alexametrics
25.2 C
Banyuwangi
Saturday, September 24, 2022

Ipuk Ajak Gotong-royong Entas Anak Putus Sekolah

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi Di Banyuwangi tidak boleh ada anak putus sekolah. Tak boleh juga ada anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Terutama karena faktor kesulitan ekonomi.

Hal itu kembali ditegaskan Bupati Ipuk Fiestiandani Jumat (5/8). Bupati yang menjabat sejak 26 Februari 2021 tersebut pemkab akan terus menyisir warga yang membutuhkan penanganan berkaitan kasus putus sekolah.

Ipuk meminta para camat dan lurah atau kepala desa (kades) untuk terus membantu anak-anak yang terpaksa putus sekolah, terutama yang diakibatkan masalah ekonomi. “Pemkab Banyuwangi sudah berkomitmen bahwa tidak boleh ada anak putus sekolah. Masalah ini sudah ada solusinya. Kalau ada warga yang terpaksa berhenti sekolah karena masalah ekonomi, silakan lapor ke Dinas Pendidikan (Dispendik),” ujarnya.

Sekadar diketahui, Jumat lalu Ipuk berjalan kaki dari kantor Pemkab Banyuwangi menuju kediaman perempuan single parent yang hidup bersama empat anaknya di Kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi, yakni Titin, 45. “Sebagai seorang single parent setelah sang suami meninggal dunia, Bu Titin sungguh luar biasa. Bekerja menjual nasi bungkus. Doa dan pengorbanan tiada putus. Kita gotong royong untuk bantu pendidikan putra-putri beliau,” kata Ipuk dalam unggahan akun media sosialnya Sabtu (6/8).

Baca Juga :  Psikologi UMM Inisiasi Pendampingan Lanjutan Sekolah ADEM

Anak pertama Titin, yakni Muhammad Afandi, 22, dan akan keduanya yang berinisial BK, 17, putus sekolah masing-masing ketika menginjak jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/sederajat. Sementara Salsa, 8 belum sekolah, dan A, yang berusia 1 tahun perlu mendapat asupan gizi yang cukup.

Bupati Ipuk langsung menginstruksikan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Suratno untuk membantu tiga anak Bu Titin melanjutkan sekolah. “Pak Suratno, ini langsung ditangani ya. Pokoknya anak-anak ini harus bisa kembali melanjutkan pendidikan dan mendapatkan ijazah,” pintanya.

Apalagi, kata Ipuk, saat dia tanya, anak-anak Titin masih bersemangat untuk sekolah. “Nanti Bagas dan “A” ikut kejar paket, dan “S” harus melanjutkan SD. Kami akan terus sisir warga yang membutuhkan penanganan semacam ini,” tuturnya.

Baca Juga :  Smagi Luncurkan Program SMA Taruna Bangsa

Ipuk pun meminta para camat dan lurah atau kades untuk terus membantu anak-anak yang terpaksa putus sekolah, terutama yang diakibatkan masalah ekonomi. “Pemkab Banyuwangi sudah berkomitmen bahwa tidak boleh ada anak putus sekolah. Masalah ini sudah ada solusinya. Kalau ada warga yang terpaksa berhenti sekolah karena masalah ekonomi, silakan lapor ke Dinas Pendidikan,” pungkasnya. (sgt/aif)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi Di Banyuwangi tidak boleh ada anak putus sekolah. Tak boleh juga ada anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Terutama karena faktor kesulitan ekonomi.

Hal itu kembali ditegaskan Bupati Ipuk Fiestiandani Jumat (5/8). Bupati yang menjabat sejak 26 Februari 2021 tersebut pemkab akan terus menyisir warga yang membutuhkan penanganan berkaitan kasus putus sekolah.

Ipuk meminta para camat dan lurah atau kepala desa (kades) untuk terus membantu anak-anak yang terpaksa putus sekolah, terutama yang diakibatkan masalah ekonomi. “Pemkab Banyuwangi sudah berkomitmen bahwa tidak boleh ada anak putus sekolah. Masalah ini sudah ada solusinya. Kalau ada warga yang terpaksa berhenti sekolah karena masalah ekonomi, silakan lapor ke Dinas Pendidikan (Dispendik),” ujarnya.

Sekadar diketahui, Jumat lalu Ipuk berjalan kaki dari kantor Pemkab Banyuwangi menuju kediaman perempuan single parent yang hidup bersama empat anaknya di Kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Banyuwangi, yakni Titin, 45. “Sebagai seorang single parent setelah sang suami meninggal dunia, Bu Titin sungguh luar biasa. Bekerja menjual nasi bungkus. Doa dan pengorbanan tiada putus. Kita gotong royong untuk bantu pendidikan putra-putri beliau,” kata Ipuk dalam unggahan akun media sosialnya Sabtu (6/8).

Baca Juga :  Psikologi UMM Inisiasi Pendampingan Lanjutan Sekolah ADEM

Anak pertama Titin, yakni Muhammad Afandi, 22, dan akan keduanya yang berinisial BK, 17, putus sekolah masing-masing ketika menginjak jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/sederajat. Sementara Salsa, 8 belum sekolah, dan A, yang berusia 1 tahun perlu mendapat asupan gizi yang cukup.

Bupati Ipuk langsung menginstruksikan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Suratno untuk membantu tiga anak Bu Titin melanjutkan sekolah. “Pak Suratno, ini langsung ditangani ya. Pokoknya anak-anak ini harus bisa kembali melanjutkan pendidikan dan mendapatkan ijazah,” pintanya.

Apalagi, kata Ipuk, saat dia tanya, anak-anak Titin masih bersemangat untuk sekolah. “Nanti Bagas dan “A” ikut kejar paket, dan “S” harus melanjutkan SD. Kami akan terus sisir warga yang membutuhkan penanganan semacam ini,” tuturnya.

Baca Juga :  Soal Try Out Sesuai Kisi-Kisi USBN 2018

Ipuk pun meminta para camat dan lurah atau kades untuk terus membantu anak-anak yang terpaksa putus sekolah, terutama yang diakibatkan masalah ekonomi. “Pemkab Banyuwangi sudah berkomitmen bahwa tidak boleh ada anak putus sekolah. Masalah ini sudah ada solusinya. Kalau ada warga yang terpaksa berhenti sekolah karena masalah ekonomi, silakan lapor ke Dinas Pendidikan,” pungkasnya. (sgt/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/