alexametrics
24.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Putus Sekolah, Kini Kuliah Sembari Mondok

TEGALSARI – Tak mudah menyerah. Putus sekolah bukan alasan untuk ”berhenti” berjuang menggapai masa depan yang lebih baik. Itulah yang dilakoni Moh. Hasyim As’ari, 19, warga Dusun Krajan, Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

Cerita bermula saat Hasyim drop out dari SMAN 1 Muncar di tahun 2019 lalu. Tepatnya saat dirinya masih kelas 10 SMA. Dia mengaku terpaksa berhenti dari sekolah formal lantaran terkendala biaya. Sebab, kala itu sang ayah yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dan kuli bangunan sudah tak kuat lagi bekerja karena faktor usia.

Namun, dia tidak begitu saja menyerah pada keadaan. Jalan lain pun dia tempuh untuk melanjutkan studinya. Pemuda kelahiran 19 Februari 2002 ini lantas memilih menempuh pendidikan Kejar Paket ”C” di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mandiri Sejahtera, di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar.

Alhasil, dia berhasil menuntaskan pendidikan kesetaraan setingkat SMA tersebut tahun ini. Namun tak puas hanya ”bermodal” ijazah setara SMA, dia bertekad melanjutkan pendidikan hingga menjadi sarjana.

Kebetulan, Pemkab Banyuwangi menyiapkan akses pendidikan tinggi gratis bagi anak-anak muda kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. Yakni melalui Program ”Banyuwangi Cerdas”.

Hasyim pun memanfaatkan peluang tersebut dengan mendaftarkan diri sebagai calon peserta program Banyuwangi Cerdas. ”Alhamdulillah, saya diterima sebagai salah satu peserta,” ujarnya.

Berkat program Banyuwangi Cerdas itulah Hasyim bisa melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan tinggi. Dia kini tercatat sebagai mahasiswa semester satu Universitas Terbuka (UT) Jember. Dia menjalani studi di UT Jember Kelompok Kerja (Pokja) Pondok Pesantren (Ponpes) Mabadiul Ihsan, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. ”Jadi, selain kuliah, saya juga mondok agar mendapatkan bekal ilmu agama,” kata dia.

Hasyim mengatakan, kuliah merupakan salah satu upaya yang dia tempuh untuk membahagiakan kedua orang tuanya. ”Tujuan kami kuliah adalah untuk mencari ilmu dan bisa membuat orang tua bangga. Saya dari keluarga tidak mampu. Saya Ingin membahagiakan orang tua. Saya ingin memberangkatkan kedua orang tua saya ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji,” ujar pemuda yang bercita-cita menjadi pengusaha tersebut.

Selain itu, Hasyim mengaku dirinya ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa anak tidak mampu seperti dirinya pun bisa berhasil. ”Sehingga anak-anak tidak mampu tidak mudah menyerah dan termotivasi untuk menggapai masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. 

TEGALSARI – Tak mudah menyerah. Putus sekolah bukan alasan untuk ”berhenti” berjuang menggapai masa depan yang lebih baik. Itulah yang dilakoni Moh. Hasyim As’ari, 19, warga Dusun Krajan, Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

Cerita bermula saat Hasyim drop out dari SMAN 1 Muncar di tahun 2019 lalu. Tepatnya saat dirinya masih kelas 10 SMA. Dia mengaku terpaksa berhenti dari sekolah formal lantaran terkendala biaya. Sebab, kala itu sang ayah yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani dan kuli bangunan sudah tak kuat lagi bekerja karena faktor usia.

Namun, dia tidak begitu saja menyerah pada keadaan. Jalan lain pun dia tempuh untuk melanjutkan studinya. Pemuda kelahiran 19 Februari 2002 ini lantas memilih menempuh pendidikan Kejar Paket ”C” di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mandiri Sejahtera, di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar.

Alhasil, dia berhasil menuntaskan pendidikan kesetaraan setingkat SMA tersebut tahun ini. Namun tak puas hanya ”bermodal” ijazah setara SMA, dia bertekad melanjutkan pendidikan hingga menjadi sarjana.

Kebetulan, Pemkab Banyuwangi menyiapkan akses pendidikan tinggi gratis bagi anak-anak muda kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. Yakni melalui Program ”Banyuwangi Cerdas”.

Hasyim pun memanfaatkan peluang tersebut dengan mendaftarkan diri sebagai calon peserta program Banyuwangi Cerdas. ”Alhamdulillah, saya diterima sebagai salah satu peserta,” ujarnya.

Berkat program Banyuwangi Cerdas itulah Hasyim bisa melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan tinggi. Dia kini tercatat sebagai mahasiswa semester satu Universitas Terbuka (UT) Jember. Dia menjalani studi di UT Jember Kelompok Kerja (Pokja) Pondok Pesantren (Ponpes) Mabadiul Ihsan, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. ”Jadi, selain kuliah, saya juga mondok agar mendapatkan bekal ilmu agama,” kata dia.

Hasyim mengatakan, kuliah merupakan salah satu upaya yang dia tempuh untuk membahagiakan kedua orang tuanya. ”Tujuan kami kuliah adalah untuk mencari ilmu dan bisa membuat orang tua bangga. Saya dari keluarga tidak mampu. Saya Ingin membahagiakan orang tua. Saya ingin memberangkatkan kedua orang tua saya ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji,” ujar pemuda yang bercita-cita menjadi pengusaha tersebut.

Selain itu, Hasyim mengaku dirinya ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa anak tidak mampu seperti dirinya pun bisa berhasil. ”Sehingga anak-anak tidak mampu tidak mudah menyerah dan termotivasi untuk menggapai masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/