dengan Kementerian Riset Teknologi/BRIN melalui Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan. ”Program Kemitraan Masyarakat bermanfaat untuk meningkatkan daya saing UMKM dengan peningkatan kualitas dan produktivitas produksi melalui fasilitasi teknologi tepat guna mesin penipis dan pencetak adonan skala industri, pelatihan, dan pendampingan,” terangnya.

Melalui kegiatan PKM pada UMKM Ratu Manis dengan produk ladrang, lanjut dosen Fakultas Teknik Untag yang akrab disapa Nenis itu, dapat dilihat peningkatan pada UMKM tersebut. Di antaranya, peningkatan pemahaman dan keterampilan mulai dari mengidentifikasi produk cacat, membuat peta kontrol, sampai membuat fishbone diagram untuk mencari akar permasalahan yang menyebabkan kecacatan pada produk. 

Selain itu, peningkatan kualitas hasil ladrang yang dihasilkan dengan peningkatan kapasitas produksi mencapai 50 kg. Tidak tanggung-tanggung, meningkat tiga kali lipat. ”Kemudian, pengurangan jumlah produk cacat 2 sampai 3 persen dari total produksi yang sebelumnya dilakukan,” ungkap Nenis.

Sementara itu, menurut Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kerja Sama Untag Banyuwangi Dr Herdiana Dyah Susanti ST MT mengapresiasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan, sebagai mitra program PKM diharapkan mampu bersaing di era revolusi industri 4.0 melalui pelatihan dan pendampingan. Itulah peran perguruan tinggi yang harus selalu dilakukan untuk turut berpartisipasi dalam mengembangkan produk-produk lokal suatu daerah. ”Besar harapan, program ini dapat berkelanjutan dan bermanfaat dalam skala yang lebih luas,” harapnya.

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi –Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi menggandeng Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Banyuwangi melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Tujuannya untuk meningkatkan kualitas produk dan pemberdayaan UMKM. Apa saja yang dilakukan

UMKM terus berkembang pesat seiring dengan meningkatnya pertambahan jumlah wisatawan di Kabupaten Banyuwangi, salah satunya yaitu UMKM Ratu Manis. UMKM yang digandeng dalam program ini memproduksi ladrang telur asin dan ladrang tempong, serta masih ada beragam varian rasa lainnya.

Namun, dalam pelaksanaanya masih ada kendala mulai dari aspek produksi hingga pemasaran. Nah, permasalahan yang diselesaikan dalam program pemberdayaan melalui skema PKM ini adalah dari sisi produksi yaitu fasilitasi mesin penipis dan pencetak adonan skala industri. Dari sisi manajemen usaha dan pemasaran yaitu dengan menggelar pelatihan dan pendampingan manajemen kualitas produksi, pelatihan dan pendampingan sistem pemasaran online (digital marketing, content marketing online dan calender content marketing online, serta website pemasaran produk).

Dengan program PKM tersebut, UMKM di Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro ini difasilitasi mesin penipis dan pencetak adonan skala industri. Bagaimana perkembangannya? Ternyata kapasitas produksi bisa meningkat tiga kali lipat menjadi 50 kg.

Sementara itu, program kerja sama yang dilakukan Untag tidak hanya pada produksi, tetapi juga pemasaran. Apalagi seiring perkembangan, teknologi selayaknya dimanfaatkan dalam sektor ekonomi digital sekarang. Pengetahuan tentang digital marketing diperlukan untuk meningkatkan jumlah penjualan produk ladrang. Salah satunya melalui akun media sosial maupun market place yang sudah ada melalui program yang umum disebut sebagai e-commerce aggregator.

Ketua Program PKM Untag Harliwanti Prisilia ST MT mengatakan, PKM merupakan program kerja sama antara Untag dengan Kementerian Riset Teknologi/BRIN melalui Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan. ”Program Kemitraan Masyarakat bermanfaat untuk meningkatkan daya saing UMKM dengan peningkatan kualitas dan produktivitas produksi melalui fasilitasi teknologi tepat guna mesin penipis dan pencetak adonan skala industri, pelatihan, dan pendampingan,” terangnya.

Melalui kegiatan PKM pada UMKM Ratu Manis dengan produk ladrang, lanjut dosen Fakultas Teknik Untag yang akrab disapa Nenis itu, dapat dilihat peningkatan pada UMKM tersebut. Di antaranya, peningkatan pemahaman dan keterampilan mulai dari mengidentifikasi produk cacat, membuat peta kontrol, sampai membuat fishbone diagram untuk mencari akar permasalahan yang menyebabkan kecacatan pada produk. 

Selain itu, peningkatan kualitas hasil ladrang yang dihasilkan dengan peningkatan kapasitas produksi mencapai 50 kg. Tidak tanggung-tanggung, meningkat tiga kali lipat. ”Kemudian, pengurangan jumlah produk cacat 2 sampai 3 persen dari total produksi yang sebelumnya dilakukan,” ungkap Nenis.

Sementara itu, menurut Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kerja Sama Untag Banyuwangi Dr Herdiana Dyah Susanti ST MT mengapresiasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan, sebagai mitra program PKM diharapkan mampu bersaing di era revolusi industri 4.0 melalui pelatihan dan pendampingan. Itulah peran perguruan tinggi yang harus selalu dilakukan untuk turut berpartisipasi dalam mengembangkan produk-produk lokal suatu daerah. ”Besar harapan, program ini dapat berkelanjutan dan bermanfaat dalam skala yang lebih luas,” harapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/