alexametrics
27.3 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Warga Diminta Matikan TV, Radio, dan HP Selepas Magrib

SINGOJURUH – Warga Nadhliyin di Banyuwangi diminta untuk mematikan televisi, radio, dan handphone selepas salat mahgrib hingg isyak dan lebih banyak melakukan kegiatan ibadah dengan memakmurkan masjid dan musala.

Demikian isi salah satu rekomendasi hasil Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II yang dibahas dan diberikan oleh jajaran Rais Syuriyah Pengruus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi yang digelar di Pondok Pesantren Manba’ul Falah Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (5/12).

Katib Syuriyah PCNU Banyuwangi Kiai Sunandi Zubaidi mengatakan, berdasarkan rekomendasi yang disampaikan jajaran rais syuriyah PCNU bersama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di antara waktu selepas magrib sampai Isya diupayakan warga jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) memakmurkan masjid dan musala dengan membaca tahlil, istighotsah, selawat dan gerakan batiniah lainnya.

“Sebisa mungkin kegiatan seperti hajatan pernikahan, khitanan dan lainnya tidak membunyikan sound sistem hingga waktu salat isya’.Kecuali walimahan, itupun dengan volume yang tidak terlalu keras,” ujar lelaki yang akrab disapa Gus Nandi ini.

Guru-guru ngaji di musala dan masjid yang biasanya mengajar santri mengaji selepas salat ashar, juga diminta untuk tidak menghilangi tradisi mengajar ngaji selepas salat magrib sampai masuk waktu salat isya’. “Karena yang keramat warisan guru-guru tempo dulu ngajinya setelah salat maghrib sampai waktu isyak, tradisi kuno ini jangan sampai hilang dan ini harus dirawat,” tegas lelaki pengasuh pondok pesantren Al Kalam, Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari ini.

Rekomendasi lainnya adalah warga NU diimbau  melaksanakan gerakan belanja di bolone dewe atau belanja di tetangga sendiri yang sama-sama warga nahdliyin. Hal itu, kata Sunandi, sebagai upaya untuk menggerakkan semangat gotong royong, peduli, sinergi, kaloborasi dalam hal membangkitkan ekonomi kerakyatan.

Rekomendasi selanjutnya, dalam pembinaan kelompok masyarakat tertentu atau rentan, dengan kerjasama denan Dinas Sosial dan Kementerian Agama untuk menyelenggarakan pembinaan kepada wanita pekerja seks (WPS) dan warga binaan pemasyarakat di Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi.

Yang tak kalah penting, lanjut Sunandi, PCNU juga meminta instansi terkait agar memperketat penerimaan tamu di hotel, homestay, rumah kos bagi pasangan suami istri tentu dengan menunjukkan kartu nikah sebagai salah satu syarat bermalam di hotel, homestay. “Keberadaan radio karaoke yang masih menjamur di Banyuwangi juga harus diperhatikan oleh instansi terkait termasuk pemerintah desa, karena masih ditemukan radio karaoke yang beroperasi hingga larut malam dan menjadi ajang pertemuan yang mengarah pada sarana perselingkuhan,” terangnya.

Dalam rekomendasi lainnya, PCNU Banyuwangi juga berharap kepada instansi terakit agar ada pemeriksaan antinarkoba bagi calon pengantin, calon siswa dan santri baru dalam rangka pencegahan dan pemberantasan narkoba di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. “Kami juga minta agar warga NU lebih selektif memilih mubaligh dalam setiap kegiatan pengajian sebagai upaya menangkal masuknya paham radikalisme di Banyuwangi,” tandas Sunandi.

SINGOJURUH – Warga Nadhliyin di Banyuwangi diminta untuk mematikan televisi, radio, dan handphone selepas salat mahgrib hingg isyak dan lebih banyak melakukan kegiatan ibadah dengan memakmurkan masjid dan musala.

Demikian isi salah satu rekomendasi hasil Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II yang dibahas dan diberikan oleh jajaran Rais Syuriyah Pengruus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi yang digelar di Pondok Pesantren Manba’ul Falah Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (5/12).

Katib Syuriyah PCNU Banyuwangi Kiai Sunandi Zubaidi mengatakan, berdasarkan rekomendasi yang disampaikan jajaran rais syuriyah PCNU bersama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di antara waktu selepas magrib sampai Isya diupayakan warga jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) memakmurkan masjid dan musala dengan membaca tahlil, istighotsah, selawat dan gerakan batiniah lainnya.

“Sebisa mungkin kegiatan seperti hajatan pernikahan, khitanan dan lainnya tidak membunyikan sound sistem hingga waktu salat isya’.Kecuali walimahan, itupun dengan volume yang tidak terlalu keras,” ujar lelaki yang akrab disapa Gus Nandi ini.

Guru-guru ngaji di musala dan masjid yang biasanya mengajar santri mengaji selepas salat ashar, juga diminta untuk tidak menghilangi tradisi mengajar ngaji selepas salat magrib sampai masuk waktu salat isya’. “Karena yang keramat warisan guru-guru tempo dulu ngajinya setelah salat maghrib sampai waktu isyak, tradisi kuno ini jangan sampai hilang dan ini harus dirawat,” tegas lelaki pengasuh pondok pesantren Al Kalam, Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari ini.

Rekomendasi lainnya adalah warga NU diimbau  melaksanakan gerakan belanja di bolone dewe atau belanja di tetangga sendiri yang sama-sama warga nahdliyin. Hal itu, kata Sunandi, sebagai upaya untuk menggerakkan semangat gotong royong, peduli, sinergi, kaloborasi dalam hal membangkitkan ekonomi kerakyatan.

Rekomendasi selanjutnya, dalam pembinaan kelompok masyarakat tertentu atau rentan, dengan kerjasama denan Dinas Sosial dan Kementerian Agama untuk menyelenggarakan pembinaan kepada wanita pekerja seks (WPS) dan warga binaan pemasyarakat di Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi.

Yang tak kalah penting, lanjut Sunandi, PCNU juga meminta instansi terkait agar memperketat penerimaan tamu di hotel, homestay, rumah kos bagi pasangan suami istri tentu dengan menunjukkan kartu nikah sebagai salah satu syarat bermalam di hotel, homestay. “Keberadaan radio karaoke yang masih menjamur di Banyuwangi juga harus diperhatikan oleh instansi terkait termasuk pemerintah desa, karena masih ditemukan radio karaoke yang beroperasi hingga larut malam dan menjadi ajang pertemuan yang mengarah pada sarana perselingkuhan,” terangnya.

Dalam rekomendasi lainnya, PCNU Banyuwangi juga berharap kepada instansi terakit agar ada pemeriksaan antinarkoba bagi calon pengantin, calon siswa dan santri baru dalam rangka pencegahan dan pemberantasan narkoba di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. “Kami juga minta agar warga NU lebih selektif memilih mubaligh dalam setiap kegiatan pengajian sebagai upaya menangkal masuknya paham radikalisme di Banyuwangi,” tandas Sunandi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/