alexametrics
25 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Produksi Perkusi, Latih Santri Berwirausaha

CLURING – Kegiatan santri di samping belajar dan mengkaji khasanah keilmuan Islam serta peribadahan, juga identik dengan kesenian bernafas Islam, seperti hadrah. Tradisi inilah yang ditangkap pengurus Pondok Pesantren Baitussalam Dusun Simbar 2, Desa Tampo, Kecamatan Cluring. Hampir lima tahun ini, santri yang biasa mengikuti  kegiatan seni hadrah dilibatkan langsung dalam proses produksi.

Tidak hanya mahir menggebuk kulit rebana, santri-santri yang terlibat usaha ini juga dituntut mampu membuat alat musik perkusi ini. Pembagiannya mulai dari pembuatan ukiran, penyiapan kulit hingga finishing.

Kegiatan wirausaha ini dipandu oleh Adam Ali Mansur, salah satu putra pengasuh pesantren, KH. Soheh Mansur. Berbagai tipe perkusi bisa diproduksi di tempat ini. Secara gaya, mereka mengikuti proses produksi model Jepara, Jawa Tengah. “Bentuk hadrah menyesuaikan,” terangnya.

Sementara itu, proses marketing yang dibangun di tempat ini mengikuti pola made by order. Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan ketersediaan bahan baku berupa kayu nangka dan mahoni yang mulai sulit didapatkan. Kendati demikian, setiap hari proses prosuksi selalu ada, namun tidak dalam skala besar. Saat ini, pesanan yang paling banyak dari Jawa. Namun, beberapa kali pesanan dari luar Jawa juga ada. “Kita pernah kirim ke Papua, yang banyak ya daerah sini saja,” ucap Gus Adam kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Tidak hanya rebana atau jimbe untuk kebutuhan hadrah, kendang-kendang ukuran jumbo untuk kelengkapan gamelan Reog juga mereka produksi. Selain itu, baru-baru ini mereka juag memproduksi seruling. “Kita macam-macam ya, kalau ini Banjari, yang itu habsy,” ucapnya sembari menunjukkan seperangkat perkusi.

Pelibatan santri dalam produksi alat kesenian ini tidak semata-mata demi mencari uang. Keterampilan ini nanti saat dibawa pulang bisa menjadi medium antara santri dengan masayarakat luas. Karena, medan dakwah tidak hanya masyarakat yang sejak awal memahami dan mengerti ilmu agama. Mendekatkan agama kepada masyarakat dengan cara yang menyenangkan merupakan cara yang dicontohkan pada pendahulu. Baik di era Rasullullah SAW maupun di era akulturasi Islam ke Tanah Jawa.

“Kalau masyarakat yang kita dekati merasa senang dengan ini (musik), tentu dakwah dan ajakan kebaikan akan lebih mudah. Kita contoh Walisongo,” ucap Gus Fikri, kakak Gus Adam.

CLURING – Kegiatan santri di samping belajar dan mengkaji khasanah keilmuan Islam serta peribadahan, juga identik dengan kesenian bernafas Islam, seperti hadrah. Tradisi inilah yang ditangkap pengurus Pondok Pesantren Baitussalam Dusun Simbar 2, Desa Tampo, Kecamatan Cluring. Hampir lima tahun ini, santri yang biasa mengikuti  kegiatan seni hadrah dilibatkan langsung dalam proses produksi.

Tidak hanya mahir menggebuk kulit rebana, santri-santri yang terlibat usaha ini juga dituntut mampu membuat alat musik perkusi ini. Pembagiannya mulai dari pembuatan ukiran, penyiapan kulit hingga finishing.

Kegiatan wirausaha ini dipandu oleh Adam Ali Mansur, salah satu putra pengasuh pesantren, KH. Soheh Mansur. Berbagai tipe perkusi bisa diproduksi di tempat ini. Secara gaya, mereka mengikuti proses produksi model Jepara, Jawa Tengah. “Bentuk hadrah menyesuaikan,” terangnya.

Sementara itu, proses marketing yang dibangun di tempat ini mengikuti pola made by order. Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan ketersediaan bahan baku berupa kayu nangka dan mahoni yang mulai sulit didapatkan. Kendati demikian, setiap hari proses prosuksi selalu ada, namun tidak dalam skala besar. Saat ini, pesanan yang paling banyak dari Jawa. Namun, beberapa kali pesanan dari luar Jawa juga ada. “Kita pernah kirim ke Papua, yang banyak ya daerah sini saja,” ucap Gus Adam kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Tidak hanya rebana atau jimbe untuk kebutuhan hadrah, kendang-kendang ukuran jumbo untuk kelengkapan gamelan Reog juga mereka produksi. Selain itu, baru-baru ini mereka juag memproduksi seruling. “Kita macam-macam ya, kalau ini Banjari, yang itu habsy,” ucapnya sembari menunjukkan seperangkat perkusi.

Pelibatan santri dalam produksi alat kesenian ini tidak semata-mata demi mencari uang. Keterampilan ini nanti saat dibawa pulang bisa menjadi medium antara santri dengan masayarakat luas. Karena, medan dakwah tidak hanya masyarakat yang sejak awal memahami dan mengerti ilmu agama. Mendekatkan agama kepada masyarakat dengan cara yang menyenangkan merupakan cara yang dicontohkan pada pendahulu. Baik di era Rasullullah SAW maupun di era akulturasi Islam ke Tanah Jawa.

“Kalau masyarakat yang kita dekati merasa senang dengan ini (musik), tentu dakwah dan ajakan kebaikan akan lebih mudah. Kita contoh Walisongo,” ucap Gus Fikri, kakak Gus Adam.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/