alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

19 Gudep Adu Skill Pioneering

BANYUWANGI – Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Banyuwangi Kak Yusuf Widyatmoko membuka acara Pioneering Competition 2 dalam rangkaian Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Fiesta 2018, kemarin pagi (10/2). Lomba tersebut diikuti 19 gugus depan (gudep) dan setiap gudep beranggota delapan personel Pramuka.

Kegiatan yang mengangkat tema ”Memperkokoh Gotong-Royong dan Toleransi Calon Pemimpin Bangsa” itu diselenggarakan oleh Racana Gajah Mada-Tribuana Tunggadewi Untag Banyuwangi. Acara dibuka dengan upacara di halaman kampus Untag, yang dipimpin oleh Kak Yusuf mulai pukul 08.00. Hadir dalam upacara tersebut, Rektor Untag Drs Andang Subaharianto MHum, Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiyono, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yatmadi, Kepala Bappeda Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, Camat Banyuwangi Yusdi Irawan, serta jajaran Kwarcab Drh Budiyanto, dan Kak Yos Sumiatna.

Baca Juga :  Pembelajaran Tatap Muka Bisa Cegah Stres dan Learning Loss

Dalam sambutan upacara, Kak Yusuf mengatakan, pentingnya gerakan Pramuka yang bertujuan membentuk kaum muda berkarakter. Selain itu, bertujuan menanamkan semangat kebangsaan. ”Juga membekali keterampilan yang kelak untuk bekal hidup,” ujar Wakil Bupati Banyuwangi itu.

Dalam Pionering Competition 2 dalam Untag Fiesta 2018, lanjut dia, tentunya ada penekanan. Pioneering adalah seni merangkai tongkat dan tali menjadi sebuah bangunan. Setiap regu akan membuat kerangka bambu untuk bisa dibuat bermacam bangunan. ”Untuk mencapai hasil yang sempurna perlu kerja sama, keterampilan tali-temali, pengaturan waktu, dan memanfaatkan bahan yang cermat,” terangnya.

Ditegaskan, penilaian bukan pada hasil karya. Tetapi dimulai saat proses pembuatan. Karya pioneering yang baik, harus kokoh, menggunakan simpul dan tali yang benar, bernilai seni, dan bermanfaat. ”Misalkan bisa dinaiki untuk jembatan, ayunan, dan lain-lain,” imbuhnya.

Baca Juga :  Keren! Poliwangi Membuat 3D Virtual Tour Berbasis Website

Di zaman now, kata Yusuf, pioneering diperlukan di wilayah gempa. Sebab, bangunan batu dan semen tidak bisa diandalkan atau tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. ”Di wilayah gempa, pioneering sangatlah ampuh,” tandasnya.

BANYUWANGI – Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Banyuwangi Kak Yusuf Widyatmoko membuka acara Pioneering Competition 2 dalam rangkaian Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Fiesta 2018, kemarin pagi (10/2). Lomba tersebut diikuti 19 gugus depan (gudep) dan setiap gudep beranggota delapan personel Pramuka.

Kegiatan yang mengangkat tema ”Memperkokoh Gotong-Royong dan Toleransi Calon Pemimpin Bangsa” itu diselenggarakan oleh Racana Gajah Mada-Tribuana Tunggadewi Untag Banyuwangi. Acara dibuka dengan upacara di halaman kampus Untag, yang dipimpin oleh Kak Yusuf mulai pukul 08.00. Hadir dalam upacara tersebut, Rektor Untag Drs Andang Subaharianto MHum, Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiyono, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yatmadi, Kepala Bappeda Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, Camat Banyuwangi Yusdi Irawan, serta jajaran Kwarcab Drh Budiyanto, dan Kak Yos Sumiatna.

Baca Juga :  SDN 2 Lemahbang Kulon Raih Sinden Terbaik

Dalam sambutan upacara, Kak Yusuf mengatakan, pentingnya gerakan Pramuka yang bertujuan membentuk kaum muda berkarakter. Selain itu, bertujuan menanamkan semangat kebangsaan. ”Juga membekali keterampilan yang kelak untuk bekal hidup,” ujar Wakil Bupati Banyuwangi itu.

Dalam Pionering Competition 2 dalam Untag Fiesta 2018, lanjut dia, tentunya ada penekanan. Pioneering adalah seni merangkai tongkat dan tali menjadi sebuah bangunan. Setiap regu akan membuat kerangka bambu untuk bisa dibuat bermacam bangunan. ”Untuk mencapai hasil yang sempurna perlu kerja sama, keterampilan tali-temali, pengaturan waktu, dan memanfaatkan bahan yang cermat,” terangnya.

Ditegaskan, penilaian bukan pada hasil karya. Tetapi dimulai saat proses pembuatan. Karya pioneering yang baik, harus kokoh, menggunakan simpul dan tali yang benar, bernilai seni, dan bermanfaat. ”Misalkan bisa dinaiki untuk jembatan, ayunan, dan lain-lain,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kadispendik: PTMT Bukan karena Omicron Masuk Banyuwangi

Di zaman now, kata Yusuf, pioneering diperlukan di wilayah gempa. Sebab, bangunan batu dan semen tidak bisa diandalkan atau tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. ”Di wilayah gempa, pioneering sangatlah ampuh,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/